
Agus Winarno dengan sepatu emas yang didapatnya saat menjadi top skor era perserikatan.
Marselino Ferdinan disebut sebagai wonderkid atau bocah ajaib. Bagaimana tidak, dia menjadi bintang muda usia masih belasan tahun. Tapi sebelumnya, di 1990-an, ada juga pemain yang disebut-sebut menjadi wonderkid Persebaya. Sayang, pemain itu gagal menjadi bintang. Kenapa?
Sidiq Prasetyo, Gresik
DI sebuah ruang rumah di kawasan Driyorejo, Gresik, ada sebuah sepatu sepak bola emas. Itu menunjukkan kalau sang pemilik rumah bukan sosok pesepak bola sembarangan.
Sepatu emas adalah penanda bagi pemain yang pencetak gol terbanyak atau top skor kompetisi. "Sepatu emas ini saya dapat saat menjadi top skor Kompetisi Perserikatan 1993. Saya mencetak enam gol," kenang Agus Winarno, sang pemilik sepatu emas.
Agus Win, begitu dia disapa, merupakan mantan penyerang Persebaya Surabaya. Bahkan, status sebagai pencetak gol yang gacor di Kompetisi Perserikatan bukan hanya 1993. Di musim sebelumnya, 1991, dia sudah melakukannya. Untuk informasi,sebelum 1994, kompetisi sepak bola Indonesia dibagi menjadi dua, Perserikatan dan Galatama.
"Pada musim 1991, saya lebih banyak lagi. Saya mencetak sembilan gol," kenang Agus Win.
Hebatnya, torehan itu dibukukannya saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas atau SMA. Ketika itu, dia menimba ilmu di sebuah sekolah di Sepanjang, Taman, Sidoarjo.
"Saya paling muda di Persebaya. Tapi mereka banyak memberikan dukungan dan membuat saya nyaman di tim," ungkap lelaki kelahiran 1974 tersebut.
Agus Win menjelaskan, dia bisa masuk ke Persebaya senior setelah sebelumnya tampil gemilang di Persebaya Junior 1990. Kemampuan dan bakat yang dimiliki Agus Win terpantau dari Kompetisi Internal Persebaya.
"Assyabaab adalah klub asal. Setiap latihan di sana saya harus berpindah-pindah alat transportasi," ujar Agus Win.
Dia mengenang, dari rumahnya di Driyorejo harus naik angkot ke Joyoboyo, sebuah terminal di Surabaya. Dari Joyoboyo, Agus Win berganti naik angkot ke Jembatan Merah.
"Dari Jembatan Merah, saya naik becak ke Ampel. Butuh waktu 2,5 jam untuk bisa sampai ke mess Assyabaab," paparnya.
Namun, semangatnya itu membuahkan hasil. Agus Win bisa menembus Persebaya dari junior hingga senior.
Sayang, Agus Win tak bisa bertahan lama di Green Force, julukan Persebaya. Pada Liga Indonesia I 1994, dia pindah ke Mitra Surabaya.
"Pimpinan klub saya meminta pindah ke Mitra. Sebagai pemain, saya tidak bisa menolak," tambah Agus Win.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Aris Sebut Dua Apartemennya Dipakai Endah Fitrianingsih dan Malik Bawazier Berselingkuh
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022