
Menteri Kabinet Indonesia Maju, Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo di Istana Negara. (Raka Denny/Jawa Pos)
JawaPos.com - Peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai, Presiden Joko Widodo terlalu berkompromi dalam menyusun menteri Kabinet Kerja jilid II. Menurutnya, sikap Presiden Jokowi yang kompromistis justru tidak baik bagi jalannya pemerintahan.
Haris menilai, jika Jokowi terlalu berkompromi dalam menyusun menteri pada pemerintahan keduanya. Hal ini berpotensi melahirkan politik transaksional.
"Kalau pimpinan terlalu kompromistik itu tidak baik, tidak sehat. Sebab setiap kompromi berpotensi melahirkan politik transaksional," kata Syamsudin Haris dalam diskusi bertajuk 'Mencermati Kabinet Jokowi Jilid II' di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (22/10).
Selain itu, Haris pun menyoroti masuknya Prabowo Subianto ke dalam koalisi pemerintah. Haris menyayangkan langkah Prabowo tersebut, seharusnya Prabowo menolak tawaran dan Jokowi tidak mengajaknya.
"Nasionalitas demokrasi, pemilu untuk mewujudkan gagasan demokrasi itu sendiri. Makanya ada kompetisi di dalam pemilu Presiden. Yang menang, ya, berkuasa, yang kalah, ya, legawa. Bukan kemudian diajak masuk semua. Itu baru demokrasi sehat," terang Haris.
Bahkan, lanjut Haris, jika semua oposisi masuk kedalam koalisi Jokowi maka model negara bukan lagi demokrasi tapi menjadi model negara integralistik.
"Kalau semua diajak masuk atau katakanlah posisi tinggal PKS misalnya ini bisa membawa apa yang dicita-citakan oleh Profesor Soepomo pada saat sidang-sidang BPUPKI menjelang 17 Agustus 1945. Apa itu? yaitu model negara integralistik, model negara kekeluargaan, ini sungguh-sungguh mengancam kekeluargaan," ungkap Haris.
"Di dalam konsep negara kekeluargaan atau integral, tidak ada oposisi. Semua itu keluarga. Tidak mungkin kepala keluarga menyakiti anggota keluarga. Nah itu kan konsepnya walaupun dalam kenyataan tidak demikian pada zaman Pak Harto," sambungnya.
Syamsuddin menyebut, konsekuensi logis berasal dari Otoritas Presiden dipagari oleh moralitas publik. Dan nasionalitas demokrasi tentunya oposisi tidak bergabung ke dalam pemerintahan.
"Tentu saja, mestinya Pak Jokowi tidak usah mengajak Gerindra ke kabinet. Semestinya Pak Prabowo dan teman-teman menolak ajakan itu," pungkasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
