seseorang yang tidak pernah hadir di dunia anaknya./Magnific/Frolopiaton Palm
JawaPos.com - Ada luka yang tidak selalu terlihat.
Seorang anak mungkin tumbuh dengan makanan yang cukup, rumah yang nyaman, pendidikan yang baik, dan kebutuhan material yang terpenuhi. Dari luar, kehidupannya tampak baik-baik saja. Namun, di dalam dirinya mungkin ada sebuah pertanyaan yang terus berulang:
“Mengapa orang tuaku tidak pernah benar-benar ada untukku?”
Kehadiran orang tua bukan hanya soal berada di rumah secara fisik. Kehadiran juga berarti mendengarkan, memperhatikan, merespons, memberikan rasa aman, menunjukkan kasih sayang, dan hadir ketika anak membutuhkan dukungan emosional.
Karena itu, seorang anak dapat memiliki orang tua yang secara fisik berada di dekatnya, tetapi secara emosional terasa sangat jauh.
Dalam psikologi, hubungan awal antara anak dan pengasuh memiliki peran penting dalam pembentukan rasa aman dan cara seseorang memahami hubungan. Ketika kebutuhan emosional anak berulang kali tidak mendapatkan respons yang memadai, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan orang lain.
Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua anak yang mengalami ketidakhadiran orang tua akan mengalami dampak yang sama. Kepribadian, lingkungan, hubungan dengan pengasuh lain, pengalaman hidup, dan dukungan sosial turut berperan.
Lalu, bagaimana ketidakhadiran orang tua dapat menyakiti anak?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (27/9), terdapat tujuh bentuk yang sering dibahas dalam psikologi.
1. Anak belajar bahwa perasaannya tidak penting
Bayangkan seorang anak pulang sekolah dengan wajah murung.
Ia ingin bercerita tentang sesuatu yang membuatnya sedih. Tetapi orang tuanya sibuk bekerja, sibuk dengan telepon, terlalu lelah, atau justru menjawab:
“Sudahlah, jangan dipikirkan.”
“Masalah kecil begitu saja menangis.”
“Kamu harus kuat.”
Mungkin bagi orang tua, kalimat tersebut terasa sederhana. Namun bagi seorang anak, pengalaman berulang semacam itu dapat menyampaikan pesan yang berbeda:
“Perasaanku tidak cukup penting untuk didengarkan.”
Anak membutuhkan pengalaman bahwa emosinya dapat dikenali dan diterima. Bukan berarti setiap keinginan anak harus dipenuhi atau setiap emosinya harus dibenarkan. Yang dibutuhkan adalah adanya orang dewasa yang mampu mengatakan, secara verbal maupun melalui tindakan:
“Aku tahu kamu sedang sedih.”
“Ceritakan kepadaku.”
“Aku ada di sini.”
Ketika pengalaman seperti ini jarang terjadi, sebagian anak dapat tumbuh dengan kesulitan mengenali, mengungkapkan, atau meminta bantuan ketika sedang mengalami masalah emosional.
Mereka mungkin terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Ketika dewasa, pola tersebut dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Mereka merasa tidak nyaman ketika membutuhkan orang lain. Mereka kesulitan mengatakan bahwa dirinya terluka. Mereka bahkan mungkin meminta maaf karena menangis atau merasa bersalah ketika membutuhkan perhatian.
Bukan karena mereka tidak memiliki emosi.
Justru karena sejak kecil mereka mungkin belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang harus ditanggung sendirian.
2. Anak mulai mempertanyakan apakah dirinya cukup berharga
Anak kecil biasanya tidak memiliki kemampuan untuk memahami persoalan orang dewasa secara kompleks.
Jika ayah atau ibu terlalu sibuk, jarang memberikan perhatian, sering tidak hadir dalam momen penting, atau terus-menerus menolak kebutuhan emosional anak, anak mungkin tidak berpikir:
“Orang tuaku sedang mengalami tekanan hidup.”
Sebaliknya, ia bisa berpikir:
“Mungkin aku memang tidak cukup penting.”
Ini adalah perbedaan yang sangat penting.
Anak cenderung memahami dunia melalui dirinya sendiri. Ketika seseorang yang seharusnya memberikan perhatian tidak hadir, anak dapat mencari penjelasan dengan menyalahkan dirinya.
