
Kopi Grinder Pocket Coffee produksi mahasiswa UB ini sudah terjual hingga luar kota.
JawaPos.com - Empat mahasiswa Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya membuat sebuah produk bernama Grinder Pocket Coffee. Yakni sebuah pengembangan produk kopi tubruk bubuk yang dimasukkan ke dalam pelindung berupa strainer bag (kantong penyaring) agar saat diseduh ampas tidak ikut tercampur.
Keempat mahasiswa tersebut yakni, Apta Hadyan Sulistijo, Eko Ludvy Zedniawan, Yovi Sephira Damayanti, dan Amalia Ridha Rahmah. Ketua Tim Grinder Pocket Coffee, Apta Hadyan Sulistijo mengatakan, teknik penyeduhan seperti ini telah umum diterapkan oleh beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika, dan Belanda. Penyajian produk semacam ini pun sebenarnya sudah mulai diterapkan di Indonesia. Namun, lanjut dia, masih kurang dikenal masyarakat luas.
Oleh karena itu, pihaknya ingin mengembangkan produk ini hingga ke tingkat nasional. Apta menerangkan, Grinder Pocket Coffee tidak hanya menawarkan cara penyajian yang praktis, tetapi juga variasi cita rasa kopi hasil petani lokal Indonesia.
Bahkan, untuk mendukung hasil pertanian kopi di Malang, pihaknya menggunakan biji kopi yang berasal dari Dampit, Kabupaten Malang.
“Saat ini biji kopi yang digunakan berasal dari Dampit, untuk kedepannya rencananya tim akan mengembangkan produk kopi yang berada di luar kota misalnya Aceh Gayo, Toraja, Merbabu, dan lain-lain,” tutur Apta
Dengan produk ini, harapannya para pecinta kopi di Indonesia dapat menikmati bermacam pilihan rasa kopi khas Nusantara dalam satu kotak kemasan. Hal ini juga sebagai upaya untuk mengenalkan kopi tubruk lokal ke dalam tampilan yang lebih praktis dan eksklusif sehingga diharapkan mampu memasuki segmentasi pasar baru.
“Selain itu, manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari meminum kopi tanpa ampas yaitu mampu mengurangi kandungan kafein yang mampu menimbulkan gejala penyakit jantung,” imbuh mahasiswa asli Bandung itu.
Oleh karena itu, lanjut Apta, produk Grinder Pocket Coffee ini pun dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat, yakni Rp 4 ribu per sachetnya.
Apta menyampaikan, produk ini baru diproduksi sejak satu tahun belakangan. Namun, pemasarannya sudah cukup meluas, bahkan hingga ke luar Malang. "Dari April-Juli kemarin, sudah terjual 430 sachet," kata dia. Beberapa kota yang sudah menjadi sasaran pemasaran itu antara lain, Bandung, Jakarta, Banjarmasin, Pontianak, Jepara, dan Bali.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
