Persebaya Surabaya dihukum denda Komdis PSSI mencapai Rp 25 juta. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Persebaya Surabaya kembali jadi sorotan usai menerima sanksi denda sebesar Rp 25 juta dari operator Super League 2025/2026. Denda ini dijatuhkan karena panitia pelaksana pertandingan dinilai gagal mengantisipasi kehadiran suporter tamu saat laga kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada 18 Oktober 2025.
Pertandingan yang sejatinya berlangsung aman dan tertib itu justru berujung sanksi administratif bagi kubu Green Force.
Dalam keputusan resmi, panpel Persebaya Surabaya dianggap melanggar regulasi kompetisi lantaran tidak mampu mencegah datangnya pendukung Persija Jakarta yang sebenarnya dilarang hadir.
Regulasi Super League Tahun 2025/2026 memang mengatur secara tegas soal larangan kehadiran suporter tim tamu demi menjaga kondusivitas laga berisiko tinggi.
Komite Disiplin menilai ada kelalaian dari pihak penyelenggara karena beberapa suporter tamu tetap bisa masuk ke area stadion.
Sanksi tersebut dijatuhkan dengan merujuk pada Pasal 5 ayat 7, 8, 9, dan 11 Regulasi Super League. Hukuman berupa denda Rp 25 juta ini bersifat final dan tidak dapat diajukan banding sesuai dengan Pasal 117 Kode Disiplin PSSI.
Keputusan itu otomatis memicu reaksi keras dari kalangan Bonek. Mereka menilai denda tersebut tidak masuk akal karena sepanjang pertandingan kondisi stadion tetap kondusif tanpa insiden berarti.
Melalui berbagai unggahan di media sosial, Bonek mempertanyakan dasar pemberian sanksi tersebut.
Mereka menilai PSSI dan operator liga terlalu berfokus pada sisi administratif tanpa melihat fakta di lapangan yang menunjukkan situasi aman dan damai.
“Cair cair cairr,” tulis salah satu akun Bonek di kolom komentar.
Ada pula yang menyindir, “@pssi kenapa? pdhl laga berjalan dengan aman dan nyaman, duit aja pikirannya, jgn nyari untung lewat sepak bola, pada punya akal kan? malu woi maluuu.”
Komentar senada juga muncul dari pendukung lain yang menilai keputusan ini berlebihan. “@pssi apakah ada kerusuhan? semuanya berjalan dengan lancar, aman dan damai,” tulis seorang Bonek di media sosial.
Banyak di antara mereka yang menilai denda semacam ini justru merugikan klub tanpa memberikan solusi konkret untuk pembenahan sistem pengawasan. “Dendaa terossssss,” ujar akun lainnya dengan nada sindiran.
Unggahan-unggahan bernada protes itu dengan cepat menyebar di berbagai platform digital. Sebagian Bonek bahkan menyebut PSSI terlalu reaktif dalam menjatuhkan sanksi tanpa melihat konteks di lapangan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
