Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 September 2026 | 02.47 WIB

Jika Anak Dewasa Sedang Kesulitan dengan Hidupnya, Lakukan 7 Cara Ini untuk Mendukungnya

seseorang yang anaknya sedang kesulitan / foto: Magnific/Borodai

 

JawaPos.com - Ada satu hal yang sering sulit diterima orang tua:

Anak yang sudah dewasa tetap bisa mengalami masa-masa ketika hidupnya terasa berantakan.

Ia mungkin belum mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Bisnisnya gagal. Pernikahannya bermasalah. Hubungannya berakhir. Kondisi keuangannya buruk. Ia merasa tertinggal dari teman-teman seusianya. Atau mungkin ia hanya terlihat kehilangan arah dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Sebagai orang tua, melihat anak yang dulu kita besarkan dengan penuh perjuangan mengalami kesulitan tentu tidak mudah.

Naluri pertama kita sering kali adalah ingin segera membantu.

Kita ingin memberikan nasihat.

Kita ingin mencarikan solusi.

Kita ingin berkata, “Kalau kamu mengikuti kata Mama/Papa, masalah ini tidak akan terjadi.”

Kita bahkan mungkin ingin mengambil alih sebagian hidupnya agar ia tidak lagi merasakan kesulitan.

Namun, ketika anak sudah dewasa, bentuk kasih sayang yang paling dibutuhkan sering kali bukan mengambil alih masalahnya, melainkan menjadi seseorang yang membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian ketika menghadapi masalah tersebut.

Dalam psikologi, kebutuhan manusia bukan hanya untuk merasa dicintai. Kita juga membutuhkan otonomi, yaitu perasaan bahwa kita memiliki pilihan dan kendali atas hidup kita; kompetensi, yaitu keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tantangan; serta relatedness, yaitu perasaan terhubung dan diterima oleh orang lain. Ketiga kebutuhan ini merupakan bagian penting dari Self-Determination Theory dan berkaitan dengan perkembangan serta kesejahteraan psikologis.

Karena itu, ketika anak dewasa sedang mengalami masa sulit, orang tua dapat menjadi sumber kekuatan tanpa membuat anak merasa bahwa hidupnya sedang diambil alih.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan.

1. Dengarkan sebelum memberikan nasihat

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi hal yang paling sulit dilakukan orang tua.

Ketika anak bercerita bahwa hidupnya sedang berantakan, jangan langsung mencari solusi.

Jangan buru-buru mengatakan:

“Makanya dari dulu Mama sudah bilang.”

Atau:

“Kalau kamu tidak memilih pekerjaan itu, pasti tidak begini.”

Atau:

“Kamu harusnya menikah dari dulu.”

Atau:

“Coba dengarkan nasihat Papa.”

Meskipun maksudnya mungkin baik, kalimat seperti itu bisa membuat anak merasa bahwa ia sedang dihakimi, bukan didengarkan.

Cobalah melakukan sesuatu yang lebih sederhana:

Dengarkan.

Biarkan ia menceritakan apa yang terjadi.

Tanyakan:

“Kamu mau cerita saja, atau kamu ingin Mama/Papa ikut membantu mencari jalan keluarnya?”

Pertanyaan sederhana ini sangat penting.

Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi terlebih dahulu. Ia membutuhkan tempat yang aman untuk mengeluarkan apa yang selama ini dipendam.

Dalam pendekatan psikologi yang mendukung otonomi, memahami sudut pandang dan pengalaman seseorang merupakan bagian penting dari dukungan. Orang tua dapat menunjukkan bahwa mereka memahami perasaan anak tanpa harus menyetujui semua keputusan yang dibuatnya.

Jadi, ketika anak berkata:

“Aku merasa gagal.”

Daripada langsung menjawab:

“Kamu tidak gagal. Banyak orang yang lebih susah dari kamu.”

Cobalah:

“Kedengarannya kamu memang sedang sangat kecewa dengan keadaanmu.”

Validasi bukan berarti mengatakan bahwa semua pikiran anak benar.

Validasi berarti mengatakan:

“Aku melihat bahwa ini berat bagimu.”

Dan terkadang, kalimat itulah yang membuat seseorang berani bangkit kembali.

2. Jangan membuat anak merasa bahwa nilai dirinya bergantung pada keberhasilannya

Anak dewasa sering kali membawa tekanan yang tidak terlihat.