“Apa aku kurang pintar?”
“Apa aku terlalu merepotkan?”
“Apa aku tidak cukup baik?”
“Apa ada yang salah denganku?”
Jika pertanyaan semacam ini terus berkembang tanpa adanya hubungan yang memberikan rasa aman, pengalaman tersebut dapat ikut membentuk cara anak memandang harga dirinya.
Kelak, seseorang mungkin menjadi sangat haus akan validasi.
Ia bekerja terlalu keras untuk mendapatkan pengakuan.
Ia takut mengecewakan orang lain.
Ia merasa harus selalu berguna agar layak dicintai.
Atau sebaliknya, ia mengembangkan keyakinan bahwa tidak ada gunanya mencoba karena pada akhirnya dirinya tetap tidak akan dianggap.
Tentu saja, tidak semua perilaku tersebut berasal dari ketidakhadiran orang tua. Banyak faktor psikologis dan lingkungan yang dapat berkontribusi.
Namun pengalaman relasional masa kanak-kanak dapat menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.
3. Anak dapat mengalami kesulitan mempercayai orang lain
Kepercayaan tidak muncul begitu saja.
Seorang anak belajar mempercayai dunia melalui pengalaman berulang.
Ketika ia menangis, seseorang datang.
Ketika ia takut, seseorang menenangkannya.
Ketika ia melakukan kesalahan, seseorang membantunya memahami konsekuensinya.
Ketika ia membutuhkan bantuan, seseorang berusaha merespons.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, anak perlahan belajar:
“Ketika aku membutuhkan seseorang, ada kemungkinan seseorang akan datang.”
Namun, jika pengalaman yang dominan justru berupa ketidakhadiran, pengabaian, atau respons yang tidak konsisten, sebagian anak dapat belajar kesimpulan yang berbeda:
“Jangan terlalu bergantung pada siapa pun.”
Di kemudian hari, hal ini dapat muncul dalam hubungan pertemanan maupun hubungan romantis.
Seseorang mungkin sangat menginginkan kedekatan, tetapi sekaligus takut terhadap kedekatan.
Ketika orang lain mulai dekat, ia merasa curiga.
Ketika seseorang tidak segera membalas pesan, pikirannya mulai membuat berbagai kemungkinan.
Ketika pasangan membutuhkan ruang, ia merasa akan ditinggalkan.
Atau ia memilih tidak terlalu dekat dengan siapa pun karena kedekatan dianggap berbahaya.
Dalam psikologi, pola hubungan semacam ini sering dibahas melalui perspektif attachment atau keterikatan. Teori keterikatan tidak berarti pengalaman masa kecil menentukan seluruh kehidupan seseorang. Hubungan dan pengalaman berikutnya juga dapat mengubah pola tersebut.
Dengan kata lain, masa lalu dapat memengaruhi seseorang tanpa harus menjadi hukuman seumur hidup.
4. Anak belajar menyembunyikan kebutuhannya
Salah satu konsekuensi yang paling menyedihkan dari ketidakhadiran emosional adalah ketika anak berhenti meminta.
Awalnya, seorang anak mungkin berkali-kali mencari perhatian.
Ia memanggil ibunya.
Ia menunggu ayahnya pulang.
Ia ingin ditemani mengerjakan sesuatu.
Ia ingin didengarkan.
Ia ingin orang tuanya datang ke acara sekolah.
Tetapi jika permintaan-permintaan tersebut berulang kali tidak mendapatkan respons, anak dapat berhenti meminta.
Bukan karena kebutuhannya menghilang.
Melainkan karena ia mulai menganggap bahwa meminta tidak ada gunanya.
Inilah mengapa sebagian orang dewasa terlihat sangat mandiri.
Mereka tidak pernah meminta bantuan.
Mereka selalu mengatakan:
“Aku bisa sendiri.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku nggak butuh siapa-siapa.”
Dari luar, ini mungkin terlihat seperti kekuatan.
Namun dalam beberapa kasus, kemandirian yang ekstrem dapat menjadi strategi untuk menghindari kekecewaan.
