I Putu Gede bersama vokalis D’masiv Ryan Ekky Pradipta. (Kanal Youtube Ryan Ekky Pradipta)
JawaPos.com — I Putu Gede adalah salah satu gelandang andal era 1990-an hingga 2000-an yang dikenal dengan permainan lugas dan penuh determinasi. Pemain kelahiran Denpasar, 1 Desember 1973 ini, memulai karier sepak bolanya dari tim junior Persebaya Surabaya.
Persebaya Surabaya menjadi tempat bagi Putu Gede untuk meniti karier profesionalnya sejak kompetisi masih dalam format Perserikatan. Setelah Liga Indonesia mulai menggantikan kompetisi Perserikatan, Putu tetap berseragam Persebaya Surabaya hingga 1996, sebuah bukti loyalitasnya terhadap tim berjuluk Green Force tersebut.
"Saya menjadi pemain Persebaya sejak junior. Setelah kompetisi berubah menjadi Liga Indonesia, saya tetap berkostum Persebaya sampai 1996," kenang Putu Gede dikutip dari kanal Youtube Ryan Ekky Pradipta.
Namun, tantangan baru memanggil Putu ketika dia menerima tawaran dari klub Mitra Surabaya pada 1996. Bersama Mitra, Putu berhasil membawa timnya mencapai semifinal Liga Indonesia 1996/1997 meski harus takluk dari Bandung Raya dengan skor tipis 1-0.
Pada laga tersebut, sempat terjadi insiden gas air mata yang membuat suasana semakin tegang. Meski gagal melaju ke final, pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi Putu untuk menambah jam terbangnya di kancah sepak bola nasional.
Usai membela Mitra Surabaya, Putu memulai petualangan baru dengan Bandung Raya. Sayangnya, rencana tersebut tidak terealisasi karena Bandung Raya memutuskan membubarkan tim secara tiba-tiba.
Padahal, Putu Gede telah menerima uang muka kontrak sebesar Rp20 juta dan bahkan sudah berlatih selama satu minggu di Bandung. Namun, manajemen Bandung Raya, yang diwakili oleh Tri Goestoro, memintanya untuk menyimpan uang muka tersebut sebagai kenang-kenangan.
"Saat itu, saya ingin mengembalikan uang muka itu, tapi Pak Tri Goestoro (manajer Bandung Raya) bilang ambil saja," papar Putu.
Di tengah masa transisi ini, Putu mendapat tawaran dari PSM Makassar untuk memperkuat mereka di Piala Winners Asia pada 1997. Pada saat inilah ia berkenalan dengan Diza Ali, wanita berdarah Makassar yang baru saja menjadi manajer Persija Jakarta.
Bu Diza, sapaan akrab Diza Ali, menawari Putu untuk bergabung dengan Persija meski PSM Makassar juga tertarik merekrutnya secara permanen. Pilihan akhirnya jatuh pada Persija Jakarta, klub yang kala itu tengah mengincar gelar juara di Liga Indonesia 1997/1998.
"Bu Diza mengajak saya ke Persija meski pada waktu yang sama PSM juga tertarik," ceritanya.
Dengan manajemen solid dan materi pemain mentereng seperti Nuralim, Olinga Atangana, Budiman, dan Dahiru Ibrahim, Persija memang punya ambisi besar untuk meraih gelar. Kebersamaan di Persija membuat Putu merasa seperti berada dalam keluarga besar, meski para pemainnya berasal dari berbagai daerah dan negara.
"Saya juga mendapat pengalaman berharga di Persija. Meski pemainnya berasal dari berbagai daerah dan negara, kami seperti berada dalam satu keluarga," ungkap I Putu Gede.
Pada tahun itu pula, sejarah baru Persija tercipta dengan berdirinya The Jakmania, kelompok suporter Persija yang hingga kini setia mendukung tim kebanggaannya. Warna kostum Persija pun berubah dari merah menjadi oranye, simbol semangat baru yang menyatukan pemain dan pendukung.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
