
Barcelona meraih kemenangan 3-1 atas Elche, namun harus membayar mahal setelah dua pemain inti mengalami masalah fisik dan masuk ruang perawatan. (Instagram/@raphinha)
JawaPos.com–Ketika Barcelona pertama kali mendatangkan Raphinha dari Leeds, tak sedikit fans yang mengernyitkan dahi. Ya, dia memang bersinar di Premier League, tapi Leeds jelas bukan Barcelona.
Ekspektasi di Camp Nou beda level. Bermain di sana, pemain bukan cuma dituntut bagus, tapi harus luar biasa.
Di era Xavi, Raphinha kerap jadi korban menit 60. Sering diganti lebih awal, seolah belum benar-benar mendapat kepercayaan penuh. Bahkan sempat muncul kabar dia hampir hengkang. Pada fase itu, banyak yang bertanya apakah dia memang cocok untuk Barcelona?
Lalu datanglah Hansi Flick. Dan cerita pun berubah.
Di bawah pelatih asal Jerman itu, Raphinha seperti bereinkarnasi. Bukan cuma lebih dipercaya, tapi juga jadi elemen vital dalam sistem permainan. Perbedaannya terasa jelas, ibarat melihat dua versi pemain yang berbeda dalam satu tubuh yang sama.
Melansir Barca Blaugranes, statistik berbicara lantang. Saat Raphinha bermain, Barcelona memenangkan 91 persen pertandingan mereka. Ketika dia absen, angka itu turun drastis menjadi 60 persen.
Lebih mencolok lagi, lima dari enam kekalahan Barca di musim 2025/26 terjadi saat sang winger tidak bisa dimainkan. Memang benar, sepak bola adalah permainan kolektif. Satu pemain tak bisa mengangkat tim sendirian. Tapi dampak Raphinha terlalu signifikan untuk diabaikan.
Energi tanpa henti, pressing agresif, dan keberanian menantang bek lawan menjadi identitas baru Barcelona di bawah Flick. Jika lini pertahanan pertama adalah serangan, maka Raphinha adalah simbolnya. Dia bukan cuma menyerang, tapi juga memulai tekanan sejak garis depan.
Marcus Rashford juga memberi kontribusi penting lewat pergerakan dan fleksibilitasnya. Sementara di sisi lain, Lamine Yamal menawarkan ancaman berbeda, lebih eksplosif dan kreatif.
Namun kombinasi tanpa Raphinha sering kali membuat serangan Barca terasa kurang tajam dan lebih mudah ditebak. Yang membuatnya makin spesial, Raphinha tak hanya berkontribusi lewat performa teknis.
Dalam dua musim terakhir, dia juga beberapa kali mengenakan ban kapten. Sebuah sinyal bahwa perannya di ruang ganti sama pentingnya dengan di lapangan.
Musim lalu, dia menjadi bagian vital dalam perjalanan Barca meraih gelar liga dan melangkah jauh di Liga Champions. Musim ini, performanya tetap konsisten bahkan meningkat.
Dengan Piala Dunia yang semakin dekat, Raphinha sebenarnya tak perlu membuktikan apa-apa lagi. Namun tampil dalam performa terbaik jelas mempertegas statusnya, baik di level klub maupun internasional.
Jadi, apakah Raphinha adalah jimat kemenangan Barcelona? Melihat angka, energi, dan dampaknya terhadap ritme permainan, sulit untuk menyangkal. Barca mungkin tetap tim besar tanpa satu pemain. Tapi dengan Raphinha di lapangan, mereka jelas terlihat jauh lebih hidup.