Jika sejak kecil seseorang belajar bahwa kebutuhan emosionalnya tidak akan direspons, bergantung kepada orang lain dapat terasa sangat berisiko.
Ia lebih memilih melakukan semuanya sendiri daripada kembali mengalami perasaan ditolak.
Masalahnya, manusia tetap membutuhkan hubungan.
Kemandirian yang sehat bukan berarti tidak pernah membutuhkan orang lain.
Kemandirian yang sehat memungkinkan seseorang berkata:
“Aku mampu mengurus diriku sendiri, tetapi aku juga tidak takut menerima bantuan ketika membutuhkannya.”
5. Anak dapat membawa rasa takut ditinggalkan ke dalam hubungan dewasa
Ketidakhadiran orang tua dapat membuat pengalaman “ditinggalkan” terasa sangat familiar.
Ketika dewasa, pengalaman kecil yang sebenarnya biasa saja dapat memicu ketakutan yang jauh lebih besar.
Pasangan terlambat membalas pesan.
Teman membatalkan rencana.
Seseorang menjadi lebih sibuk.
Orang yang disayangi membutuhkan waktu sendiri.
Secara objektif, belum tentu ada masalah besar.
Namun bagi seseorang yang memiliki pengalaman kehilangan atau ketidaktersediaan emosional di masa kecil, situasi tersebut dapat terasa seperti tanda bahwa hubungan akan berakhir.
Pikirannya mungkin segera melompat pada kesimpulan:
“Dia mulai tidak menyukaiku.”
“Dia akan pergi.”
“Aku akan ditinggalkan.”
“Aku pasti melakukan sesuatu yang salah.”
Ketakutan tersebut kemudian dapat menghasilkan perilaku seperti mencari kepastian terus-menerus, terlalu banyak meminta perhatian, menjadi sangat sensitif terhadap perubahan perilaku orang lain, atau justru menarik diri terlebih dahulu agar tidak mengalami penolakan.
Ironisnya, seseorang yang sangat takut ditinggalkan terkadang justru mengalami kesulitan mempertahankan hubungan karena rasa takut tersebut membuat hubungan menjadi penuh kecemasan.
Namun sekali lagi, hal ini bukan berarti setiap orang yang memiliki orang tua tidak hadir akan memiliki pola seperti itu.
Pengalaman manusia jauh lebih kompleks.
6. Anak dapat belajar bahwa cinta harus “diperjuangkan”
Ada anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kasih sayang adalah sesuatu yang harus diperoleh.
Mereka merasa harus menjadi anak paling pintar.
Harus mendapatkan nilai sempurna.
Harus tidak merepotkan.
Harus membantu semua orang.
Harus selalu berprestasi.
Harus menjadi orang yang menyenangkan.
Mengapa?
Karena mungkin sejak kecil mereka merasakan bahwa perhatian datang terutama ketika mereka memenuhi standar tertentu.
Akibatnya, mereka dapat membawa keyakinan tersebut hingga dewasa:
“Kalau aku tidak berguna, orang tidak akan mencintaiku.”
Inilah yang dapat membuat seseorang menjadi people pleaser.
Ia sulit mengatakan tidak.
Ia takut mengecewakan orang lain.
Ia merasa bersalah ketika menetapkan batasan.
Ia terus memberikan sesuatu kepada orang lain meskipun dirinya sendiri kelelahan.
Pada tingkat tertentu, perilaku tersebut dapat terlihat sangat baik.
Orang seperti ini mungkin dikenal sebagai pribadi yang perhatian, bertanggung jawab, dan selalu membantu.
Tetapi pertanyaan pentingnya adalah:
Apakah ia membantu karena memang ingin membantu, atau karena takut tidak akan disukai jika mengatakan tidak?
Perbedaannya sangat besar.
Cinta yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.
7. Anak dapat membawa luka yang tidak pernah dibicarakan
Tidak semua luka masa kecil muncul dalam bentuk tangisan.
Sebagian luka justru muncul sebagai kebiasaan.
Terlalu mandiri.
Sulit percaya.
Takut ditolak.
Selalu ingin menyenangkan orang.
Sulit mengatakan tidak.
Tidak nyaman menerima perhatian.
Takut menjadi beban.
Atau selalu merasa harus terlihat kuat.
