PEREMPUAN TANGGUH: Souraiya Farina Alhaddar berkomitmen akan mengabdikan hidupnya untuk kemajuan sepak bola Indonesia.
Kalau saja terus berkarier sebagai akademisi, mungkin kini Souraiya Farina Alhaddar tidak harus pusing-pusing memikirkan nasib sepak bola Indonesia. Khususnya jebloknya prestasi tim nasional sepak bola putri. Dia juga tidak harus selalu berjauhan dengan keluarga tercinta karena tetap harus bekerja saat momen-momen penting.
---
TAPI, pilihan sudah diambil. Farina sudah telanjur cinta dengan sepak bola. Bahkan, sudah terlalu cinta dengan sepak bola Indonesia. Kecintaannya membuat alumnus Universitas Nasional (Unas) tersebut meninggalkan dunia akademisi untuk terjun sedalam-dalamnya ke sepak bola tanah air.
Kiprah Farina di sepak bola Indonesia dimulai pada 2006. Saat itu, Farina yang bekerja sebagai non-permanent lecture di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta mendapat informasi lowongan pekerjaan sebagai media officer di PSSI. ’’Waktu itu, Departemen Media PSSI mencari yang bisa bahasa Inggris. Akhirnya, saya apply,’’ ungkap Farina.
Ketika itu, Farina di-interview oleh Achsanul Qosasi dan almarhum Nugraha Besoes. Setelah menjalani serangkaian tes masuk, Farina akhirnya diterima bekerja di PSSI. Dan, PSSI tetap mengizinkannya bekerja sebagai akademisi. ’’Tapi, PSSI meminta saya mengajar di atas jam empat sore. Lalu, nggak boleh lebih dari dua hari dalam sepekan,’’ kenangnya.
Meski harus membagi waktu, Farina menikmati aktivitasnya. Keaktifan berorganisasi saat masa kuliah membuatnya terbiasa membagi fokus. Hal itu juga yang membuat karier Farina di PSSI berkembang. Setelah ditugaskan sebagai media officer (2006–2010), Farina juga ditugaskan sebagai administration manager (2008–2013), dan office director (2011–2013). ’’Saya akhirnya berhenti mengajar pada 2012. Sepak bola itu unik. Dan, mudah dicintai,’’ tutur mantan customer relation Garuda Indonesia tersebut.
Sejak kali pertama bergabung di PSSI sampai dipercaya menempati beberapa posisi, cita-cita Farina hanya satu. Yaitu, ingin industri sepak bola Indonesia maju. ’’Sejak awal saya masuk, kita semua harus kerja bareng. Para pemain amatir, profesional, dan para pelaku sepak bola harus bisa hidup di sini. Industri bukan lip service. Harus bisa dinikmati. Menjaga kehidupan kita,’’ tegasnya.
Militansi Farina untuk sepak bola juga tidak perlu diragukan. Dia pernah tiga hari bermalam di kantor untuk membantu proses Indonesia memenangkan bidding Piala Dunia U-20 pada 2019. Dia juga pernah direpoti dengan urusan sepak bola meski sedang menjalani akad nikah. ’’Bahkan, saat mau lahiran, masih ada urusan pekerjaan yang masuk lewat Blackberry Messenger,’’ ungkapnya.
Farina juga sering berjauhan dengan keluarganya. Sampai-sampai, anaknya menganggap Farina lebih sayang dengan PSSI daripada keluarga. ’’Saking jarang di rumah, anak sering ikut saya ke kantor. Tapi, hubungan kami baik-baik saja,’’ tuturnya, lalu tersenyum.
Militansi Farina untuk sepak bola terus berlanjut sampai saat ini duduk di kursi Sekjen ASBWI. Bahkan, tantangan di sepak bola putri lebih besar. Sebab, tidak mudah meyakinkan pihak swasta untuk men-support sepak bola putri. ’’Sponsor mau audience. Mereka akan bertanya berapa viewer per match. Bisa dapat apa (jika mendukung sepak bola putri, Red)? Sales-nya bisa balik nggak? Angka-angka itu diperlukan mereka,’’ jelas Farina.
Menurut Farina, sulit meyakinkan swasta untuk mau mendukung sepak bola putri. Tapi, bukan berarti tidak bisa. Buktinya, ada beberapa pihak swasta yang mulai mendukung perjalanan sepak bola putri. ’’Mereka mendukung karena suka dengan sepak bola putri. Mereka melihat ada prospek yang bagus. Apalagi, di media sosial, engagement kami cukup meningkat,’’ paparnya.
Selain bisnis, Farina memikirkan cara mendongkrak prestasi timnas putri Indonesia. Yang terbaru, timnas putri gagal total dalam babak prakualifikasi Olimpiade Paris. Indonesia kalah 0-5 oleh Lebanon dan 0-4 oleh China Taipei.
Menurut Farina, ASBWI, PSSI, dan stakeholder terkait lainnya harus duduk bersama. Dengan PSSI, misalnya. Harus ada sinkronisasi program. PSSI menggarap Liga 1 putri secara profesional. Lalu, ASBWI membuat kompetisi U-15 dan U-17.
ASBWI, sambung Farina, kini memiliki asosiasi provinsi (asprov) di 30 provinsi di Indonesia. Hanya empat provinsi yang belum bergabung. Yakni, Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. ’’Di 2023, sesuai hasil kongres, ASBWI akan fokus ke ajang U-15 dan U-17. Kami sudah meeting dengan seluruh provinsi. Mereka akan memutar pertandingan regional. Lalu, putaran nasional akan digarap ASBWI,’’ tegas Farina.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
