
Xabi Alonso.
JawaPos.com - Tekanan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Real Madrid. Setiap hasil imbang bisa terasa seperti kekalahan, dan satu performa buruk saja cukup untuk memicu diskusi panjang soal masa depan pelatih.
Kini, giliran Xabi Alonso yang merasakan tekanan itu. Pertanyaan klasik pun kembali muncul: apakah dia sosok yang tepat untuk memimpin Real Madrid dalam jangka panjang?
Namun, memecat Alonso pada fase ini justru berpotensi menjadi keputusan yang tergesa-gesa dan berisiko tinggi. Meski suara-suara ketidakpuasan mulai terdengar, ada alasan kuat mengapa manajemen seharusnya menahan diri.
Melansir Madrid Universal, berikut tiga alasan utama mengapa Real Madrid sebaiknya tidak memecat Xabi Alonso sekarang.
1. Tidak ada pengganti yang siap tersedia
Masalah paling mendasar adalah minimnya alternatif yang benar-benar meyakinkan. Real Madrid bukan klub yang bisa sembarangan menunjuk pelatih baru di tengah musim yang penuh tuntutan dan ekspektasi.
Alvaro Arbeloa memang sosok yang sangat dihormati di internal klub dan menunjukkan pekerjaan menjanjikan di level junior. Namun, memintanya langsung menangani tim utama akan menjadi lompatan besar.
Pengalaman mengelola skuad bertabur bintang dunia sambil bersaing di berbagai kompetisi jelas bukan tantangan kecil.
Opsi dari luar klub pun tak kalah rumit. Tidak ada pelatih elite yang tersedia secara bebas dan benar-benar cocok dengan profil Real Madrid. Zinedine Zidane, nama yang selalu muncul dalam situasi seperti ini, bukanlah pilihan.
Fokusnya tetap pada rencana mengambil alih tim nasional Prancis setelah Piala Dunia, tanpa indikasi ingin kembali ke sepak bola klub dalam waktu dekat. Melakukan pergantian tanpa peningkatan yang jelas hanya akan menambah ketidakstabilan.
2. Membutuhkan pengaturan ulang taktik secara total
Kebijakan transfer Real Madrid belakangan ini dibuat dengan mempertimbangkan ide dan filosofi Xabi Alonso. Pemain seperti Alvaro Carreras dan Trent Alexander-Arnold direkrut atau dipertahankan karena sesuai dengan gaya bermain, tuntutan taktik, dan visi jangka panjang sang pelatih.
Meski hasilnya belum selalu instan, ada tanda-tanda bahwa tim perlahan mulai menyatu dengan gagasan yang sama. Mengganti pelatih sekarang berarti membuang proses yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Pelatih baru hampir pasti membawa pendekatan berbeda baik dari segi peran pemain, struktur tim, hingga prioritas transfer. Hal ini bukan hanya berisiko menghapus progres yang ada, tetapi juga mengirim sinyal yang kurang sehat ke ruang ganti.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022