
Pengunjung saat melakukan scan QR code untuk mengakses kartu vaksin sebelum memasukin pusat perbelanjaan Mall Central Park, Jakarta, Kamis (12/8/2021). Pengelola Mall mewajibkan para pengunjung untuk menunjukkan sertifikat vaksinasi untuk syarat masuk pu
JawaPos.com - Pemerintah melakukan uji coba pembukaan mal di empat daerah. Syarat untuk bisa masuk mal adalah pengunjung yang diharuskan menunjukkan sertifikat vaksin dan melakukan swab antigen.
Menanggapi hal tersebut Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus menyampaikan penolakannya terhadap kebijakan wajib antigen untuk masuk mal. Sehingga, dia meminta kebijakan tersebut perlu ditunjau ulang.
'Itu harus dikaji ulang sebab tidak terlalu bermanfaat dan merugikan semua orang," ujar Deddy kepada wartawan, Sabtu (14/8).
Menurut Deddy, kebijakan sebelumnya yang mengharuskan sudah divaksin agar bisa memasuki mal di Jakarta sudah cukup untuk meminimalisir risiko penularan. Dengan syarat, mereka yang masuk mal harus tetap taat protokol kesehatan dengan menggunakan masker berlapis, menghindari kerumunan dan menjaga jarak.
"Menurut saya, kewajiban antigen itu akan menyulitkan aktivitas ekonomi di mall, merugikan para pedagang, supplier, ojol dan masyarakat luas. Ini akan menekan aktivitas ekonomi dalam bentuk rendahnya konsumsi publik," katanya.
"Kita tahu bahwa konsumsi masyarakat itu justru sebagai salah satu faktor pendorong geliat ekonomi. Harusnya difasilitasi dan diedukasi, bukan dibuat sulit. Itu aneh sekali," tambahnya.
Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini justru heran kenapa hanya mall yang diwajibkan antigen, bagaimana dengan pasar yang sulit menerapkan protokol kesehatan karena biasanya ruang gerak masyarakat sempit.
"Jika maksudnya melindungi masyarakat, harusnya Kementerian Perdagangan dan Kemenkes memonitor penerapan prokes di pasar tradisional yang lebih beresiko," ungkapnya.
Deddy menduga mungkin saja pengambil kebijakan kurang memahami tekanan ekonomi yang dialami para pedagang dan masyarakat kecil.
"Biaya untuk swab antigen itu ratusan ribu, tidak terjangkau oleh masyarakat. Ini memberatkan masyarakat dan merugikan pedagang," ungkapnya.
Menurut Deddy lebih baik pemerintah melakukan pengawasan dan pengetatan di lapangan mengenai protokol kesehatan ketimbang mewajibkan swab antigen untuk masuk mall.
"Yang ditambah harusnya implementasi protokol kesehatan di lapangan, bukan pengeluaran tambahan bagi publik di masa ekonomi sulit seperti ini," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi menyatakan tes negatif PCR dan atau swab antigen ikut menjadi syarat masuk mal. Menurutnya, dengan penggunaan PCR atau swab antigen bisa meyakinkan pengelola mal bahwa yang berkunjung adalah orang yang sehat.
Lutfi mengatakan bila tidak ingin atau keberatan melakukan tes Antigen maka tidak usah ke mall. Masyarakat bisa berbelanja di pasar rakyat, di sana menurut Lutfi tak perlu syarat-syarat khusus.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
