Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Februari 2025 | 17.58 WIB

Kontroversi Piala FA: Manchester United dan City Melaju, VAR Jadi Sorotan!

Wasit melihat layar VAR. (Skysports) - Image

Wasit melihat layar VAR. (Skysports)

JawaPos.com - Ronde keempat Piala FA sudah bergulir dan menghasilkan banyak sekali kejutan. Manchester United dan Manchester City berhasil melaju mulus ke ronde berikutnya. Sementara, klub-klub raksasa Premier League seperti Liverpool dan Chelsea harus menerima kenyataan pahit untuk gagal berkontribusi lebih di kompetisi tertua dunia sepak bola.

Beberapa keputusan kontroversial terjadi di ronde keempat dan sayangnya hal tersebut bersumber dari ketiadaan teknologi VAR dan garis gawang di seluruh pertandingan ronde keempat.

Dikutip dari Skysport, beberapa pertandingan menghasilkan keputusan-keputusan kontroversial seperti yang terjadi pada pertandingan antara Manchester United melawan Leicester City, Manchester City bertemu Leyton Orient, dan Birmingham City melawan Newcastle United. FA sebagai induk organisasi sepak bola di Inggris memberikan petunjuk bahwa penggunaan teknologi VAR dan garis gawang baru akan dipakai pada ronde kelima mendatang.

Kontroversial yang terjadi pada ronde keempat tercipta pada gol kemenangan sekaligus penentu lolosnya Manchester United ke ronde kelima. Gol dari Harry Maguire di penghujung laga disinyalir merupakan gol yang seharusnya dinyatakan tidak sah lantaran posisi sang pemain berada pada posisi off-side. Duka yang semakin nyata lantaran sang pemain merupakan mantan pemain sekaligus kapten tim Leicester City pada tahun 2017-2019.

Kontroversi lainnya juga terjadi ketika para penggemar Birmingham meyakini bahwa gol dari Newcastle United belum sepenuhnya melewati garis gawang. Sayangnya, hal tersebut tidak digubris oleh pihak wasit lantaran mereka tidak bisa dibantu dengan teknologi garis gawang sehingga memupuskan harapan Birmingham untuk bisa terus bersaing di ajang Piala FA.

Rupanya, teknologi pendukung seperti VAR dan garis gawang masih jadi kebutuhan dalam membantu wasit mengambil keputusan-keputusan di lapangan.

Pelatih Leicester City yang juga mantan pelatih sementara MU, Ruud van Nistelrooy bahkan berkomentar keras dengan menyebut bahwa tim yang diasuhnya tidak pantas kalah sepanjang pertandingan. Menurutnya, timnya tidak kalah oleh "Fergie Time" tapi kalah oleh "Offside Time". Pelatih The Red Devils, Ruben Amorim, bahkan juga mengamini bahwa gol penentu kemenangan The Red Devils juga seharusnya tidak disahkan.

"Saya pun juga sepakat bahwa itu (gol Maguire) tidak sah. Dengan VAR jelas sekali bahwa itu seharusnya tidak terjadi. Tetapi saya rasa ini sudah terjadi dan pertandingan sangat adil" ujar Ruben Amorim selepas pertandingan.

Chelsea pun juga mengalami kemalangan serupa dengan Leicester City ketika gol terakhir dari Brighton & Hove Albion seharusnya terjadi handball. Gol yang dicetak oleh penyerang sayap timnas Jepang, Kaoru Mitoma, tertangkap kamera mengenai tangan dari bek sayap Brighton, Tariq Lamptey.

Bola liar tersebut sampai di kaki Mitoma dan menggetarkan jala gawang Chelsea dan menyebabkan The Blues harus tersingkir. Pelatih Enzo Maresca pun juga mengungkapkan kekecewaannya atas proses gol tersebut.

"Saya kira itu terjadi handball sebelum gol. Kita bisa mengalami situasi berbeda dalam setiap pertandingan yang dijalani. Tetapi dengan ketiadaan VAR, semua jadi terasa menyakitkan" beber mantan pelatih Leicester City itu atas kekalahan anak asuhnya.

Hal ini jadi mengingatkan kembali kepada seluruh publik pecinta sepak bola tentang bagaimana pertandingan berjalan sebelum hadirnya teknologi pendukung seperti VAR dan garis gawang. Beberapa momen kontroversial nyatanya sukses meninggalkan luka mendalam bagi tim yang dirugikan dan berujung pada performa tim yang menurun. Kehadiran VAR dan teknologi garis gawang sedikit membantu walaupun dalam beberapa kasus masih ditemui sejumlah kesalahan.

Premier League sendiri menyebutkan bahwa musim ini kesalahan dalam pertandingan dengan hadirnya VAR masih terjadi. Walaupun angkanya sedikit berkurang dibanding musim lalu. Musim ini, terjadi 70 intervensi VAR dengan terjadi 13 kesalahan dibanding dengan 61 intervensi VAR dengan 20 kesalahan. Pengoperasian VAR dengan bantuan wasit di ruang kontrol memang sedikit membantu pertandingan berjalan baik walau masih terjadi kesalahan akibat dari kontrol manusia.

Kehadiran teknologi nyatanya tidak bisa dipungkiri masih jadi kebutuhan penting di sepak bola modern saat ini. Beberapa keputusan yang dibuat nyatanya masih belum cukup sebelum adanya pengecekan lebih lanjut menggunakan teknologi pendukung tersebut. Sepak bola jelas berkembang lebih baik dan perkembangan sepak bola modern kini mendapat bantuan dari teknologi-teknologi agar pertandingan sepak bola berjalan adil dan tanpa kecurangan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore