
Dennis Cirkin. (Istimewa)
JawaPos.com - Nama Dennis Cirkin tengah menjadi sorotan jelang jeda internasional Maret. Bek kiri milik Sunderland AFC tersebut bukan hanya menarik perhatian karena performanya di klub, tetapi juga karena status uniknya di level internasional.
Di usia 22 tahun, Cirkin tercatat memiliki hak membela lima negara sekaligus. Situasi ini bukan hal yang umum, bahkan di era sepak bola modern yang kerap mempertemukan latar belakang multinasional para pemain. Lima negara yang bisa ia pilih adalah Azerbaijan, Turki, Inggris, Irlandia, dan Latvia.
Keterkaitan tersebut datang dari latar belakang keluarganya. Dari garis ayah, Cirkin memiliki darah Azerbaijan dan Turki.
Ia juga pernah menetap di Inggris yang memberinya kewarganegaraan. Selain itu, ia lahir di Irlandia, sementara sang ibu berasal dari Latvia. Kombinasi ini membuatnya memenuhi syarat untuk memperkuat kelima negara tersebut sesuai regulasi FIFA.
Namun, dari berbagai opsi yang ada, Cirkin akhirnya mengambil keputusan penting dalam kariernya. Ia memilih untuk membela Timnas Latvia.
Keputusan ini sekaligus menutup peluangnya untuk memperkuat negara lain di masa depan, mengingat aturan FIFA terkait komitmen pemain di level senior.
Ketertarikan Latvia terhadap Cirkin sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu. Mereka melihat potensi besar dalam diri sang pemain yang memiliki pengalaman di kompetisi Inggris serta latar belakang akademi Tottenham Hotspur.
Dengan kebutuhan memperkuat sektor bek kiri, Cirkin dianggap sebagai tambahan penting bagi skuad.
Debut internasionalnya pun semakin dekat. Ia dijadwalkan bergabung pada agenda FIFA Matchday Maret, di mana Latvia akan menghadapi Gibraltar national football team dalam laga kualifikasi UEFA Nations League.
Momen ini bisa menjadi langkah awal bagi Cirkin untuk membangun karier internasionalnya.
Di level klub, Cirkin sendiri terus berusaha menemukan konsistensi bersama Sunderland.
Meski belum sepenuhnya menjadi pilihan utama, ia tetap dianggap sebagai pemain potensial yang bisa berkembang dalam beberapa musim ke depan.
Keputusan memilih Latvia bisa jadi bukan hanya soal peluang bermain, tetapi juga tentang identitas dan kedekatan personal.
