Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Juni 2024 | 01.22 WIB

Mengenang Kembali Tragedi Arapagani, Sebuah Tragedi Pilu yang Tak Perlu Terulang Kembali

PILU: Tragedi Arema Kanjuruhan saat dipenuhi gas air mata. (JawaPos) - Image

PILU: Tragedi Arema Kanjuruhan saat dipenuhi gas air mata. (JawaPos)

JawaPos.com — Sepuluh tahun telah berlalu sejak kejadian yang masih menghantui ingatan para penggemar sepak bola Surabaya. Tragedi yang dikenal dengan sebutan "Arogansi Aparat Tiga Juni" atau yang lebih dikenal sebagai Tragedi Arapagani, merenggut satu nyawa dan meninggalkan luka yang mendalam dalam sejarah pertandingan sepak bola Indonesia.

Memori pahit itu kembali terungkap melalui sebuah pengingat dari akun Instagram @persebayafans.27 yang berbagi tentang kejadian tragis tersebut.

"MENGENANG TRAGEDI ARAPAGANI! (Arogansi Aparat Tiga Juni) Mengenang tidak untuk diulang! Al-Fatihah buat Alm Purwo Adi Utomo"

Peristiwa tragis itu terjadi pada 3 Juni 2012, di Stadion Gelora 10 November, Surabaya, setelah pertandingan antara Persebaya 1927 dan Persija IPL dalam kompetisi Liga Primer Indonesia. Bentrokan antara suporter Persebaya dan aparat kepolisian menjadi puncak ketegangan yang sudah membara sepanjang pertandingan.

Ketegangan memuncak saat polisi membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata ke arah tribun. Suporter yang panik berebut keluar, menciptakan kerumunan yang tak terkendali. Dalam situasi kekacauan itu, satu korban tewas.

Purwo Adi Utomo, seorang penggemar sepak bola yang hadir untuk mendukung timnya, meninggal setelah terinjak-injak oleh kerumunan yang panik. Tragedi ini, yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Arapagani, menorehkan luka yang mendalam dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Salah satu saksi hidup dari peristiwa itu adalah Rendi Irwan, salah satu penggawa Persebaya 1927 saat itu. Dia masih teringat dengan jelas akan suasana kekacauan dan ketakutan di tribun stadion. Istrinya, yang juga hadir dalam pertandingan tersebut, menyaksikan banyak korban jatuh, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka terjebak dalam ruangan untuk mencari udara segar setelah terkena dampak gas air mata yang ditembakkan oleh polisi. “Situasinya memang chaos,” kenangnya.

“Tertahan lama juga dalam ruangan untuk cari oksigen yang terkena tembakan gas air mata,” tuturnya.

“Kalau dibilang trauma, tidak. Hanya, itu jadi kenangan yang buruk untuk saya,” ucapnya.

Rendi tidak sendiri dalam mengenang tragedi tersebut. Rekan setimnya, M. Taufiq, juga mengungkapkan kesaksiannya tentang kejadian tragis tersebut.

Dia membagikan kenangan akan suasana rusuh di stadion, di mana gas air mata ditembakkan ke segala arah oleh aparat kepolisian. Keduanya berharap bahwa peristiwa tragis seperti itu tidak akan terulang lagi di masa depan. Saya berharap peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi,” tegas M. Taufiq.

Pelatih Persebaya 1927 pada saat itu, Divaldo Alves, juga masih mengingat detil kejadian tragis tersebut. Meskipun pertandingan berakhir imbang, memperoleh skor 3-3, namun tragedi di tribun menciptakan luka yang dalam dalam hati para penggemar sepak bola.

Divaldo menegaskan bahwa kejadian seperti itu harus dihindari di masa depan, dan suporter harus merasa aman di dalam stadion.

“Ya, saya masih ingat, tahun 2012, hasilnya imbang, De Porras (striker Persija IPL) cetak gol,” kata Divaldo kepada Jawa Pos.

“Saya tidak mau bicara banyak situasi polisi. Tapi, waktu itu memang stadion penuh dan itu pertandingan tensi tinggi,” ujar dia.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore