
Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka./Instagram @gibran.rakabuming-
JawaPos.com - Analis politik yang juga pengajar Ilmu Komunikasi Politik dan Teori Kritis pada Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Mikhael Rajamuda Bataona mengatakan Gibran Rakabuming Raka bukan pilihan tepat sebagai pendamping Prabowo Subianto, karena bisa menjadi variabel antagonisme politik bagi Prabowo dalam pertarungan elektoral, dikutip dari ANTARA.
"Dalam perspektif konstruksi sosial, pencalonan Gibran Rakabuming Raka bisa menjadi variabel antagonisme politik bagi Prabowo dalam pertarungan elektoral dalam Pilpres 2024 mendatang," kata Mikhael Bataona di Kupang, Jumat (20/10).
Dia mengemukakan pandangan itu berkaitan dengan menguatnya nama Gibran sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Nyesel Baru Tahu! Ternyata Ini Manfaat Rutin Mengonsumsi Anggur Bagi Kesehatan Tubuh
"Dengan meminjam the social construction of reality dari Peter L. Berger, maka citra para politisi, baik Gibran maupun Prabowo adalah hasil konstruksi," kata Bataona.
Ketika publik mengkonstruksi Gibran sebagai representasi politik dinasti Jokowi maka resistensi itu akan kuat. Dan ini tentu saja merugikan citra Jokowi yang sudah begitu positip dengan approval rating sangat tinggi, sekaligus juga merugikan Prabowo sebagai capres.
Sehingga dalam perspektif konstruksi sosial ini, pencalonan Gibran bisa menjadi variabel antagonisme politik bagi Prabowo dalam pertarungan elektoral, dan bagi Jokowi dalam hal kredibilitas dan imparsialitasnya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini.
Baca Juga: DKI jadi Area Kontestasi Pemilu Paling Panas, Heru Budi Larang ASN Foto Bareng Capres-Cawapres
Selain itu, bagi pemilih yang juga pendukung Jokowi, Gibran bukanlah Jokowi. Meskipun ada semacam asosiasi politik yang menyamakan figur Gibran dan Jokowi, tetapi publik umumnya menolak adanya oligraki dan dinasti politik.
Dalam perspektif rasionalitas politik publik inilah saya Gibran akan mendapat resistensi, karena rasionalitas publik-lah yang akan menjadi penolak pencalonan Gibran, kata Bataona.
Dia mengatakan bukan karena publik menolak Gibran, tapi karena mereka sangat menghormati Jokowi. Mereka ingin citra Jokowi terjaga. Mereka menolak jika Jokowi dicitrakan negatif hanya karena Pilpres ini.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan AKP Satriyono, Pelatih Tim Taekwondo Polda Jatim
Rakyat ingin Gibran menjadi pemimpin di suatu masa yang akan datang dengan melewati ujian sejarah secara bertahap, sportif dan elegan, kata Bataona.
Dia menambahkan, sebagai figur capres berpengalaman, Prabowo perlu menghitung ini secara cermat dan detail karena ada urusan sentimentalitas masa pendukung Anies dan Prabowo yang perlu dijaga dan dirawat untuk kepentingan Pilpres putaran kedua.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
