
Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang Prof Suteki saat dijumpai di kantornya, Semarang, Rabu (23/5).
JawaPos.com - Guru Besar Universitas Diponegoro Semarang Prof Suteki angkat bicara mengenai sidang kode etik atas dugaan kasus tindakan anti-Pancasila yang dituduhkan kepadanya. Dosen fakultas hukum itu bagaimanapun mengaku tak tahu menahu terkait perkara yang disidangkan.
Ditemui di kantornya, Semarang, Suteki hingga hari ini mengaku belum menerima undangan untuk menghadiri sidang kode etik yang sedianya dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan Kode Etik Undip. "Pemanggilan saja belum, bagaimana mau tahu ini terkait bab apa," ujarnya, Rabu (23/5).
Namun, sama seperti pemberitaan di media, dugaan Suteki, sidang etik nantinya akan terkait postingannya di media sosial, utamanya Facebook. Mengenai pemahaman atau pandangannya atas khilafah yang kemudian, menurutnya, dianggap oleh berbagai pihak sebagai sikap anti-Pancasila.
Dengan adanya hal tersebut, ia pun menyanggah bahwa dirinya adalah pribadi yang anti pancasila. Ia yang mengaku sudah bertahun-tahun mengajarkan ideologi negara Republik Indonesia ini berujar bahwa sederet postingannya tentang khilafah, hanyalah sebuah bentuk kebebasan berekspresi.
"Saya cuma bilang khilafah itu sebagai sistem pemerintahan. Di buku-buku teori atau apapun juga ada. Saya bicara tidak ngawur, lagipula ketika disandingkan dengan Pancasila lalu saya dibilang anti, ini tidak apple to apple. Pancasila itu ideologi, sistem pemerintahan kita demokrasi. Saya juga nggak menyebut pro HTI atau tidak," lanjutnya.
Suketi juga merasa ditunggangi ketika mendapati adanya meme mencantumkan foto wajahnya bertebaran dengan tagar di dalamnya bertuliskan #HTIdiHati dan #HTILanjutkanPerjuangan. "Itu bukan saya, tapi kalau soal Khilafah ajaran Islam, sudah lama saya gaungkan," tegasnya.
Ia kembali menegaskan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah membuka wawasan bagi sesama. Sebagaimana dilakukan, Said Aqil Sirodj, lanjut Suteki, saat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu berbicara soal khilafah.
"Di dalam bukunya ada, dituliskan bahwa khilafah itu bagian dari yang ada di Islam. Cuma belum cocok di Indonesia," katanya lagi.
Ia pun juga menjelaskan tentang postingannya mengomentari aksi penyerangan ke Mapoda Riau oleh sejumlah orang beberapa waktu lalu. Dimana ia mempertanyakan apakah aksi tersebut memang dilakukan oleh pihak yang disebut teroris.
"Itu kan saya cuma tanya, kalau tanya ya dijawab. Itu cuma memancing orang memaparkan pendapat. Beda kalau statemen yang bisa diproses hukum," imbuhnya.
Lebih lanjut, jika dirinya benar-benar dipanggil untuk menjalani sidang kode etik, Suteki mengatakan akan menghargai proses dan menjalani sebagaimana mestinya. Walau tak menutup baginya untuk mengambil langkah hukum apabila dirinya ditindak.
"Pak Yos (Yos Johan, Rektor Undip) selama ini juga tak mempermasalahkan pernyataan-pernyataan saya. Tak ada teguran, saya membantah dibilang merongrong Pancasila. Mungkin ini karena tekanan dari luar dan Jakarta sana saya nggak tahu pasti tapi. Andil saya banyak untuk kampus, tentu tidak bisa berakhir seperti ini," tandasnya.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
