
Kolaborasi Atien Kisam dengan Jakarta Ballet Dancers berjudul The Blood Brothers dan kolaborasi Andrew Peter Greenwood bersama para murid SMKN 57 berjudul The Miracle of Eight dalam Telisik Tari yang diselenggarakan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, Jum
JawaPos.com – Telisik Tari yang diselenggarakan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta menjadi arena pertemuan antara seni barat dan timur di Jakarta tanpa harus melepas identitasnya masing-masing. Program yang berlangsung di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki ini mengangkat tema besar berjudul Ballet in Batavia. Selain pertunjukan, Telisik Tari juga dilengkapi dengan pentas ceramah atau lecture performance dan pementasan hasil proses bersama antara murid-murid SMKN 57 dengan Andrew Peter Greenwood.
’’Telisik Tari diharapkan mampu membuka interaksi yang lebih luas melewati batasan-batasan budaya di sekitar kita,’’ kata Yola Yulfianti, Ketua Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Menurutnya, interaksi antar-budaya lewat bentuk-bentuk kesenian semacam ini pada akhirnya dapat membuka kesadaran tentang pentingnya keberagaman. Pada Telisik Tari kali ini, fokus utama bentuk kesenian yang dipertemukan adalah balet dan tari khas Betawi.
Pada prosesnya, Telisik Tari menyuguhkan bentuk-bentuk kerja kolaborasi dari para seniman yang dekat dengan balet dan tari Betawi. Kolaborasi itu dilakukan oleh koreografer dan penari dari Inggris, Andrew Peter Greenwood, dengan para murid SMKN 57 yang terlatih memainkan tari-tarian Betawi. Lalu, Atien Kisam yang besar dalam tradisi seni tari Betawi berkolaborasi dengan Jakarta Ballet Dancers.
’’Program semacam ini bisa menjadi cara untuk mengenalkan dan merawat bentuk-bentuk kesenian Betawi kepada anak muda dan kalangan yang lebih luas,’’ kata Atien Kisam. Kolaborasi Atien dengan Jakarta Ballet Dancers diberi judul The Blood Brothers, sedangkan hasil kolaborasi Andrew dan para murid SMKN 57 diberi judul The Miracle of Eight. Hasil aksi reaksi dalam dua kerja kolaborasi itu dipresentasikan bersama pentas ceramah yang disampaikan oleh Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto.
Photo
Kolaborasi Atien Kisam dengan Jakarta Ballet Dancers dan Andrew Peter Greenwood bersama para murid SMKN 57 dalam Telisik Tari yang diselenggarakan Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, Jumat (6/12) malam di Graha Bakti Budaya, TIM. (Eva Tobing/DKJ for Jawa Pos)
Selain pementasan tari dan ceramah pertunjukan, Telisik Tari juga dilengkapi dengan diskusi bertema Mengapa Ada Balet di Indonesia. Diskusi ini menghadirkan Julianti Parani sebagai pembicara kunci. Bersamanya hadir Sonya Indriati Sondakh, Bambang Bujono, dan Ardianti Permata Ayu menjadi pembicara diskusi yang membahas bagaimana balet hadir di Indonesia hingga pengaruhnya pada kancah seni tari negeri ini.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

5 Pekerjaan Terbaik untuk Introvert, Pilihan Karir yang Sesuai dengan Kelebihan Diri
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Perkuat Kerja Sama Intelijen Hadapi Ancaman Terorisme, Indonesia Pimpin CTIF Council
Bill Gates Puji AI Meta Milik Zuckerberg, Muse Dinilai Mampu Mengubah Cara Orang Bekerja
KPK: Kerugian Negara dalam Kasus Bea Cukai yang Terkait PT Djarum Capai Triliunan
Prediksi Skor Everton vs Newcastle United: Tuan Rumah Tertekan, The Magpies Bidik Kemenangan
Prediksi Skor RANS Nusantara FC vs Kendal Tornado FC, Duel Ketat Tim Papan Atas Championship
Prediksi Skor Adelaide United vs Lion City Sailors: Duel Perebutan Posisi Puncak Grup F ACL Two
Prediksi Frosinone vs Lecce di Serie A: Ancaman Raimondo dan Masalah Pertahanan Tim Tamu
Prediksi Skor Frosinone vs Lecce: Canarini Bidik 4 Kemenangan Kandang Beruntun

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022