
KESULITAN: Persebaya Surabaya musim ini begitu kesulitan untuk meraih kemenangan karena sempat berganti 4 pelatih dalam 1 musim, kondisi ini tentu harus diperbaiki agar terhindar dari zona degradasi.
JawaPos.com — Persebaya Surabaya, tim sepak bola legendaris yang dikenal dengan julukan Green Force, telah menyumbangkan sejarah gemilang sejak awal terjun ke Perserikatan, sebuah kompetisi yang sudah berlangsung sejak 1931.
Sebagai salah satu klub paling berprestasi di Tanah Air, Persebaya telah meraih empat gelar dalam ajang tersebut. Prestasi ini hanya kalah dari rival abadi mereka, Persija Jakarta, yang sudah mengoleksi sembilan gelar Perserikatan.
Menariknya, Persebaya Surabaya hampir selalu menorehkan prestasi gemilang dengan memenangi gelar hampir setiap dekade. Dalam sejarahnya, tim ini telah mencatatkan prestasi membanggakan di kancah sepak bola nasional.
Namun, pada beberapa momen, tantangan besar harus dihadapi, salah satunya adalah zona degradasi yang mengintai mereka di Liga Indonesia saat ini.
Pada awal keberadaannya di Perserikatan, Persebaya Surabaya hampir selalu menjadi pesaing serius di setiap musim. Meskipun trofi pertama Perserikatan pasca kemerdekaan diraih oleh Persib Bandung pada 1950, Persebaya tidak berdiam diri.
Dalam dua kesempatan beruntun, pada 1951 dan 1952, Persebaya berhasil meraih gelar juara dengan mengalahkan lawan-lawannya dengan performa memukau.
Namun, di dekade 1960-an dan awal 1970-an, gelar juara Perserikatan tampaknya sedikit menjauh dari genggaman Persebaya. Meskipun demikian, momen keemasan tim ini kembali bersinar pada musim 1977/1978.
Pada periode ini, Persebaya berhasil meraih gelar juara dengan mengalahkan lawan-lawannya dengan skuad yang dipenuhi oleh para pemain bintang seperti Rusdy Bahalwan, Rudy Keltjes, dan banyak lagi.
Prestasi gemilang Persebaya kembali terangkat pada musim 1987/1988. Pada saat itu, tim ini berhasil menjuarai Perserikatan dalam sebuah pertandingan dramatis yang dikenal sebagai "sepak bola gajah".
Meskipun mengalami kekalahan yang telak dari Persipura Jayapura dengan skor 0-12, Persebaya akhirnya bangkit dan meraih kemenangan bersejarah atas Persija di final.
Musim tersebut juga menjadi momen penting dalam sejarah Persebaya, karena pada saat itulah istilah "Bonek" mulai dikenal secara luas sebagai sebutan untuk suporter fanatik mereka. Ribuan Bonek membanjiri Jakarta demi mendukung tim kesayangan mereka meraih kemenangan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Persebaya Surabaya menghadapi tantangan baru di era Liga Indonesia. Meskipun berhasil meraih gelar Liga Indonesia pada musim 1996/1997, tim ini kini harus menghadapi ancaman degradasi. Saat ini, Persebaya Surabaya berada dalam posisi yang sulit, hanya berjarak lima poin dari zona degradasi.
Meskipun masa kini Persebaya Surabaya diwarnai dengan tantangan, sejarah gemilang mereka di era Perserikatan tetap menjadi sumber inspirasi bagi para penggemar sepak bola di Indonesia.
Meskipun sulit, para Bonek tetap setia mendukung tim kesayangan mereka, berharap akan kembalinya masa kejayaan Persebaya Surabaya di kancah sepak bola nasional.
Dekat Zona Degradasi

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