Masalahnya, ketika pengalaman masa kecil tidak pernah dibicarakan, seseorang mungkin tidak memahami dari mana pola tersebut berasal.
Ia hanya berpikir:
“Memang begini sifatku.”
Padahal, sebagian pola perilaku manusia terbentuk melalui pengalaman.
Ini bukan berarti setiap kebiasaan harus ditelusuri kepada orang tua. Bukan pula berarti seseorang harus menyalahkan orang tuanya sepanjang hidup.
Justru sebaliknya.
Memahami asal-usul sebuah pola dapat menjadi langkah pertama untuk mengubahnya.
Seseorang dapat mulai bertanya:
“Apakah aku benar-benar tidak membutuhkan bantuan, atau aku hanya terbiasa tidak meminta?”
“Apakah aku benar-benar tidak percaya kepada orang lain, atau aku takut mengalami kekecewaan?”
“Apakah aku selalu ingin menyenangkan orang lain karena itu pilihan yang sehat, atau karena aku takut ditolak?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuka ruang untuk memahami diri dengan lebih baik.
Kehadiran Orang Tua Bukan Berarti Harus Sempurna
Ada satu hal yang juga penting untuk ditekankan.
Tidak ada orang tua yang selalu hadir dengan sempurna.
Orang tua dapat kelelahan.
Mereka dapat melakukan kesalahan.
Mereka dapat memiliki masalah pekerjaan, ekonomi, kesehatan, atau persoalan pribadi.
Sesekali gagal memberikan perhatian bukan berarti seseorang otomatis menjadi orang tua yang buruk.
Yang lebih penting adalah pola hubungan secara keseluruhan.
Apakah setelah terjadi konflik ada usaha memperbaiki hubungan?
Apakah anak diberi kesempatan untuk berbicara?
Apakah orang tua berusaha memahami kebutuhan anak?
Apakah anak merasa aman untuk meminta bantuan?
Apakah kesalahan dapat dibicarakan?
Dalam hubungan orang tua dan anak, repair atau upaya memperbaiki hubungan setelah terjadi keretakan dapat menjadi bagian penting dari hubungan yang sehat.
Jadi, persoalannya bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna.
Persoalannya adalah apakah anak secara umum memiliki pengalaman bahwa dirinya dilihat, didengar, dihargai, dan memiliki seseorang yang dapat menjadi tempat mencari rasa aman.
Ketidakhadiran Tidak Harus Menjadi Takdir
Masa kecil memang dapat meninggalkan jejak.
Tetapi jejak bukan berarti takdir.
Hubungan yang sehat di kemudian hari dapat memberikan pengalaman baru. Persahabatan yang aman, pasangan yang suportif, mentor, keluarga besar, komunitas, maupun bantuan profesional dapat membantu seseorang membangun cara baru dalam berhubungan dengan orang lain.
Bahkan seseorang yang sejak kecil terbiasa memendam semuanya dapat perlahan belajar mengatakan:
“Aku sedang tidak baik-baik saja.”
“Aku membutuhkan bantuan.”
“Aku merasa terluka.”
“Aku ingin didengarkan.”
Dan mungkin salah satu bentuk penyembuhan yang paling penting adalah menyadari bahwa kebutuhan emosional bukanlah kelemahan.
Seorang anak tidak seharusnya harus menjadi sempurna untuk mendapatkan perhatian.
Ia tidak seharusnya harus berprestasi untuk merasa berharga.
Ia tidak seharusnya harus menyembunyikan kesedihan agar tidak merepotkan orang lain.
Anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia hadir.
Bukan hanya hadir secara fisik.
Tetapi hadir dengan perhatian.
Hadir dengan telinga yang mau mendengar.
Hadir dengan respons ketika anak membutuhkan bantuan.
Dan hadir dengan pesan sederhana yang sangat penting bagi perkembangan seorang anak:
“Kamu penting. Perasaanmu penting. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
Karena terkadang, hal yang paling diingat seorang anak bukanlah berapa banyak mainan yang diberikan kepadanya atau seberapa besar rumah tempat ia dibesarkan.
Yang mungkin paling membekas adalah perasaan yang muncul ketika ia membutuhkan seseorang:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022