
Paul Munster ingin pengecekan VAR lebih cepat agar tak menghambat jalannya pertandingan Persebaya Surabaya. (Instagram: @officialpersebaya)
JawaPos.com — Kontroversi kembali mencuat di panggung sepak bola Indonesia saat Persebaya Surabaya bertanding melawan PSS Sleman dalam laga Liga 1 Indonesia 2024/2025. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo pada Minggu, 11 Agustus 2024 itu mencatatkan insiden yang membuat seluruh penonton, pemain, dan pelatih terkejut bukan karena gol dramatis atau tekel keras, melainkan karena durasi yang sangat lama dalam proses pengecekan Video Assistant Referee (VAR). Momen ini menjadi perbincangan hangat, terutama ketika pelatih Persebaya, Paul Munster, mengutarakan kegeramannya terhadap sistem yang dinilainya tidak efisien dan menghambat ritme permainan.
Pertandingan sempat berhenti cukup lama pada menit ke-63 ketika wasit memutuskan untuk meninjau kembali insiden dugaan handball oleh Hokky Caraka di dalam kotak penalti PSS Sleman. Proses ini seharusnya menjadi salah satu keuntungan dari teknologi VAR, di mana wasit bisa melihat ulang kejadian dan mengambil keputusan yang lebih tepat. Namun, yang terjadi justru kebalikan dari ekspektasi tersebut. Alih-alih mempercepat pengambilan keputusan, pengecekan VAR berlangsung selama 15 menit. Penantian panjang ini membuat suasana stadion berubah, dari semangat dan antusias menjadi penuh ketegangan dan kekhawatiran.
Paul Munster, pelatih asal Irlandia Utara yang dikenal dengan gaya permainan cepat dan agresif, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia dengan tegas menyampaikan ketidakpuasannya terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat keputusan tersebut. Paul Munster menyebut bahwa waktu 15 menit untuk meninjau VAR adalah sesuatu yang tak bisa diterima, terutama jika dibandingkan dengan kompetisi di luar negeri seperti Liga Inggris, di mana pengecekan VAR rata-rata hanya membutuhkan 50 detik.
"Saya tidak mengerti mengapa membutuhkan waktu 15 menit untuk memutuskan sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dalam hitungan detik," ujar Paul Munster dengan nada yang penuh kekecewaan. "Ini merugikan kami, bukan hanya dari segi mental, tapi juga fisik. Para pemain kehilangan ritme, mereka harus berdiri diam terlalu lama, dan ini berdampak buruk bagi performa mereka ketika permainan dilanjutkan."
Kritik Paul Munster ini bukan tanpa alasan. Dalam dunia sepak bola modern, kecepatan pengambilan keputusan adalah faktor krusial yang bisa menentukan hasil akhir sebuah pertandingan. Ketika sebuah keputusan tertunda terlalu lama, terutama yang melibatkan teknologi seperti VAR, maka itu akan mengganggu jalannya pertandingan. Selain itu, pemain yang harus menunggu terlalu lama di tengah lapangan akan mengalami penurunan suhu tubuh, yang kemudian berisiko menyebabkan cedera ketika mereka kembali berlari dengan intensitas tinggi.
Paul Munster mengungkapkan bahwa penundaan seperti ini tidak hanya mempengaruhi ritme permainan tetapi juga mengancam keselamatan pemain. "Terlalu lama dan juga karena kalau lama, para pemain berdiri di lapangan. Kemudian para pemain mulai kedinginan. Kemudian ketika Anda memulai (pertandingan), para pemain harus kembali ke tuntutan fisik yang tinggi. Namun, terkadang sulit. Jadi perlu lebih cepat dalam pengambilan keputusan di lapangan," tambahnya.
Dalam pertandingan tersebut, para pemain Persebaya yang tengah berada dalam momentum menyerang harus menahan langkah mereka, menunggu keputusan yang tak kunjung datang. Penonton di stadion pun merasakan ketegangan yang sama, menyaksikan layar besar yang menampilkan tayangan ulang tanpa tahu kapan pertandingan akan dilanjutkan. Sorak-sorai yang biasanya mengiringi setiap serangan berubah menjadi gumaman gelisah, menunggu keputusan yang seolah-olah tak pernah akan tiba.
