
ANDREAS SOLARO/AFP LUCIANO SPALLETTI
JawaPos.com – Selama beberapa dekade, Luciano Spalletti adalah salah satu pecundang yang tidak beruntung dalam sepak bola Italia. Dia sempat ditakdirkan selalu gagal walau di ambang kejayaan sebelumnya.
Semua orang ingat konferensi pers Jose Mourinho saat melatih Inter Milan. Pelatih yang kini bertanggung jawab di AS Roma itu mengoceh dalam campuran bahasa Portugal dan Italia tentang capaian pelatih terdahulu Inter, Claudio Ranieri dan Luciano Spalletti, tentang torehan trofi.
Beberapa tahun kemudian, Ranieri memenangkan Liga Premier paling luar biasa dalam sejarah bersama Leicester City. Sementara Spalletti akhirnya mendapatkan momennya di bawah sinar matahari pada 2023. Torehan Spalletti memang membutuhkan waktu lebih lama, tapi Spalletti diyakini bisa tersenyum setelah membawa Napoli meraih Scudetto musim ini.
Pria berusia 64 tahun dari Certaldo bukanlah pecundang, mengingat dia memenangkan dua gelar liga di Rusia bersama Zenit St Petersburg, dengan Supercoppa Italiana dan dua trofi Coppa Italia dengan Roma. Tetapi, kariernya telah menjadi salah satu pukulan di atas bobotnya, karena dia tidak pernah berhasil mencapai puncak sebelumnya.
Spalletti sempat membawa Udinese mendapatkan kualifikasi Liga Champions pertama mereka. Dia dua kali dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Serie A pada 2006 dan 2007 saat melatih Roma yang menggairahkan semua orang dengan sepak bola gemilang dan mempersulit Inter pasca-Calciopoli Mourinho.
Mereka juga mampu melakukan keruntuhan yang luar biasa, meraba-raba keunggulan tiga gol dengan Inter di Supercoppa Italiana dan terkenal kalah 7-1 dari Manchester United di Liga Champions.
Tema yang sedang berjalan dalam pengalaman Serie A terbaru Spalletti menjadi awal fantastis, walau mereda begitu bunga musim semi mulai bermekaran.
Inter asuhan Spalletti tidak terkalahkan dan berada di puncak klasemen pada Desember 2017, meski akhirnya finis di tempat keempat dalam pertarungan melawan Lazio. Musim berikutnya, Nerazzurri berada di urutan ketiga dan lagi-lagi membutuhkan hingga menit terakhir untuk mengunci tempat di Liga Champions. Meski mencapai apa yang diminta, Spalletti tetap dipecat.
Jeda dua tahun menyusul, Spalletti menjilat lukanya dan bertanya-tanya mengapa dia memiliki reputasi sebagai pecundang ketika dia biasanya mencapai target yang diharapkan.
Sementara itu, Napoli memiliki pengalaman seperti bayangan cermin, jarang dianggap favorit saat musim dimulai. Namun, mereka menikmati lonjakan yang menempatkan mereka di posisi terdepan hanya untuk akhirnya hancur dan merasa hancur.
Maurizio Sarri adalah contoh utamanya, memainkan sepak bola terbaik di Eropa, namun secara mental terlalu lemah untuk menghadapi kemunduran. Carlo Ancelotti dan Gennaro Gattuso melanjutkan tema tersebut, tapi gagal mengendalikan skuad yang penuh dengan ego yang berapi-api, apalagi berurusan dengan Presiden Aurelio de Laurentiis yang melayang di atas mereka seperti awan gelap.
Jujur saja, tidak ada yang berharap banyak untuk penyatuan antara Spalletti dan Napoli. Mereka tampak terlalu mirip, semua gaya dan tidak ada substansi, pasti akan jatuh ketika sampai pada krisis. Sama seperti negatif ditambah negatif menjadi positif, mungkin inilah persamaan matematis yang membawa Partenopei meraih kemenangan setelah absen selama 33 tahun.
Itu adalah rutinitas yang biasa di musim pertama, ingatlah memenangkan delapan pertandingan pembukaan Serie A dan mengalami kemerosotan musim semi yang biasa untuk akhirnya finis di tempat ketiga. Napoli tua yang sama. Spalletti tua yang sama.
Sangat sedikit yang mengharapkan sesuatu yang baik mulai musim 2022-23, terutama dengan De Laurentiis memotong tagihan gaji, menjual favorit penggemar seperti Lorenzo Insigne, Kalidou Koulibaly, dan Dries Mertens untuk mendatangkan pemain yang relatif tidak dikenal. Bahkan, ketika mereka memiliki awal musim yang sensasional saat mengalahkan Liverpool dan Ajax di Liga Champions, asumsi umum adalah momen ini menjadi janji awal yang bisa lenyap di akhir musim.
Namun, jeda panjang karena Piala Dunia 2022 di Qatar cukup mengguncang jadwal pertandingan. Pelatih dan tim menjadi sangat sadar akan kesalahan mereka, sehingga mereka mulai mengenali pola kesalahan tersebut dan melakukan sesuatu untuk menghentikan kesalahan tersebut.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
