Christian Chivu. (Instagram @inter)
JawaPos.com - Penunjukan Christian Chivu sebagai pelatih Inter Milan awalnya disambut dengan keraguan karena minim pengalamannya. Masalahnya, Chivu hanya melatih Parma selama setengah musim.
Sisi berbeda, manajemen klub melihat potensi dalam diri Chivu, dengan menyoroti mentalitas kemenangannya saat masih menjadi pemain. Dirinya berhasil memenangkan treble bersama Inter pada 2010.
Chivu secara bertahap mulai mengubah formasi tim dari 3-5-2 menjadi 3-4-2-1, terbukti sukses dalam pertandingan pramusim. Keberhasilan tim berlanjut ke musim Serie A dengan kemenangan telak 5-0 atas Torino.
"Tim ini memulai musim baru dengan persiapan yang singkat namun baik, dan mereka menampilkan performa terbaik mereka, terutama dari sisi mental dan saya sangat senang akan hal itu," ujar Chivu.
Chivu juga memuji beberapa pemainnya, seperti Piotr Zielinski atas penampilannya yang hebat, kualitas, dan kepribadiannya. Dia juga memuji Ange-Yoan Bony yang berhasil mencetak gol di debutnya. Diouf dan Luis Enrique, pemain muda yang perlahan-lahan diintegrasikan ke dalam tim.
Pemain-pemain kunci menunjukkan adaptasi cepat terhadap sistem baru. Nicolo Barella tampil cemerlang sebagai gelandang penghubung, mencatat akurasi operan 91% dan menyumbang satu assist serta dua key pass.
Wing-back seperti Denzel Dumfries dan Federico Di Marco juga sangat vital dalam serangan, dengan Dumfries sukses melewati lawan dan Di Marco mendistribusikan bola secara efektif dari sisi kiri.
Di bawah asuhan Chivu, para penyerang Inter menunjukkan peningkatan performa luar biasa. Marcus Thuram dinobatkan sebagai man of the match saat melawan Torino, mencetak dua gol dari sudut sulit dan memenangkan delapan duel.
Lautaro Martinez bermain sangat baik, menyumbang satu gol dan satu assist yang lahir dari kerja kerasnya menekan pertahanan lawan. Bahkan, pemain bertahan seperti Alessandro Bastoni turut menyumbang gol dari tendangan sudut.
Chivu mempertahankan formasi 3-5-2 di awal untuk membantu pemain beradaptasi. Dirinya juga menerapkan gaya bermain jauh lebih agresif. Sistem taktiknya mencakup high pressing, di mana para penyerang dan lima gelandang maju ke depan untuk menekan lawan, memaksa mereka kehilangan bola.
Chivu juga mempertahankan beberapa elemen taktik dari sistem sebelumnya, seperti membiarkan Alessandro Bastoni maju dengan bola, dan memberikan peran lebih agresif kepada Nicolo Barella di sistem baru.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
