
Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 Gus Kikin (Dok Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memiliki nahkoda baru periode 2026-2031. KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai ketua umum menggantikan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Pada periode Gus Kikin ini HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur meminta Gus Kikin melakukan penataan dan reformasi dalam kepengurusan keorganisasian. Menurutnya, pergantian kepemimpinan di tubuh organisasi harus menjadi momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh berbagai persoalan yang muncul pada periode sebelumnya.
Evaluasi tersebut tidak hanya menyangkut persoalan organisasi. Tetapi juga soal konflik internal, etik, hingga perkara hukum yang pernah melibatkan sejumlah oknum pengurus PBNU.
Gus Lilur meminta Gus Kikin menjadikan pengalaman kepemimpinan sebelumnya sebagai bahan pembelajaran. Menurutnya periode Mandataris Muktamar ke-34 NU meninggalkan sejumlah persoalan yang seharusnya tidak kembali terjadi.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah perkara hukum yang pernah menjerat oknum pengurus PBNU. Gus Lilur mencontohkan Mardani H. Maming yang sebelumnya menjabat sebagai Bendahara Umum PBNU dan kemudian menghadapi proses hukum. Pada 2022, PBNU menyatakan Mardani nonaktif dari jabatannya agar dapat fokus menghadapi proses hukum tersebut.
“Gus Kikin harus berani melakukan reformasi. Jangan sampai orang-orang yang selama ini menjadi sumber konflik justru kembali mendapatkan ruang strategis dalam kepengurusan. PBNU harus menjadi rumah besar yang teduh, bukan arena pertarungan kepentingan,” kata Gus Lilur kepada wartawan pada Jumat (11/9).
Menurutnya pembenahan internal juga perlu dilakukan melalui proses cleansing secara organisatoris. Namun, ia menegaskan langkah tersebut tidak boleh dimaknai sebagai bentuk balas dendam ataupun upaya menyingkirkan pihak tertentu hanya karena perbedaan pilihan politik.
Pembersihan kepengurusan organisasi harus diarahkan untuk memastikan individu yang terbukti atau memiliki rekam jejak kuat sebagai aktor konflik tidak kembali menduduki posisi yang berpotensi menghambat konsolidasi organisasi.
“Yang harus dibuang adalah kultur konfliknya, praktik transaksionalnya, dan orang-orang yang terbukti menjadi aktor konflik. PBNU membutuhkan orang-orang yang mampu merajut persatuan, bukan memperpanjang dendam dan faksi,” tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022