Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Maret 2025 | 06.00 WIB

Eks Dokter Tim Persebaya Surabaya Mendunia, Jadi Speaker FIFA 2025 di Madrid yang Bahas Data Cedera Bundesliga

Pratama Wicaksana (kanan) kembali mewakili Indonesia untuk Isokinetic Conference FIFA 2025 di Madrid. (Dok. Pratama)


JawaPos.com - Setelah jadi pembicara dalam Konferensi Pencegahan Cedera di Monaco tahun lalu, dr. Pratama Wicaksana kembali mewakili Indonesia untuk Isokinetic Conference FIFA 2025 di Madrid. Dia akan berbicara tentang pentingnya medical check-up sebagai informasi penanganan cedera untuk pesepakbola.

Saat mendengar asisten manajer tim Indonesia U-17 I Nyoman Suryanthara meninggal dunia pada 7 Januari lalu, dr. Pratama Wicaksana langsung teringat akan “hutang” soal laporan tahunan cedera Persita Tangerang musim lalu. Dia teringat masih belum memberikan laporan pada almarhum karena kesibukannya mengerjakan tesis untuk menyelesaikan pendidikan spesialis Kedokteran Olahraga di Universitas Indonesia.

''Jadi saat takziah ke tempat almarhum, saya berjanji akan tetap memberikan laporan ini kepada beliau,'' jelasnya. Sepulang dari takziah, Tommy -sapaannya- langsung mengerjakan “hutang” tersebut. ''Kebetulan juga saya ingat, ada submission untuk Isokinetic Conference FIFA 2025. Jadi setelah selesai, saya kirimkan menjelang deadline submission,'' lanjutnya.

Tommy menyatakan, mendiang Nyoman banyak berjasa padanya. Saat masih jadi dokter tim Persita musim lalu, Nyoman banyak memberikan privilege. ''Termasuk data-data cedera tim Persita, saya diperbolehkan untuk mengirimkan ke berbagai konferensi internasional, seperti yang saya lakukan di Monaco tahun lalu” ungkapnya.

Nah, untuk Isokinetic Conference FIFA 2025, pria asal Kediri itu mengirimkan data soal pentingnya medical check-up sebagai informasi penanganan cedera untuk pemain. Medical check-up yang selama ini hanya jadi syarat saja untuk tim-tim di Indonesia di awal kompetisi. ''Bagaimana medical check-up itu kalau datanya diolah dan dimaknai dengan baik itu jadi sebuah informasi berharga dalam menjalani kompetisi. Bagaimana kondisi tubuh pemain seperti otot serta sendi, kecenderungan pemain untuk mengalami cedera serta sakit, kemungkinan cederanya yang mungkin terjadi, dan lain-lain,'' bebernya.

Tommy mengaku sempat kaget ketika FIFA meloloskan topik yang dikirimkannya. Dia menduga jika FIFA memang sangat tertarik untuk mengetahui soal football medicine dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. ''Yang bikin bangga, saya bersanding dengan salah satu pembicara yang membahas soal data cedera di Bundesliga. Data saya dari Persita, sama-sama didengarkan dan disandingkan dengan data dari Bundesliga,'' katanya lantas tersenyum.

Rencananya, pria yang juga hobi mengoleksi jersey itu akan berbicara di hadapan audience dari seluruh dunia pada 3-5 Mei mendatang. Akan berbicara dalam satu sesi selama 8 menit lewat oral presentation.

''Memang tidak banyak yang bisa saya ceritakan dengan waktu hanya 8 menit. Tapi, dengan ini apa yang saya lakukan di Indonesia bisa mendapatkan perhatian dari dunia. Mereka bisa memberikan pengalaman serta masukan untuk saya dan sepak bola Indonesia,'' tuturnya.

Rencananya, sepulang dari konferensi tersebut, Tommy siap untuk membagi pengalamannya untuk sepak bola Indonesia. Dia sendiri sudah diminta oleh Head Of Medical Departement PSSI Syarif Alwi Maruapey untuk membagi pengalamannya tersebut kepada seluruh tim medis di PSSI. ''Bagaimana teknis nya, saya tunggu perintah Papi -sapaan Syarif Alwi- saja,'' paparnya. (ali)

Editor: Hendra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore