
DUKUNG PENUH: Nyoman Ardana, salah satu anggota Bonek Oriental.
JawaPos.com- Nama mereka Bonek Oriental. Bukti bahwa pendukung Persebaya begitu beragam, berwarna-warni, serupa dengan kondisi warga Surabaya yang heterogen.
Bonek Oriental berdiri pada 2010, tepat saat Persebaya memutuskan keluar dari keanggotaan PSSI dan bergabung ke breakaway league bernama Liga Primer Indonesia (LPI).
Penggagasnya adalah arek-arek mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) yang suka Persebaya. Nyoman Ardana, salah seorang anggota Bonek Oriental, mengungkapkan, di warung-warung sekitar UKWM kerap muncul perbincangan tentang Persebaya. Sebagian besar adalah anak muda Tionghoa. ’’Dari obrolan itu, ada pegawai tata usaha UWM. Mas Gerson, namanya. Dia mengusulkan dibentuk komunitas pencinta Persebaya dari anak-anak Tionghoa,’’ ujarnya.
Gayung bersambut. Nama Bonek Oriental pun muncul. Nama itu mewakili identitas mereka sebagai suku Tionghoa. Mereka lantas membuat logo yang terinspirasi dari lambang yin dan yang. Namun, warnanya berbeda. ’’Kami kasih gambar suro dan boyo, lalu warnanya hijau dan merah. Hijau perwakilan Bonek, merah untuk kami etnis Tionghoa,’’ terangnya.
Walau beranggota 10 orang, Bonek Oriental menjadi pembicaraan. Selama Persebaya berkompetisi di LPI, mereka hampir tidak pernah absen memberikan dukungan di pinggir lapangan. Bonek Oriental juga sempat membuat banner dengan aksara Tionghoa dan bahasa Mandarin sebagai bentuk dukungan terhadap Persebaya dari tribun. ’’Awalnya, banyak yang ngelihatin. Aneh pandangannya. Mungkin mereka heran, kok Tionghoa jadi Bonek,’’ uncap penggemar tokoh superhero Superman itu, lantas tertawa.
Tidak hanya memberikan dukungan kepada Persebaya, hadirnya Bonek Oriental dinilai Nyoman sebagai media untuk menghilangkan rasialisme dalam sepak bola. Dengan kegiatan sosial seperti bagi takjil saat Ramadan dan bagi sembako saat Imlek, komunitas itu pun perlahan berhasil menghilangkan stigma rasial di tubuh suporter Persebaya. ’’Jujur, saya bangga. Bonek sekarang sudah berasal dari segala macam ras yang berbeda. Persatuannya ada,’’ jelas pria berusia 40 tahun tersebut.
Nyoman berharap makin banyak warga Tionghoa yang tidak takut dan malu datang ke stadion untuk mendukung Persebaya. Misalnya, saat Persebaya diperkuat kiper asal Tiongkok, Zeng Cheng, pada 2005. ’’Saat itu saya liak banyak cewek, orang tua, dan anak Tionghoa yang duduk di bangku penonton. Rasanya senang sekali melihat Stadion Tambaksari dipenuhi orang-orang dari beragam suku. Satu dukungan untuk Persebaya. Semoga bisa terulang lagi,’’ tandasnya. (Farid S. Maulana/c14/dos)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
