Wakil Norwegia, Bodo/Glimt, memastikan langkah ke babak 16 besar usai menyingkirkan Inter Milan dengan agregat telak 5-2. (Istimewa)
JawaPos.com - Bodo/Glimt benar-benar menulis dongeng mereka sendiri musim ini. Status sebagai tim kejutan tidak membuat mereka gentar, bahkan ketika harus berhadapan dengan finalis Liga Champions musim lalu, Inter Milan.
Hasilnya? Wakil Norwegia itu tampil luar biasa dan memastikan langkah ke babak berikutnya dengan agregat meyakinkan 5-2.
Setelah menang 3-1 di leg pertama di Norwegia, pasukan Kjetil Knutsen datang ke San Siro tanpa rasa inferior. Alih-alih bermain aman, mereka justru kembali menang 2-1. Stadion legendaris itu menjadi saksi bagaimana tim yang dianggap “underdog” tampil penuh percaya diri dan disiplin.
Melansir Liverpool.com, menariknya, kesuksesan Bodo/Glimt bukan datang begitu saja. Knutsen secara terbuka mengakui bahwa fondasi permainan timnya banyak terinspirasi dari era kejayaan Liverpool di bawah Jurgen Klopp.
“Ini adalah jalan yang telah kami pilih, dan ini tentang banyak hal,” kata Knutsen.
Di sisi lain, kisah Inter terasa kontras. Dari finalis musim lalu, kini mereka bahkan gagal melangkah jauh. Perjalanan mereka musim ini terganggu sejak fase liga, di mana satu momen krusial menjadi titik balik.
Gelandang Inter, Nicolo Barella, tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya usai kekalahan dari Bodo/Glimt. Ia menyoroti penalti kontroversial saat melawan Liverpool pada bulan Desember sebagai momen yang merugikan timnya.
Penalti itu berbuah gol kemenangan bagi Liverpool dan membuat Inter gagal finis di delapan besar dengan selisih satu poin.
"Kami sudah berusaha, tetapi mereka (Bodo/Glimt) lebih baik," kata Barella. "Sangat menjengkelkan bahwa kami tersingkir dari fase liga hanya dengan selisih satu poin karena mereka memberikan penalti yang direkayasa pada menit ke-90 [melawan Liverpool], dan dengan itu, kami tidak masuk delapan besar."
"Tanpa itu, kami akan menghindari dua pertandingan tambahan dan perjalanan ke Norwegia, tetapi itulah Liga Champions yang baru."
Ucapan Barella mungkin mencerminkan rasa penyesalan, tetapi fakta di lapangan tetap jelas: Bodo/Glimt tampil lebih efektif dan lebih siap secara mental dalam dua leg penentuan. Mereka bukan sekadar tim kejutan, melainkan tim dengan identitas yang kuat dan filosofi yang jelas.
Kini, Eropa mulai melirik serius klub asal Norwegia tersebut. Jika sebelumnya mereka hanya dianggap penggembira, sekarang mereka sudah membuktikan diri mampu menumbangkan raksasa. Dan siapa sangka, di balik cerita sukses itu, ada sedikit sentuhan filosofi dari Juergen Klopp.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
