
Rangga Afianto, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor sekaligus pengurus pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor. (Istimewa)
JawaPos.com - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi. Di balik dinamika persidangan dan kontestasi gagasan, Muktamar menghadirkan kembali satu hal yang jauh lebih fundamental: kesadaran bahwa Nahdlatul Ulama adalah rumah besar yang mempertemukan jutaan manusia dalam ikatan khidmah, ukhuwah, dan kecintaan kepada Indonesia.
Pandangan itu disampaikan Dr. Rangga Afianto, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor sekaligus pengurus pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor, dalam menyikapi euforia dan kebersamaan warga Nahdliyin dalam momentum Muktamar ke-35 NU.
Menurut Rangga, bagi warga Nahdliyin, Muktamar memiliki dimensi yang melampaui agenda organisatoris. Ia menjadi momentum untuk kembali mempertemukan para kiai, ulama, pengurus, kader, dan warga NU dari berbagai daerah, bahkan diaspora NU di berbagai belahan dunia.
“Ada semacam panggilan batin yang membuat warga Nahdliyin selalu memiliki ikatan emosional dengan Muktamar. Ini bukan sekadar forum organisasi, tetapi ruang untuk kembali menemukan bahwa kita berada dalam satu rumah besar, dengan segala perbedaan yang ada di dalamnya,” ujar Rangga.
Ia menilai berbagai konflik, intrik, strategi, hingga perbedaan pandangan yang sempat mewarnai dinamika elite NU dalam proses menuju Muktamar merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi sebesar NU.
“Perbedaan, bahkan gesekan, adalah bagian dari dinamika sebuah organisasi. Yang paling penting adalah bagaimana seluruh dinamika itu pada akhirnya dikembalikan kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu persaudaraan, kematangan organisasi, dan kemaslahatan umat,” kata Rangga lewat keterangannya, Kamis (3/9).
Bagi Rangga, justru di situlah kedewasaan Nahdlatul Ulama diuji. Organisasi dengan sejarah panjang dan basis sosial yang demikian besar tidak mungkin selalu berada dalam ruang yang seragam.
“NU tidak boleh kehilangan kemampuan untuk berbeda, tetapi juga tidak boleh kehilangan kemampuan untuk kembali bersatu. Karena pada akhirnya, kita semua adalah bagian dari satu keluarga besar Nahdliyin,” ujarnya.
Kekuatan Sosial yang Menopang Peradaban
Rangga mengatakan, besarnya basis sosial NU membawa konsekuensi historis sekaligus tanggung jawab moral yang tidak kecil.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022