Paul Munster, yang telah memiliki pengalaman melatih di beberapa liga di Eropa, mengungkapkan keheranannya atas perbedaan besar dalam durasi pengecekan VAR antara Liga 1 Indonesia dan liga-liga top Eropa. Di Liga Inggris, sebagai contoh, pengecekan VAR rata-rata hanya memakan waktu 50 detik pada musim 2019/2020. Hal ini memungkinkan permainan untuk tetap berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Sementara di Indonesia, pengecekan yang memakan waktu 15 menit jelas menjadi masalah besar.
Paul juga menyoroti bagaimana penundaan yang panjang tersebut dapat merugikan pemain secara mental. Dalam sebuah pertandingan yang intens, di mana setiap detik sangat berarti, jeda panjang seperti itu bisa mengganggu konsentrasi dan momentum yang telah dibangun dengan susah payah. Hal ini jelas merugikan tim, terutama ketika mereka sedang dalam kondisi menyerang dan berusaha mencetak gol.
Kritik dari Paul Munster ini tentu menjadi catatan penting bagi PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator Liga 1. Efisiensi penggunaan VAR harus menjadi prioritas agar tidak ada lagi kejadian serupa yang merugikan tim, pemain, dan tentu saja penonton yang datang untuk menikmati pertandingan yang menarik. Penonton sepak bola di Indonesia sudah sangat bersemangat dengan kehadiran teknologi VAR, tetapi jika teknologi tersebut tidak digunakan dengan benar, maka dampaknya bisa lebih buruk daripada ketiadaan teknologi itu sendiri.
Ketika wasit akhirnya memutuskan bahwa tidak ada penalti yang diberikan untuk Persebaya, kekecewaan bukan hanya dirasakan oleh pemain dan pelatih, tetapi juga ribuan Bonek—pendukung setia Persebaya—yang hadir di stadion. Mereka telah menunggu dengan penuh harap selama 15 menit, hanya untuk melihat bahwa tidak ada perubahan yang terjadi. Atmosfer stadion yang sebelumnya penuh dengan energi dan semangat berubah menjadi penuh kekecewaan dan kebingungan.
Pernyataan Paul Munster ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga tempo permainan dalam sepak bola. Ketika sebuah keputusan penting seperti ini membutuhkan waktu yang terlalu lama, maka seluruh aspek dari pertandingan tersebut akan terpengaruh. Bukan hanya pemain yang kehilangan momentum, tetapi juga penonton yang kehilangan minat dan emosi mereka terhadap jalannya pertandingan.
Meski akhirnya Persebaya Surabaya berhasil meraih kemenangan 1-0 atas PSS Sleman, insiden ini tetap menjadi bahan evaluasi penting bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Liga 1 Indonesia. Penggunaan teknologi VAR harus diperbaiki agar dapat memberikan manfaat maksimal tanpa mengganggu jalannya pertandingan. Kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan adalah dua hal yang harus berjalan beriringan.
Paul Munster dan tim Persebaya tentu berharap agar kejadian serupa tidak terulang di pertandingan berikutnya. Mereka ingin fokus pada permainan dan meraih hasil terbaik, tanpa harus terganggu oleh penundaan yang tidak perlu. Kritik yang disampaikan Paul bukanlah bentuk ketidakpuasan semata, melainkan sebuah panggilan untuk perubahan yang lebih baik dalam penggunaan teknologi di Liga 1 Indonesia.
Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana PT LIB menanggapi kritik ini dan memperbaiki sistem VAR di kompetisi teratas Indonesia. Apakah mereka akan mengambil langkah cepat untuk memastikan bahwa pengecekan VAR tidak lagi mengganggu jalannya pertandingan? Atau justru membiarkan masalah ini terus berlanjut dan merusak pengalaman bermain dan menonton di Liga 1?

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
