
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mendorong perguruan tinggi Indonesia untuk mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah. (Humas Unair)
JawaPos.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menilai kondisi ekonomi saat ini berdampak langsung pada perguruan tinggi. Oleh karena itu, kampus dituntut memperkuat kemandiriannya.
Hal ini disampaikan JK saat menghadiri Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH) di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat (6/2).
"Perguruan tinggi tentu dikelola dengan baik, tetapi dengan situasi ekonomi saat ini, tentu dengan dampak ke mana-mana, termasuk berdampak ke perguruan tinggi," ucap JK kepada awak media setelah acara.
Menurut JK, stabilitas ekonomi menjadi fondasi utama penguatan riset, inovasi, dan kualitas lulusan.
Tanpa dukungan ekonomi yang kuat, kampus akan terbatas dalam mengembangkan kapasitas akademik serta infrastruktur.
“Pertumbuhan ekonomi yang stabil memungkinkan negara berinvestasi lebih besar pada pendidikan dan riset. Sebaliknya, pendidikan tinggi yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia unggul,” imbuhnya.
Politikus senior yang akrab disapa JK itu berharap agar perguruan tinggi mampu menyiapkan solusi keberlanjutan.
Ia menilai ketergantungan pada anggaran pemerintah cukup berisiko, karena prioritas anggaran dapat bergeser.
"Karena itu harus ada solusinya, solusinya kalau minta pemerintah itu sulit, selama pemerintah memberikan prioritas yang berbeda. Perguruan tinggi harus mampu membaca arah perkembangan ekonomi global," ucap JK.
Dalam konteks PTN BH, JK memahami bahwa pemasukan perguruan tinggi paling banyak berasal dari penerimaan mahasiswa. Namun menurutnya, menambah jumlah mahasiswa bukan lah solusi pintas.
“Tidak mungkin menaikkan jumlah mahasiswa sekaligus meningkatkan mutu. Beban dosen akan bertambah, waktu untuk riset berkurang, dan kualitas pendidikan pasti menurun. Ini juga perlu diperhatikan," serunya.
Alih-alih menambah jumlah mahasiswa secara berlebihan, JK justru mendorong perguruan tinggi untuk mandiri melalui penguatan riset dan inovasi. Jejaring alumni juga penting dilakukan demi keberlanjutan kampus.
"Di samping mandiri dengan dukungan baik inovasi, juga bagaimana alumni universitas itu. Intinya, kurikulum, riset, dan inovasi harus adaptif terhadap kebutuhan industri dan perubahan teknologi," pungkas JK.
Sebagai informasi, sidang paripurna MSA PTNBH juga dihadiri oleh Wakil Menteri (Wamen) Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti), Prof Fauzan dan Ketua WMA PTN-BH Prof. Mohamad Nasir.
Forum tersebut mempertemukan pimpinan dan anggota senat akademik PTNBH dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas arah kebijakan pendidikan tinggi di tengah tantangan global yang kian dinamis.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
