
LEGENDA SEMEN PADANG: Memori manis Masykur Rauf, gelandang berdarah Bugis-Makassar yang melegenda bersama Semen Padang. (Kanal YouTube MinangSatu)
JawaPos.com — Masykur Rauf, nama yang tak pernah pudar dari memori para penggemar sepak bola Indonesia, terutama bagi mereka yang mengikuti era kejayaan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada dekade 1990-an.
Sebagai seorang gelandang berdarah Bugis-Makassar, Masykur Rauf membawa warna tersendiri dalam sejarah sepak bola Indonesia, terutama melalui peranannya bersama klub legendaris Semen Padang.
Aksi gemilang Masykur Rauf sebagai playmaker Semen Padang berhasil memancarkan cahaya kejayaan pada era kompetisi Galatama dan Liga Indonesia. Salah satu pencapaian terbaiknya bersama Kabau Sirah adalah meraih trofi juara Piala Galatama pada 1992. Keberhasilan ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain kunci dalam sejarah klub tersebut.
Namun, kesuksesan Masykur Rauf tidak hanya terbatas pada level klub. Namanya juga pernah mencuat dalam panggilan Timnas Indonesia, terutama menghadapi Piala Asia pada 1992. Kehadirannya di level internasional menjadi bukti akan kualitas dan kontribusinya dalam mengangkat prestasi sepak bola Indonesia di kancah Asia.
Dalam kanal YouTube Minangsatu, Masykur berbagi bahwa dia mewarisi minat sepak bola dari ayahnya, Rauf, yang sering bermain untuk Persipangkep, sebuah klub Perserikatan di Kabupaten Pangkep yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Makassar. Meskipun didukung oleh ayahnya, Masykur menghadapi tantangan besar dalam memulai perjalanannya di dunia sepak bola.
Bagi Masykur Rauf, sepak bola bukan sekadar sebuah karier, tetapi juga sebuah perjuangan yang penuh dengan liku-liku dan tantangan. Dalam perjalanan kariernya, dia harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk penentangan dari orang tuanya sendiri. Meski demikian, dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara, Masykur Rauf berhasil membuktikan bahwa mimpinya untuk menjadi seorang pemain sepak bola tidaklah mustahil untuk diwujudkan.
"Ibu saya terang-terangan melarang. Malah, sepatu bola saya pernah digunting oleh beliau. Ibu ingin saya fokus sekolah. Ayah dan Ibu kerap bersitegang karena saya," kenang Masykur.
"Tim kampung saya berlatih pada sore hari. Tetapi, dua jam sebelum latihan, saya sudah di lapangan dan berlatih sendiri," kata Masykur.
Dari kisah perjuangannya, tergambar betapa besar pengaruh orang tua dalam memberikan dukungan dan restu dalam meraih cita-cita. Meskipun awalnya dihadapkan dengan penolakan dan ketidaksetujuan, Masykur Rauf mampu membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, segala hal bisa terwujud.
Pemandu bakat PSM Makassar melihat potensi Masykur sebagai playmaker, namun setelah direkrut oleh Makassar Utama, sebuah klub Galatama dari Kota Daeng, Masykur hanya mencapai tingkat junior.
"Di Makassar Utama saya juga tak lama, karena mendapat tawaran dari Barito Putera yang ingin berkiprah di Galatama," ungkap Masykur.
Masykur tampil gemilang bersama Barito, sehingga dua klub elit Galatama, Niac Mitra dan BPD Jateng, mengajukan tawaran untuk bergabung dengannya menjelang musim 1988.
Niac Mitra meminta pelatih mereka, M. Basri, untuk berkomunikasi langsung dengan Masykur. Sementara itu, manajemen BPD Jateng menunjukkan keinginan yang lebih kuat dengan mengirimkan tiket pesawat kepada Masykur agar segera menuju Semarang.
"Saya memilih BPD Jateng karena di situ ada sejumlah pemain timnas seperti Ricky Yacobi, Inyong Lolumbulan, dan Yunus Muchtar. Tetapi, jodoh saya bukan di BPD, saya malah ke Semen Padang," tutur Masykur.
Perjalanan Masykur Rauf dalam dunia sepak bola juga menjadi cerminan betapa pentingnya determinasi dan kesetiaan terhadap cita-cita. Meskipun banyak godaan dan tawaran dari klub-klub elit, Masykur Rauf memilih untuk setia bersama Semen Padang. Keputusannya ini tidak hanya didasarkan pada faktor karier, tetapi juga nilai-nilai moral dan kekeluargaan yang telah terjalin dalam perjalanan panjangnya bersama klub tersebut.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
