Ilustrasi: Kepala Daerah
JawaPos.com - PDI Perjuangan menyatakan sikap tegas menolak wacana pengembalian sistem Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Partai berlambang banteng moncong putih itu menilai, alasan menekan praktik politik uang, tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mencabut hak kedaulatan rakyat, dalam memilih pemimpinnya secara langsung.
Politikus PDIP, Muhammad Syaeful Mujab, menegaskan persoalan politik uang merupakan tantangan demokrasi yang harus diselesaikan tanpa mengorbankan hak pilih rakyat. Menurutnya, solusi atas problem tersebut tidak boleh dilakukan dengan memangkas partisipasi publik.
“PDI Perjuangan yakin persoalan politik uang itu tidak harus dengan mengamputasi hak rakyat untuk memilih,” kata Mujab di sela-sela gelaran Rakernas I PDIP 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, Minggu (11/1).
Mujab mengungkapkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah memberikan sinyal kuat mengenai sikap partai terhadap wacana tersebut melalui pidato pembukaan Rakernas. Megawati, kata dia, mengibaratkan kondisi demokrasi Indonesia seperti senam Poco-Poco yang bergerak maju dan mundur.
“Bu Mega sudah memberikan hint sedikit, ‘Kok demokrasi kita tuh kayak senam Poco-Poco, ya?’. Semalam saya cek di YouTube, senam Poco-Poco itu gerakannya maju, mundur, kanan, kiri. Bagi PDI Perjuangan, demokrasi itu harus maju ke depan, bukan dibuat maju-mundur,” ungkap mantan Ketua BEM UI tersebut.
Menurut Mujab, wacana evaluasi sistem Pilkada seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat demokrasi, bukan justru membawa Indonesia ke arah kemunduran. Ia menilai, keputusan yang diambil akan menjadi cermin arah demokrasi nasional ke depan.
Senada dengan Mujab, politikus muda PDIP lainnya, Seno Bagaskoro, menekankan pentingnya ikatan emosional antara pemimpin dan rakyat. Ia menilai, kedekatan tersebut hanya dapat terbangun melalui mekanisme pemilihan langsung.
“Bagaimana seorang pemimpin bisa merasakan keresahan rakyatnya kalau rakyat tidak kenal siapa dia? Jika dia sadar hanya dipilih oleh segelintir orang di DPRD, bukan oleh mayoritas rakyat, maka sulit mengharapkan masalah rakyat bisa selesai,” ujar Seno.
Seno menambahkan, bagi PDIP, pemilu tidak semata-mata dimaknai sebagai ajang meraih kemenangan politik atau kursi kekuasaan. Lebih dari itu, pemilu merupakan proses menentukan bagaimana kepemimpinan dijalankan dan pemerintahan dikelola dengan amanah.
“Rakyat sudah menghadapi banyak kesulitan hidup. Masa hak untuk menyuarakan siapa pemimpin yang layak bagi mereka selama lima tahun ke depan juga mau diambil? Buat kami, itu logika yang susah dipahami akal sehat,” pungkasnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Diunggulkan!
Profil Jafar Hidayatullah dan Adnan Maulana: Diduga Match Fixing, Dicoret PBSI dari Kejuaraan Dunia
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Maung Bandung Favorit Juara
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Bertahun-Tahun Mogok Kerja, Tim 10 Pekerja Freeport Serahkan Tuntutan ke Said Iqbal
Jafar/Felisha dan Adnan/Indah Dicoret dari Kejuaraan Dunia, PBSI Buka Suara Soal Dugaan Match Fixing
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Pembuktian Sihir John Herdman!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
