Selasa, 21 Nov 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Politik

Fraksi PAN Tak Terima Amien Rais Disebut Pengkhianat Bangsa

| editor : 

Amien Rais

Amien Rais (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Pernyataan Wakil Presiden Keenam Try Sutrisno tentang Amien Rais mengundang reaksi keras Fraksi PAN di MPR. Mereka menyesalkan pernyataan Try terkait kiprah politik Amien dalam amandemen UUD 1945 itu.

"Sebagai tokoh nasional, tidak sepantasnya Try Sutrisno menyampaikan hal itu di ruang publik. Apalagi, pernyataan itu tidak jelas arah dan esensinya," tegas Sekretaris Fraksi PAN di MPR Saleh Partaonan Daulay dalam pesan singkatnya kepada JawaPos.com, Minggu (24/9).

Sebagai mantan wakil presiden, kata dia, harusnya Try tahu persis apa yang terjadi pada kisaran 1998-1999. Reformasi itu adalah keharusan dan tuntutan semua orang. Termasuk salah satu amanat reformasi adalah melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

Karena bagian dari amanat rakyat, tentu politisi dari berbagai pihak diharuskan untuk menjalankannya, termasuk pada waktu itu Fraksi TNI/Polri. Namun demikian perlu dipertegas dan diperjelas, bahwa seluruh rumusan amandemen adalah kesepakatan seluruh fraksi.

Menurutnya, tidak ada satu orang, bahkan satu fraksi tertentu yang dominan dalam pembahasannya. Terkhusus Amien yang waktu itu memiliki posisi sebagai ketua MPR, juga tidak bisa mendikte semua anggota MPR RI.

"Jadi kalau ada yang menyalah-nyalahkan Amien Rais, berarti ada yang melupakan sejarah. Itu juga sama dengan menyalahkan rakyat yang memang menginginkan amandemen," ketusnya.

Kendati demikian, perlu diketahui bahwa di luar sana banyak sekali masyarakat yang menyambut gembira amandemen UUD 1945. Dengan amandemen itu, ada banyak perubahan dalam sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia.

Termasuk, menganulir kepemimpinan seorang presiden lebih dari 2 periode. Kata Saleh, dengan amandemen, sistem demokrasi Indonesia menjadi lebih terbuka. Kesempatan untuk mengisi jabatan-jabatan politik terbuka lebar bagi semua pihak.

Mungkin ada beberapa aspek dalam reformasi yang dirasa tidak pas saat ini. Jika itu yang disebut, dia berpendapat, semestinya yang disuarakan adalah adanya amandemen lanjutan untuk menyempurnakan dan menambal yang dianggap tidak pas itu.

"Bukan malah menyalah-nyalahkan dan seolah semua yang dilakukan membawa kemunduran besar bagi Indonesia," kritik Saleh.

Dia yakin Amien Rais sangat terbuka untuk mendiskusikan persoalan ini kepada siapa saja. Apalagi kepada Try Sutrisno yang juga dianggap bagian penting dari sejarah reformasi itu.

Namun demikian, diskusi seperti itu harus dilakukan secara baik-baik tanpa ada niat dan pretensi untuk saling menyalahkan. "Jangan dengan mudah menyebut pengkhianat bangsa. Sebab, orang lain juga tahu sejarah. Orang lain juga punya penilaian sendiri siapa yang berjasa dan siapa yang berkhianat," pungkas Saleh.

Sebelumnya Try Sutrisno mengungkapkan kekesalannya kepada Amien saat amandemen UUD 1945 di era reformasi. Try mengaku pernah mengingatkan Amien bahwa usulan melakukan amandemen UUD 1945 adalah sebuah langkah yang salah.

"Kemarin ada itu, saya tangkap itu, karena itu kita selalu ingatkan Amien Rais waktu amandemen empat kali dan sekarang Amien Rais mengaku salah," ujar Try di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (22/9).

Meski sudah diingatkan, lanjut Try, Amien masih berupaya menenangkannya. Saat dirinya bertemu dengan Amien di Aula Gatot Soebroto Mabes TNI di akhir tahun 1990an, Ketua Dewan Kehormatan PAN itu menyampaikan kepada Try agar dirinya tak gusar dengan proses amandemen yang dilakukan.

Namun kenyataannya, Try hanya menemukan lima kesepakatan dari enam kesepakatan yang sebelumnya dijanjikan Amien Rais akan disertakan dalam amandemen UUD 1945 tersebut.

"NKRI tidak diotak-atik, UUD tetap harus itu, sistem presidensial tetap akan diperkuat, check and balances dipertajam, penjelasan UUD yang objektif akan dijadikan materi dan terakhir ini dilakukan dengan cara adendum," jelas dia.

Kekecewaan Try bertambah karena hasil amandemen tidak dilakukan oleh MPR. Apalagi saat itu Amien merupakan Ketua MPR.

"Tetapi setelah terjadi diketok dan empat kali diamandemen itu, kesepakatan semuanya tidak dijalankan oleh MPR sesuai catatan kita. Kalau kata orang Pak Ali Sadikin lebih keras bicara, pengkhianat bangsa ini Amien Rais," tukas Try.

(dna/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP