Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 September 2025 | 18.29 WIB

Teknologi AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Para Guru Perlu Diberikan Persiapan

Ilustrasi siswa dan guru sama-sama belajar mengenai teknologi AI (Istimewa) - Image

Ilustrasi siswa dan guru sama-sama belajar mengenai teknologi AI (Istimewa)

JawaPos.com-Tren penggunaan kecerdasan buatan (AI) kian deras memasuki dunia pendidikan. Dari aplikasi belajar interaktif hingga platform yang membantu guru mengelola administrasi, teknologi ini diyakini mampu mengubah cara belajar-mengajar. 

Namun, realitanya, banyak guru di Indonesia masih belum benar-benar memahami bagaimana memanfaatkan AI secara efektif di kelas. Apalagi menerapkan dan menurunkan ilmunya sebagai bahan ajar kepada para siswa.

Kondisi itu yang coba dijawab oleh Prestasi Junior Indonesia (PJI) lewat kerja sama dengan Amazon Web Services (AWS). Sejak awal 2025, mereka melatih lebih dari 5.100 siswa dan 40 guru di 40 sekolah menengah di Jawa Barat dalam program STEM Capacity Building. 

Fokusnya bukan hanya memperkenalkan konsep dasar AI dan machine learning, tetapi juga memberi ruang praktik agar teknologi ini terasa nyata bagi guru dan siswa.

Data terbaru AWS dan Strand Partners menyebutkan, 28 persen pelaku usaha di Indonesia sudah mengadopsi AI dengan pertumbuhan tahunan 47 persen. Namun, 57 persen di antaranya mengaku kesulitan mencari tenaga kerja terampil. 

Fakta ini menunjukkan jurang yang semakin lebar antara kebutuhan industri dengan kesiapan tenaga pendidik dan pelajar.

“Guru masih jadi kunci. Kalau guru tidak memahami teknologi, siswa juga akan kesulitan mengeksplorasi potensi AI secara maksimal,” kata Ketua Pengurus PJI Pribadi Setiyanto melalui keterangannya.

Puncak dari rangkaian pelatihan ini adalah AI Hackathon di Bandung beberapa waktu lalu. Sebanyak 246 siswa dari 31 sekolah berkompetisi mengembangkan solusi berbasis AI dengan tema AI for Education. 

Banyak ide justru diarahkan untuk membantu guru, mulai dari aplikasi administrasi pintar hingga alat komunikasi bagi siswa tuli dan bisu.

Tim SoLearn dari SMAN 2 Cibinong, misalnya, menciptakan aplikasi 'Learn to Earn' yang menggabungkan gamifikasi, bimbingan AI, dan desain pelajaran interaktif. Aplikasi ini dirancang agar guru tidak hanya terbantu dalam urusan teknis, tapi juga lebih mudah memberi motivasi personal pada siswanya.

“Awalnya saya hanya tertarik dengan teknologi, tapi lewat Hackathon ini saya belajar bagaimana membuat ide yang benar-benar bermanfaat untuk guru dan siswa,” ujar Restu Hidayat, anggota Tim SoLearn.

Meski siswa terlihat cepat beradaptasi, tantangan terbesar tetap ada pada guru. Dari 40 guru yang ikut serta, hanya sebagian yang cukup familiar dengan AI. 

Untuk itu, PJI meluncurkan program Teacher Ambassadors, memilih guru-guru terbaik yang siap menjadi duta AI di sekolah masing-masing. Mereka akan didukung agar bisa menularkan pemahaman kepada rekan sejawat.

“Literasi AI adalah fondasi penting bagi talenta masa depan. Kami senang bisa ikut membantu guru agar tidak tertinggal dari siswanya,” kata Winu Adiarto, Indonesia Regional Manager AWS. 

Pemerintah daerah pun mendukung inisiatif ini. Kepala Bappeda Jawa Barat Dedi Mulyadi, menilai program seperti ini sejalan dengan visi pembangunan SDM berbasis inovasi. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore