Desire Doue melakukan selebrasi dengan berfoto bersama trofi Champions 2024/2025 di Allianz Arena, Munchen, Minggu (1/6) (dok. UEFA Champions League)
JawaPos.com - Malam di Wembley berubah menjadi panggung sejarah bagi Paris Saint-Germain. Setelah bertahun-tahun mengejar impian yang nyaris selalu kandas di ujung, Les Parisiens akhirnya mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Tak tanggung-tanggung, mereka membantai Inter Milan lima gol tanpa balas, Sabtu (31/5) waktu setempat.
Desire Doue menjadi bintang baru Eropa. Gelandang berusia 19 tahun itu mencetak dua gol dalam laga tersebut, mempertegas dominasi generasi muda PSG yang bermain penuh energi dan determinasi. Satu dekade era Galacticos ala PSG—yang dihiasi nama-nama besar seperti Messi, Neymar, dan Mbappé—telah resmi berakhir. Ini era baru. Ini era anak muda Paris.
Tangan dingin Luis Enrique jadi kunci keberhasilan PSG musim ini. Bukan hanya karena strategi jitu di final, tapi karena ia berani mengambil keputusan besar: membuang ego bintang, membangun tim dari dasar, dan mempercayakan panggung utama kepada pemain muda penuh ambisi.
Perjalanan PSG menuju final sebenarnya jauh dari kata mulus. Mereka hanya finis di posisi ke-15 dalam fase liga format baru Liga Champions dengan 13 poin—nyaris tak lolos. Mereka harus menghadapi Brest dalam playoff dua leg, yang untungnya bisa mereka lewati dengan agregat 10-0. Tapi tantangan sesungguhnya datang di babak 16 besar: Liverpool.
PSG sempat tertinggal 0-1 di leg pertama di Paris. Tapi mereka membalikkan keadaan di Anfield dan menang lewat adu penalti. Dari situlah kepercayaan diri mereka mulai tumbuh. Di perempat final, mereka menyingkirkan Aston Villa lewat drama agregat 5-4. Lalu, di semifinal, mereka menghadapi Arsenal dan kembali menunjukkan mental baja. Gol cepat Ousmane Dembélé di leg pertama jadi penentu, sebelum mereka mengunci tiket final dengan kemenangan 2-1 di leg kedua.
Final melawan Inter menjadi pertunjukan satu arah. PSG tampil tanpa ampun sejak menit awal. Achraf Hakimi membuka skor, lalu Doue menggandakan keunggulan sebelum jeda. Di babak kedua, PSG tak mengendur. Gol ketiga kembali lahir dari Doue, lalu disusul Khvicha Kvaratskhelia dan youngster Senny Mayulu.
Yang mencolok dari kemenangan ini bukan sekadar skor telak, tapi cara mereka mencapainya. PSG tampil agresif, menekan lawan tanpa henti. Tidak ada ruang untuk Inter mengembangkan permainan. Bahkan pemain sayap seperti Dembélé dan Kvaratskhelia rajin turun membantu bertahan. Sebuah bukti bahwa Luis Enrique berhasil membangun tim yang solid di dua sisi permainan—baik saat menguasai bola maupun saat kehilangannya.
Strategi Enrique berbeda dari kebanyakan pelatih elite Eropa saat ini. Saat Pep Guardiola dan Mikel Arteta mulai menempatkan bek sayap yang bermain konservatif atau bahkan seperti bek tengah, Enrique justru memaksimalkan kekuatan menyerang dari Hakimi dan Nuno Mendes. Hakimi bahkan mencetak gol pembuka di laga final, masuk menusuk dari sisi kanan dan menyelesaikan peluang seperti penyerang sejati.
Satu hal yang patut disorot: rata-rata usia skuad PSG sangat muda. Marquinhos adalah satu-satunya starter di atas 30 tahun. Sisanya? Penuh darah muda: Joao Neves (20), Willian Pacho (23), Desire Doue (19), Bradley Barcola (22), Warren Zaire-Emery (19), hingga Senny Mayulu (19). Bukan hanya berpotensi besar, mereka juga menunjukkan bahwa pengalaman bukanlah segalanya jika dikombinasikan dengan semangat dan strategi yang tepat.
Kemenangan telak ini tentu akan mengubah peta persaingan Eropa musim depan. Bukan hanya soal PSG yang akhirnya pecah telur, tapi juga sinyal kuat bahwa generasi baru Les Parisiens siap mendominasi.
Real Madrid mungkin tetap favorit abadi di Liga Champions, apalagi kini dipimpin pelatih baru Xabi Alonso. Barcelona punya Lamine Yamal, yang dijuluki "Messi baru". Liverpool pun sempat merepotkan PSG dan tampaknya akan belanja besar musim panas ini. Tapi kini, PSG telah naik level. Mereka bukan lagi tim bintang mahal yang mudah rapuh. Mereka adalah mesin muda yang solid dan lapar gelar.
Bagi PSG, ini bukan akhir perjalanan. Ini justru awal dari era baru. Trofi Liga Champions 2025 bukan hanya bukti keberhasilan, tapi juga pernyataan kepada dunia: proyek jangka panjang, kesabaran, dan kepercayaan pada talenta muda bisa mengalahkan nama besar. Dan kini, Eropa wajib waspada—raja baru telah lahir.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
