Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Desember 2024 | 21.17 WIB

Terungkap Setelah Lebih dari 20 Tahun! Aji Santoso Beberkan Alasan Timnas Indonesia Terlibat Sepak Bola Gajah di Piala AFF 1998

Coach Aji Santoso saat masih menangani Persebaya. Ia merupakan kapten tim saat Indonesia dan Thailand terlibat sepak bola gajah di Piala AFF 1998. (Transfermarkt)

 

JawaPos.com - Timnas Indonesia gagal total di Piala AFF tahun ini setelah tidak mampu lolos dari fase grup. Dalam laga penentuan menghadapi Filipina, tim asuhan Shin Tae-yong takluk 0-1.

Timnas Indonesia yang berlaga di Piala AFF tahun ini memang diisi oleh para pemain U-22. Meskipun demikian, sejumlah pihak tetap menganggap tersingkirnya skuad Garuda dari fase grup adalah sebuah kegagalan.

Hasil tersebut merupakan kegagalan Timnas Indonesia yang kesekian kalinya di Piala AFF. Namun, berbicara mengenai kegagalan skuad Garuda di ajang yang kini bernama ASEAN Cup tersebut, tentu tidak bisa melupakan kegagalan terbesar di Piala AFF 1998.

Mengapa disebut kegagalan terbesar? Karena saat itu Timnas Indonesia merelakan kesempatan untuk menjadi juara grup dengan cara memalukan dan mencederai sportivitas, yaitu sengaja mengalah dari Thailand atau lebih dikenal dengan tragedi Sepak Bola Gajah.

Kala itu, pada pertandingan penentuan Indonesia menghadapi Thailand, mengutip dari laman Lost Media Wiki, Thailand bisa lolos asalkan tidak kalah lebih dari empat gol. Sedangkan Indonesia sudah dipastikan lolos dan hanya butuh hasil imbang untuk menjadi juara Grup A.

Dari skema tersebut, seharusnya laga bisa berlangsung seru. Namun, kenyataan berkata lain. Ada faktor eksternal yang membuat pertandingan menjadi sebuah duel konyol dan memalukan.

Situasi di Grup B, Singapura akhirnya di luar dugaan menjadi juara grup dengan memuncaki klasemen di atas Vietnam. Hal itulah yang membuat Thailand maupun Indonesia sama-sama cemas jika harus bertemu dengan Vietnam yang saat itu merupakan tuan rumah turnamen.

Dan, yang terjadi adalah sebuah sajian sepak bola paling memalukan dalam sejarah yang melibatkan Indonesia dan Thailand, dua negara besar sepak bola di kancah Asia Tenggara.

Kedua tim tidak menunjukkan upaya serius untuk memenangi laga. Barulah babak kedua, pertandingan mulai berlangsung agak menarik setelah Miro Baldo Bento sempat membawa Indonesia unggul pada menit ke-53.

Thailand kemudian menyamakan lewat K. Piandit. Namun, kapten Garuda Aji Santoso kembali membawa Indonesia unggul. Dan, tim lawan kembali menyamakan kedudukan menjadi 2-2 lewat T. Chaiman.

Mendekati akhir laga, tragedi memalukan terjadi saat pemain Indonesia, Mursyid Efendi sengaja melakukan gol bunuh diri pada menit 90 sehingga skuad Garuda kalah 2-3.

Kapten Timnas saat itu, Aji Santoso, akhirnya angkat bicara setelah terpaut lebih dari dua dekade. Dalam sebuah podcast dari akun YouTube Omah Balbalan, Aji membantah adanya pengaturan skor dalam pertandingan itu.

Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia tidak direncanakan mengalah dari Thailand oleh siapapun maupun pihak manapun. Namun, karena harus pindah venue pertandingan jika menjadi juara grup, akhirnya terjadilah insiden itu.

"Sebenarnya Indonesia tidak disuruh mengalah oleh siapapun, namun saat itu siapapun yang menang (juara grup) harus pindah stadion untuk menghadapi Vietnam, dan hanya punya waktu istirahat dua hari, akhirnya sama-sama ingin kalah, karena akan tetap sama-sama lolos," ungkap Aji dalam podcast Omah Balbalan.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore