
Pesepak bola Timnas Indonesia Egy Maulana Vikri ( kanan) melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Vietnam pada laga lanjutan grup F babak kualifikasi Piala dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (21/3/2024).
JawaPos.com – Banyak yang mengkritik keputusan pelatih tim nasional (timnas) Indonesia Shin Tae-yong (STY) ketika tidak memanggil Stefano Lilipaly ke skuad Piala Asia awal tahun ini.
Termasuk juga ke dua laga lanjutan kualifikasi Piala Dunia melawan Vietnam.
Padahal, Lilipaly sedang on fire bersama Pesut Etam (julukan Borneo FC). Pemain 34 tahun yang bisa bermain sebagai penyerang dan penyerang sayap itu sudah mencetak 11 gol dari 29 penampilan. Bahkan memuncaki jumlah pencatat umpan gol terbanyak di Liga 1 dengan 17 assist.
Pelatih Borneo FC Pieter Huistra memuji Lilipaly sebagai pemain luar biasa. Sosok penting bagi skuadnya sehingga bisa memuncaki klasemen Liga 1 sampai saat ini. ”Dia mencetak banyak gol dan assist, bermain sangat efektif,” paparnya. ”Itu alasan kenapa saya selalu memainkannya dalam tim,” lanjutnya.
Tapi, Huistra menambahkan, tidak masuknya mantan pemain Bali United itu ke timnas adalah keputusan mutlak dari STY. ”Mungkin sekarang dia (STY) tidak memilih Lilipaly dulu (karena masih banyak pilihan, Red). Semua harus menghormati keputusan itu,” tuturnya.
Dari Borneo, bukan cuma Fano, sapaan akrab Stefano Lilipaly, yang performanya tengah cemerlang dan karena itu layak diberi kesempatan bergabung dengan skuad Garuda. Terens Puhiri juga diakui Huistra bermain di level yang tinggi. ”Dia punya kecepatan dan naluri menyerang yang sangat baik,” pujinya.
Tapi, pelatih asal Belanda itu paham betul bahwa ada perbedaan cara bermain yang membuat Terens tidak jadi pilihan STY. Timnas bermain dengan lima bek. Lebih memilih bek sayap untuk menyerang. ”Mungkin saja sistem yang berbeda itu membuat Terens tidak jadi pilihan,” bebernya.
Ada sejumlah nama lain dari klub-klub lain yang, berdasar performa mereka di Liga 1, juga patut diberi kesempatan di timnas. Persik Kediri, misalnya, setidaknya punya tiga nama yang sedang on fire. Ada gelandang Bayu Otto, bek Al Hamra Hehanusa, dan winger Jeam Kelly Sroyer.
Peran Bayu sebagai gelandang bertahan di lini tengah Persik sangat vital. Dia bisa menjadi penyeimbang permainan saat berkolaborasi dengan dua playmaker asing yang cenderung ofensif: Renan Silva dan Ze Valente.
Pelatih Persik Marcelo Rospide menilai Bayu hanya butuh sedikit konsistensi agar bisa menembus timnas. Sebab, persaingan di skuad Garuda sangat ketat seiring masuknya para pemain keturunan. ”Masih perlu menampilkan permainan yang stabil dan lebih baik lagi,” katanya.
Di Dewa United, pelatih Jan Olde Riekerink juga tidak membantah bahwa Theo Numberi seharusnya bisa berkostum Garuda. Dia mengkritik keputusan STY yang memasukkan banyak pemain keturunan. ”Theo adalah salah satu pemain Indonesia yang paling berkembang. Dia selalu fokus pada hal-hal dasar,” pujinya. (rid/c9/ttg)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
