Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 03.06 WIB

Hari Pertama MPLS Sekolah Rakyat Diwarnai Banjir Tangis

 

Para murid di Sekolah Rakyat juga menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) hari pertama pada Senin (14/7). (Zalzilatul Hikmia/Jawa Pos)

Bukan hanya peserta didik di sekolah umum, para murid di Sekolah Rakyat juga menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) hari pertama pada Senin (14/7). Bedanya, pulang sekolah mereka tak lagi menuju rumah tapi kamar asrama.

ZALZILATUL HIKMIA, Kabupaten Bogor

AIR MATA Muhammad Sapta Ramadhan, 13, tak bisa terbendung lagi. Tangisnya pecah. Sambil menunduk dan mengusap mata, bocah kelas 1 Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor ini masih mati-matian menahan tangisnya agar tak semakin parah. Dadanya naik turun sambil terisak.

Ia tak ingin terlihat sedih di depan sang ibu, Umu Kulsum, 40. Tapi apa mau dikata, berangkat sekolah kali ini tak akan berakhir dengan pulang ke rumah. Keduanya harus berpisah lantaran Sapta akan masuk asrama usai menjalani proses pemeriksaan kesehatan.

Sapta sampai harus lari ke toilet untuk menyeka air matanya. Dia membasuh wajahnya agar tak ada bekas sisa air mata yang mungkin akan membuat ibunya ikut berat melepasnya.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini bahkan tak mengeluarkan kalimat apapun. Ia takut air matanya kembali jatuh tak tertahan. Dirinya hanya mengangguk ketika ditanya, apakah dia merasa sedih harus berpisah dengan sang ibu.

Umu pun sempat berkaca-kaca. Tapi, ia berhasil menahan tangisnya agar tak sampai jatuh ke pipi. Dua manusia yang sama-sama coba menguatkan.

“Biasa sama orang tua. Ini pertama kalinya pisah. Nggak apa-apa, biar mandiri. (Saya, red) harus kuat. Dikuat-kuatin meski berat,” tuturnya ditemui di lokasi Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor, di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (14/7).

Umu meyakini, ini jalan terbaik untuk sang buah hati. Sapta bisa mendapat pendidikan yang baik di sini. Bocah kecil itu tak perlu lagi khawatir soal biaya agar bisa merasakan pendidikan berkualitas. Mengingat, bapaknya hanya seorang buruh harian yang pendapatannya pas-pasan. “Makanya ini saya nganter sendirian, bapaknya harus kerja teh,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Keduanya pun sempat berpelukan erat. Meski sang putra enggan menatap sang ibunda karena takut kembali menangis.

Tak jauh beda, Akbar Triaksono, 13, pun tak kuasa menahan tangisnya ketika harus berpisah dengan sang kakak, Yanti, 17. Akbar tidak diantar kedua orang tuanya meski rumah mereka dekat secara jarak dengan lokasi sekolah. Hanya setengah jam dari rumah untuk bisa sampai di lokasi.

Hal ini yang membuat batinnya berkecamuk. Sedihnya menjadi tatkala melihat teman-temannya diantar oleh orang tuanya.

Tapi lagi-lagi, ini bukan hanya perkara jarak. Melainkan pengalaman pertamanya keluar dari rumah dalam waktu yang cukup lama. Entah kapan dirinya bisa pulang bertemu dengan ayah ibunya. Meski, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menjanjikan tak akan menghalangi akses para wali murid Sekolah Rakyat untuk bertemu anak-anaknya kapanpun itu.

“Iya sedih,” katanya singkat sambil memalingkan wajah, berusaha menutupi air matanya di pelupuk mata. Akbar kemudian hanya tertunduk sambil menutupi wajahnya.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore