Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Juli 2025 | 18.14 WIB

Dua Kali Pakai Istilah Serakahnomics, Prabowo Diyakini Beri Pesan Lawan Korupsi dan Atasi Ketimpangan Ekonomi

Prabowo dalam acara peluncuran Koperasi Desa atau Kopdes Merah Putih di Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7). - Image

Prabowo dalam acara peluncuran Koperasi Desa atau Kopdes Merah Putih di Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7).

JawaPos.com - Presiden RI Prabowo Subianto tercatat dua kali menyebut istilah “serakahnomics”. Istilah ini pertama kali diucapkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra ini di acara penutupan Kongres PSI 2025 di Surakarta, dan kedua di dalam perayaan Harlah ke-27 PKB di JCC Senayan, Jakarta.

Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an menyakini, ucapan Prabowo bukan sebuah candaan. Melainkan pesan penting yang ingin dia sampaikan.

“Kalau sampai disampaikan dua kali di momentum acara yang berbeda, pastinya ada pesan politik yang maha penting,” kata Ali Rif’an, Selasa (29/7).

Dia menarik kesimpulan ada 3 hal penting yang ingin disampaikan Prabowo melalui kata tersebut. Pertama tentang semangat memberantas korupsi sebagai masalah krusial bangsa. Berdasarkan data BPS 2024, Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia sebesar 3,85 pada skala 0 sampai 5.

“Tentu yang pertama, Pak Prabowo memberikan pesan penting perang melawan korupsi. Prabowo yakin negara akan sulit maju jika korupsi masih ada di mana-mana. Apalagi indeks korupsi kita juga masih tinggi,” jelasnya.

Dosen FISIP UIN Jakarta itu mengatakan, kedua Prabowo ingin menyampaikan keberpihakannya kepada rakyat kecil dan mengatasi ketimpangan sosial. Sebab, kecurangan yang dilakukan oknum tertentu bisa menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

“Bukan sekadar retorika politik. Namun ada pesan tentang upaya mengatasi ketimpangan dan keberpihakan pada rakyat kecil. Ini cara Presiden untuk menyindir para pelaku bisnis dan kekuasaan yang tamak, mengeruk untung banyak sembari menindas rakyat kecil, bahkan disebut sebagai vampir ekonomi yang menghisap darah rakyat,” imbuhnya.

Sementara yang ketiga, menurut Ali, adalah semangat menggenjot pertumbuhan ekonomi. Mengingat kondisi di Indonesia mengalami ketimpangan cukup besar karena 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai sekitar 60 persen kekayaan nasional. Padahal jika merujuk pada studi Dana Moneter Internasional (IMF) disebutkan, kalau misalnya pendapatan hanya meningkat di kelompok orang kaya, pertumbuhan ekonomi justru akan melambat.

“Yang ketiga adalah semangat menggenjot pertumbuhan ekonomi, ini menarik karena ada data yang menyebutkan jika pendapatan hanya meningkat di kelompok orang kaya, maka pertumbuhan ekonomi justru mengalami pelambatan. Jadi Presiden Prabowo punya visi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan melakukan pemerataan pendapatan,” tegasnya.

Ali berharap pesan politik Presiden Prabowo itu juga dipahami dan diikuti oleh para pembantunya sehingga orkestrasi untuk perang melawan korupsi, mengatasi ketimpangan, dan upaya penggenjot pertumbuhan ekonomi, bisa berjalan beriringan dan akseleratif.

“Ya catatan saya, ini harus menjadi pemahaman dan atensi penting bagi para pembantu presiden, supaya orkestrasinya seirama,” ujarnya.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore