Ilustrasi belajar (Freepik)
JawaPos.com - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang merambah ke dunia pendidikan, tantangan terbesar sekolah saat ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan bagaimana menjaga agar siswa tetap mencintai proses belajar.
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menegaskan bahwa penggunaan AI kini memang tak bisa dilepaskan hingga dilarang sama sekali di sekolah. Sehingga, ia hanya menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti pengalaman belajar siswa.
"AI itu bukannya kita larang, tapi kita mau AI assist learning process. Kita mau anak-anak benar-benar mengalami proses belajar itu sendiri,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (17/12).
Dengan begitu, ia menekankan bahwa sekolah justru ingin memastikan siswa tetap terlibat aktif, berpikir, dan merasakan proses belajar secara utuh.
Oleh karena itu, di NJIS sendiri guru-guru pada dasarnya mengetahui ketika siswa menggunakan AI dalam tugas-tugas mereka. Sekolah pun sudah memiliki sistem pendeteksi sehingga penggunaan AI dapat terpantau.
“AI boleh dipakai, tapi ada skalanya. Kita tidak encourage kalau sampai full,” kata Ezra.
Pemanfaatan AI dinilai masih relevan jika digunakan untuk membantu riset atau merapikan tulisan, bukan untuk menggantikan proses berpikir siswa.
Ezra juga mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan berisiko menghilangkan kreativitas dan pengalaman belajar. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti mesin yang tidak pernah “dipanaskan”.
“Kalau dulu kita mikir dan jadi kreatif, sekarang kalau sedikit-sedikit AI, kita jadi enggak mengalami prosesnya. Jadinya template dan kurang organik,” ungkapnya.
Lebih jauh, Ezra menyoroti peran guru sebagai faktor kunci tumbuhnya minat belajar di tengah gempuran AI. Menurutnya, guru yang mengajar dengan hati mampu membangun hubungan yang kuat dengan siswa di kelas.
Hubungan inilah yang menciptakan rasa nyaman, bahagia, dan akhirnya memunculkan kecintaan terhadap belajar alih-alih mengandalkan AI.
“Anak-anak yang happy itu belajar lebih cepat. Kalau sudah cepat menguasai sesuatu, mereka merasa belajar itu mudah,” katanya.
Di NJIS, pendekatan student agency juga menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah. Siswa diberi ruang untuk berpartisipasi aktif, bahkan dalam hal-hal seperti desain seragam sekolah. Hal ini membuat siswa merasa dihargai dan terlibat, sehingga rasa suka terhadap sekolah dan proses belajar tumbuh secara alami.
Ezra menegaskan bahwa filosofi sekolahnya terangkum dalam tagline discovering excellence in every child. Banyak siswa yang awalnya belum mengetahui keunggulan dirinya, justru menemukan potensi tersebut melalui perhatian guru yang intens dan pendekatan personal.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
