Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Agustus 2025 | 17.04 WIB

Elon Musk dan Bos Nvidia Jensen Huang Sarankan Pelajar Kuasai Fisika dan Matematika, Bukan AI Seperti yang Dibilang Wapres Gibran

Elon Musk dan Jensen Huang sarankan pelajar tekun belajar fisika dan matematika. (STICS AI) - Image

Elon Musk dan Jensen Huang sarankan pelajar tekun belajar fisika dan matematika. (STICS AI)

JawaPos.com - Saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka agar pelajar Indonesia fokus belajar kecerdasan buatan (AI), dua tokoh terkemuka di industri teknologi global, yakni CEO Nvidia Jensen Huang dan CEo Tesla Elon Musk justru menyampaikan pesan kontras.

Dalam sebuah forum di Beijing, CEO Nvidia Jensen Huang ditanya apa yang akan ia pelajari jika ia adalah lulusan berusia 22 tahun pada 2025. Alih-alih menjawab "AI" atau "ilmu komputer," Huang menjawab:

“Saya mungkin akan memilih untuk mempelajari ilmu fisika," kata Huang, dikutip via Moneycontrol.

Bagi Huang, masa depan AI bukan hanya tentang software, tapi tentang memahami dunia nyata secara mendalam. Ia menekankan bahwa tantangan AI berikutnya akan datang dari interaksinya dengan dunia fisik secara langsung.

“Gelombang teknologi berikutnya menuntut kita untuk memahami gesekan, inersia, dan sebab-akibat,” kata Huang.

Ia menyebut perkembangan ini sebagai "Physical AI". Yaitu kecerdasan buatan yang tidak hanya bisa berpikir, tetapi juga berinteraksi secara efektif dengan lingkungan nyata, seperti robot yang berjalan, mobil yang melaju sendiri, atau mesin-mesin industri yang mengambil keputusan berdasarkan kondisi fisik.

Di sisi lain, Elon Musk juga menyampaikan pandangan serupa. Dalam sebuah diskusi di media sosial, CEO Telegram Pavel Durov menyerukan agar siswa mempelajari matematika sebagai bekal masa depan. Musk menanggapinya dengan singkat namun tegas:

Fisika (juga)," kata Elon Musk.

Pernyataan itu sejalan dengan pendekatan Musk dalam membangun perusahaan-perusahaannya. Dari roket di SpaceX hingga mobil listrik di Tesla, semua berakar pada prinsip-prinsip dasar fisika, bukan semata-mata dari logika pemrograman. 

Musk dikenal sebagai penganut filosofi first principles thinking, yaitu menyelesaikan masalah besar dengan berpikir dari nol berdasarkan hukum-hukum dasar alam.

Kritik Tersirat untuk Narasi Lokal

Pandangan kedua tokoh ini menjadi kontras dengan narasi populer di Indonesia. Wapres Gibran dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa pelajar zaman sekarang harus 'belajar AI sejak dini'.

Meski semangatnya untuk mendorong adaptasi teknologi patut diapresiasi, pendekatan yang terlalu fokus pada AI tanpa fondasi ilmu dasar berisiko menciptakan generasi yang hanya bisa menggunakan teknologi, bukan mengembangkannya.

Alih-alih langsung mengajarkan anak muda cara memakai atau membuat AI, Huang dan Musk justru menyarankan agar mereka terlebih dahulu memahami 'mengapa dan bagaimana' dunia bekerja, sesuatu yang hanya bisa dicapai melalui penguasaan fisika dan matematika.

Pandangan dua tokoh teknologi terkemuka dunia itu merefleksikan pergeseran pemikiran di tingkat global.

Coding tetap menjadi keterampilan penting, tetapi dalam era AI yang bersentuhan langsung dengan dunia nyata, seperti kendaraan otonom, robot medis, atau smart factory, kemampuan memahami hukum fisika menjadi kebutuhan utama.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore