Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Agustus 2024 | 19.32 WIB

Menelusuri Jejak Logo Tengkorak St Pauli yang Punya Makna Layaknya Logo Wong Mangap Persebaya Surabaya

Logo tengkorak Der Totenkopf St. Pauli yang terpampang di stadion. (Instagram/@fcstpauli) - Image

Logo tengkorak Der Totenkopf St. Pauli yang terpampang di stadion. (Instagram/@fcstpauli)

JawaPos.com — Di dunia sepak bola, identitas klub tidak hanya terpampang pada performa di atas lapangan atau sejarah prestasi, tetapi juga pada simbol-simbol yang menyatu dengan jiwa dan budaya para pendukungnya.

Salah satu contoh yang mencolok datang dari klub Jerman, FC St. Pauli, dengan logo tengkorak khas mereka yang disebut Der Totenkopf. Logo ini punya makna yang mendalam, serupa dengan Wong Mangap, logo tak resmi yang sangat melekat di hati para suporter Persebaya Surabaya.

Meskipun logo resmi St. Pauli sebenarnya adalah gambar kastil merah yang dikelilingi lingkaran, bagi para penggemar setia klub ini, Der Totenkopf telah menjadi simbol ikonik.

Logo tengkorak yang khas ini mulai melekat pada St. Pauli sejak pertengahan 1980-an, mencerminkan semangat pemberontakan dan perlawanan terhadap ketidakadilan, yang sangat dekat dengan identitas klub dan para penggemarnya.

Pemandangan bendera dengan tengkorak ini di stadion Millerntor, markas St. Pauli, sudah menjadi pemandangan biasa yang tak terpisahkan dari atmosfer pertandingan klub tersebut.

Namun, cinta yang begitu mendalam antara St. Pauli dan Der Totenkopf sempat menghadapi ujian besar pada 2004. Klub yang bermarkas di Hamburg itu mengalami krisis finansial yang mengancam kelangsungan hidup mereka.

Demi menyelamatkan klub dari kebangkrutan, manajemen St. Pauli terpaksa menjual hak pemakaian logo Der Totenkopf kepada sebuah perusahaan lokal pembuat merchandise, Upsolut Merchandising.

Dengan terjualnya sekitar 90 persen hak logo tersebut, harapan St. Pauli untuk bertahan pun terselamatkan, meski harus kehilangan identitas kuat yang begitu menyatu dengan penggemar mereka.

Bertahun-tahun lamanya, para suporter harus melihat logo kesayangan mereka dikomersialkan oleh pihak lain. Bagi St. Pauli, kehilangan hak atas Der Totenkopf bukan sekadar perkara finansial, melainkan sebuah kehilangan emosional yang sangat dalam.

Tidak heran, ketika akhirnya pada 24 November 2015, setelah 11 tahun terpisah, klub berhasil menebus kembali hak atas logo tersebut, suasana penuh suka cita meliputi seluruh komunitas pendukung St. Pauli.

Untuk mengembalikan logo tengkorak itu ke tangan klub, manajemen St. Pauli harus mengeluarkan sekitar 1,3 juta euro atau setara dengan Rp18,8 miliar, sebuah jumlah yang tidak kecil, namun sebanding dengan makna yang dikandung oleh simbol tersebut.

"Sebuah langkah besar untuk kebebasan kami," ujar Presiden St. Pauli, Oke Gottlich, kala itu dikutip dari koran Jawa Pos edisi 28 November 2015. Baginya, Der Totenkopf bukan sekadar logo, tetapi sebuah identitas sosial yang menjadi identitas unik bagi St. Pauli.

Bendera tengkorak yang berkibar di stadion telah menjadi simbol perlawanan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan, termasuk kapitalisme yang berlebihan dalam dunia sepak bola modern.

Kisah tentang Der Totenkopf di St. Pauli mengingatkan kita pada hubungan erat antara Persebaya Surabaya dan logo Wong Mangap, yang meskipun bukan logo resmi, telah menjadi bagian penting dari identitas klub dan para pendukungnya.

Wong Mangap, simbol dengan gambar manusia berwajah marah yang mulutnya terbuka lebar, adalah representasi dari keberanian dan ketangguhan Bonek—sebutan bagi suporter Persebaya.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore