JawaPos.com - Persebaya di bawah asuhan Paul Munster kini sedang dalam kondisi on fire. Hingga pekan kelima Liga 1 musim ini, Green Force sukses bersaing di papan atas klasemen sementara dengan menempati peringkat dua.
Dari lima pertandingan yang sudah dilalui, Munster sukses membawa Persebaya menang empat kali dan seri sekali tanpa tersentuh kekalahan.
Padahal, menjelang akhir musim lalu saat pertama kali datang menjadi pelatih Persebaya, ia harus membenahi seluruh aspek pada tim kebanggaan Kota Surabaya ini.
Bisa dikatakan saat Paul Munster datang, kondisi Green Force sedang amburadul. Mereka berada di papan bawah klasemen (peringkat 13), tiga kali berganti pelatih, dan mentalitas bertanding yang sedang terpuruk.
Hal itu terungkap dari wawancara Paul Munster dalam akun YouTube Transfermarkt. Munster menceritakan bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan Persebaya meskipun ia tahu harus menyelamatkan Green Force dari jurang degradasi.
"Saat itu saya masih menjabat sebagai Direktur Teknik Timnas Brunei. Lalu agen saya Gabriel Budi mengatakan ada beberapa klub yang tertarik menggunakan jasa saya, salah satunya Persebaya," kata Munster seperti dikutip dari laman YouTube Transfermarkt.
Ia mempertimbangkan matang-matang hal itu, dan saat manajemen Persebaya meminta bertemu, ia harus mencuri-curi waktu karena sedang berlibur bersama keluarga di Bali.
"Manajemen Persebaya meminta saya bertemu untuk membicarakan beberapa hal terkait kondisi di Persebaya dan seberapa jauh saya mengenal tim ini, apa saja rencana kedepannya. Saya pun harus bertolak ke Surabaya dari Bali untuk membicarakan itu, lalu langsung kembali ke Bali untuk melanjutkan berlibur saya bersama keluarga" ungkap pelatih asal Irlandia Utara tersebut.
Hanya dalam jangka waktu sekitar empat hari, manajemen Persebaya kembali menghubungi Munster untuk memintanya secara resmi menjadi pelatih Persebaya.
"Padahal saya waktu itu masih terikat kontrak dengan Brunei. Saya pun meminta ijin kepada presiden Federasi Sepak Bola Brunei untuk melatih Persebaya. Menurut saya saat itu waktunya tepat, karena akan terjadi pergantian presiden federasi," ungkap pelatih berlisensi UEFA pro tersebut.
Setelah resmi menjadi pelatih Persebaya, manajemen memberitahu situasi terkini di dalam klub, yaitu belum menang dalam beberapa pertandingan yang membuat Green Force dekat dengan jurang degradasi hingga kondisi kebugaran para pemain.
"Saat itu Persebaya belum menang dalam sepuluh pertandingan dan juga kondisi kebugaran para pemain sangat rendah, saya pun bilang kepada manajemen 'Oke, let's do my magic," imbuhnya.
Pelatih yang saat masih bermain berposisi sebagai striker tersebut menyadari untuk mewujudkan keajaiban itu dibutuhkan suatu proses. Ia pun mengambil sejumlah langkah taktis salah satunya membenahi mentalitas dan kebugaran para pemain.
"Saat saya mulai melatih Persebaya, Liga 1 sedang jeda kompetisi sehingga tidak ada jadwal bertanding. Saya pun meminta para pemain untuk tidak libur dan berlatih untuk mengisi jeda kompetisi, dan mereka setuju 'oke coach, kami butuh berlatih keras'," ungkapnya lagi.
Setelah itu, ia pun perlahan-lahan membenahi fisik dan mentalitas bertanding para pemain Persebaya yang ada, karena ia tidak bisa membeli pemain baru mengingat saat itu jendela transfer pemain Liga 1 sudah ditutup.
Munster akhirnya sukses membawa Green Force lolos dari degradasi dan Persebaya menempati posisi 12 klasemen akhir Liga 1 musim lalu.
Ia pun menepati janjinya untuk lebih membenahi Persebaya pada musim ini. Persiapan matang dilakukan saat pra musim mulai dari program latihan yang jelas, agenda uji coba, hingga transfer pemain yang tepat.
Kini tim asuhan Paul Munster mulai menikmati hasil jerih payahnya. Persebaya menembus papan atas Liga 1 musim ini dan diperhitungkan sebagai kandidat juara liga. Kompetisi memang masih masih panjang, dan jika Bruno Moreira dkk. konsisten, bukan tidak mungkin gelar juara musim ini bisa diraih. (*)