
Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Supriyadi. (Hilmi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Sebanyak 117 aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) bakal pensiun serentak. Ironisnya posisinya adalah guru agama.
Di sisi lain formasi ASN baru untuk posisi yang sama tidak sebanding. Akibatnya Kemenag berpotensi mengalami kekurangan guru.
Kondisi tersebut terjadi di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kemenag. Dirjen Bimas Buddha Kemenag Supriyadi mengatakan, salah satu pekerjaan rumah besar yang harus diakui secara terbuka adalah keterbatasan sumber daya.
"Baik dari sisi anggaran maupun formasi SDM," kata Supriyadi dalam keterangannya.
Dia menjelaskan meskipun menunjukkan prestasi dalam pengelolaan, pagu anggaran yang relatif kecil menjadi kendala dalam memenuhi seluruh aspirasi dan kebutuhan umat yang terus berkembang.
"Dampak nyata dari keterbatasan SDM ini terilustrasi dengan jelas pada sektor pendidikan. Di mana 117 guru agama Buddha akan memasuki masa pensiun," jelas Supriyadi.
Sementara itu formasi pengganti belum memadai. Supriyadi mengatakan kondisi itu berisiko menciptakan kekosongan tenaga pendidik. Dampak lanjutannya berpotensi menurunkan kualitas pembinaan generasi muda.
Tantangan lain di Ditjen Bimas Buddha Kemenag juga terjadi di sektor pendidikan tinggi. Yaitu terkait dengan jumlah dosen agama Buddha yang bergelar guru besar atau profesor.
Supriyadi mengatakan sampai sekarang hanya ada satu dosen agama Buddha yang bergelar profesor. Informasi tersebut dia sampaikan di sela peringatan hari ulang tahun Ditjen Bimas Buddha ke-20 di Jakarta.
Sampai sekarang hanya ada satu guru besar bidang agama Buddha di Indonesia, yaitu Prof. Hesti Sadtyadi. Kemenag akan melakukan percepatan, dengan mendorong dosen yang memenuhi syarat menjadi gubes.
Komitmen menambah jumlah gubes di bidang agama Buddha itu disampaikan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kemenag Supriyadi.
"(Ada tantangan) Kelangkaan guru besar. Masih ada satu guru besar dari 12 kampus agama Buddha di Indonesia," kata Supriyadi.
Supriyadi menegaskan bahwa salah satu prioritas pemerintah sekarang adalah peningkatan kualitas SDM. Upaya ini perlu didukung dengan dosen-dosen yang berkualitas. Salah satunya adalah keberadaan dosen dengan gelar Profesor atau gubes.
Supriyadi mengakui bahwa kualitas pengajar di kampus keagamaan Buddha masih belum semaju di Islam. Pasalnya untuk di kampus keagamaan Islam, jumlah gubes keagamaan Islam sudah sangat banyak. Termasuk juga gubes di agama lain, seperti Kristen atau Katolik.
Dia menegaskan program akselerasi mencetak gubes keagamaan Buddha yang barusan harus dilaksanakan. Dosen-dosen yang secara kepangkatan sudah memenuhi syarat sebagai gubes, didorong untuk segera meraih gelar gubes. Khususnya para dosen yang sudah berpangkat Lektor Kepala.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
