Keputusan wasit selalu dipertanyakan dalam sepak bola modern. (Barca Notes/X)
JawaPos.com - Saat ini, dunia sepak bola sudah berjalan dengan menggunakan berbagai teknologi yang saling terhubung untuk membantu seorang pengadil di lapangan atau wasit memberikan keputusan yang tepat. Sejatinya, teknologi ada untuk mengurangi kontroversi wasit, namun nyatanya semakin menambah kontroversi di lapangan hijau.
Teknologi seperti Video Assistant Referee atau VAR dan juga goal line technology saat ini sudah digunakan di berbagai macam liga di dunia, termasuk di BRI Liga 1 Indonesia. VAR membantu kinerja wasit dalam menentukan garis offside seorang pemain ketika sudah berada di belakang pemain terakhir daerah pertahanan lawan.
Lebih canggihnya lagi, teknologi VAR mampu membuat wasit melihat keputusan secara lebih detail dalam pertandingan karena memiliki layar tersendiri untuk melihat replay atau reka kejadian antar pemain. Biasanya keputusan wasit di ruang kontrol akan sama dengan keputusan wasit yang ada di lapangan.
Namun, nyatanya di pertandingan Liga Premier Inggris atau bahkan La Liga Spanyol, keputusan wasit di lapangan dan di ruang kontrol VAR menjadi perdebatan. Pasalnya, keputusan wasit merupakan hal yang subjektif merupakan dalam mengambil keputusan, wasit akan berpacu pada regulasi masing-masing liga.
Keputusan offside, kartu merah, kontak di kotak penalti misalnya, hal-hal tersebut masih menjadi kontroversi di hari-hari ini. Contohnya saja kepemimpinan wasit Michael Oliver yang terlihat merugikan Arsenal. Dalam sebuah laga antara Arsenal dan Manchester City, Oliver tidak memberikan kartu kuning kedua kepada Mateo Kovacic setelah melanggar Declan Rice.
Dalam tayangan ulang, jelas bahwa keputusan Kovacic melakukan pelanggaran tidak diperlukan dan sepatutnya diberikan kartu kuning kedua. Kemudian, ada lagi yang merugikan kedua tim di pertandingan yang sama. Wasit kala itu memberikan kartu kuning kepada Takehiro Tomiyasu terhadap sebuah pelanggaran palsu atas Jordan Ayew.
Di pertandingan yang sama, wasit tersebut juga tidak memberikan keputusan penaltii kepada Crystal Palace padahal ada kontak jelas yang melibatkan antara Thomas Partey dan Eberechi Eze. Keputusan mengenai hand-ball di kotak penalti juga sering mengalami kontroversi dan perdebatan panjang.
Hal ini dikarenakan peraturan di Liga Premier Inggris yang menganggap bahwa jika bola datang ke arah tangan tidak akan dianggap hand-ball, namun jika tangan yang datang atau menghalangi lajur bola, maka akan dianggap hand-ball. Hal ini menjadi rancu, karena keputusan wasit yang datang di lapangan menjadi berbeda.
Keputusan ini pernah menimpa Manchester United yang berlaga ketika melawan Crystal Palace dan Totenham Hotspur di awal musim 2023/2024. Tendangan Alejandro Garnacho mengenai kepalan tangan Cristian Romero dan mengubah arah bola, namun wasit tidak menganggap hal tersebut hand-ball di kotak penalti.
Sementara di laga lainnya, ketika bek tengah Manchester United, Mathijs de Ligt juga melakukan hal yang sama di kotak penalti dengan tangan yang tak aktif menghalau lajur bola, dianggap pelanggaran dan menghasilkan penalti bagi lawan. Saat ini komite wasit Liga Premier Inggris atau PGMOL melarang wasit dari sebuah daerah memimpin laga tim yang sama dari daerah tersebut.
Tidak hanya di Liga Premier Inggris, wasit dari LaLiga Spanyol juga memiliki kontroversi yang tidak kalah membuat pecinta sepak bola menjadi gigit jari akibat pengaruhnya di sebuah laga. Termasuk skandal yang saat ini masih mengalami penyidikan antara FC Barcelona yang membayar Jose Mara Enriquez Negreira sejak tahun 2001 sampai 2018.
Kasus ini sempat mencuat ke permukaan setelah Joan Laporta menerima laporan tersebut dan menyangkal bahwa pembayaran kepada Jose Negreira hanya sebagai bentuk konsultasi mengenai penanganan teknis perwasitan di La Liga tanpa melakukan hal ilegal di dalamnya.
Tidak hanya itu, Atletico Madrid baru-baru ini juga melakukan penuntutan kepada kinerja wasit yang tidak sesuai dengan protokol yang berlaku di La Liga Spanyol. Cesar Soto Grado yang berperan sebagai wasit di tengah lapangan dan De Burgos Bengoetxea berlaku sebagai wasit VAR dianggap tidak adil kepada Atletico Madrid.
Hal ini dikemukakan oleh akun Atletico Madrid, bahwa mereka akan mengajukan banding dan pertanyaan mengenai keputusan Cesar Soto Grado. Grado seharusnya mengambil keputusan kartu merah kepada Dani Ceballos atas pelanggarannya terhadap Pablo Barrios. Selain itu juga atas ucapan tidak sopan Jude Bellingham kepada wasit.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