Ia mungkin berpikir:

“Orang tuaku pasti kecewa.”

“Teman-temanku sudah jauh lebih sukses.”

“Usiaku sudah segini, tetapi hidupku masih begini.”

“Aku tidak berhasil menjadi seperti yang diharapkan keluargaku.”

Dalam kondisi seperti ini, komentar orang tua yang sebenarnya dimaksudkan sebagai motivasi justru bisa menambah beban.

Misalnya:

“Lihat anak tetangga, usianya sama dengan kamu sudah punya rumah.”

Atau:

“Kamu kan sudah dewasa. Masa masih begini?”

Perbandingan mungkin membuat anak bergerak untuk sementara, tetapi juga dapat memperkuat rasa malu, tidak mampu, dan tidak diterima.

Sebaliknya, anak perlu mengetahui bahwa cinta orang tua tidak bersyarat pada pencapaian hidupnya.

Katakan:

“Mama/Papa tentu ingin melihat kamu berhasil. Tapi ketika hidupmu sedang sulit, kamu tetap anak kami. Kamu tidak harus menjadi sempurna supaya kami menyayangimu.”

Pesan seperti ini bukan berarti orang tua harus membenarkan semua perilaku anak.

Tetap boleh ada batas.

Tetap boleh ada tanggung jawab.

Tetap boleh ada konsekuensi.

Tetapi hubungan emosional tidak harus menjadi alat untuk memaksa anak berubah.

Dalam kerangka Self-Determination Theory, dukungan yang penuh tekanan atau penerimaan yang diberikan secara bersyarat dapat mengganggu kebutuhan seseorang akan otonomi dan hubungan yang sehat.

Anak dewasa membutuhkan kesempatan untuk berpikir:

“Aku boleh gagal tanpa kehilangan keluargaku.”

Perasaan aman seperti itu justru dapat menjadi fondasi untuk mencoba lagi.

3. Tawarkan bantuan, tetapi jangan mengambil alih kehidupannya

Ini adalah salah satu keseimbangan paling sulit bagi orang tua.

Ada perbedaan besar antara:

“Apa yang bisa Mama/Papa bantu?”

dan

“Biar Mama/Papa yang urus semuanya.”

Ketika anak sedang kesulitan secara finansial, misalnya, orang tua mungkin ingin langsung membayar seluruh utangnya.

Ketika anak kehilangan pekerjaan, orang tua ingin mencarikan pekerjaan.

Ketika hubungan anak bermasalah, orang tua ingin menelepon pasangannya.

Ketika anak membuat keputusan yang salah, orang tua ingin memperbaikinya.

Tetapi anak dewasa tetap membutuhkan kesempatan untuk mengalami dirinya sebagai orang yang mampu menghadapi kehidupan.

Dalam psikologi, perasaan kompetensi sangat penting. Seseorang perlu mengalami bahwa ia dapat mengambil keputusan, memecahkan masalah, belajar dari kesalahan, dan bergerak maju.

Karena itu, bantuan sebaiknya diberikan sebagai dukungan, bukan pengambilalihan.

Misalnya:

“Kalau kamu membutuhkan bantuan membuat rencana keuangan, Papa bisa duduk bersama kamu.”

Bukan:

“Berikan semua rekening dan utangmu. Papa yang mengatur.”

Atau:

“Kalau kamu mau, Mama bisa membantu mencari beberapa lowongan pekerjaan.”

Bukan:

“Mama sudah mengirim CV kamu ke sepuluh perusahaan.”

Bantuan yang sehat memberi anak tangan untuk berpegangan, bukan mengambil alih kemudi kehidupannya.

4. Hormati bahwa dia sudah dewasa, meskipun kamu tetap melihatnya sebagai anak kecil

Ada sesuatu yang unik dalam hubungan orang tua dan anak.

Bagi orang tua, anak yang berusia 30 tahun kadang masih terasa seperti anak berusia 10 tahun.

Kita masih ingat bagaimana dulu ia menangis karena jatuh dari sepeda.

Kita masih ingat mengantarnya sekolah.

Kita masih ingat ketika ia sakit dan kita menjaganya semalaman.

Karena itu, secara emosional sangat sulit menyaksikan anak yang dahulu kita lindungi sekarang membuat keputusan sendiri—termasuk keputusan yang menurut kita salah.

Tetapi kedewasaan membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan.

Penelitian dan teori tentang dukungan otonomi membedakan antara membantu seseorang memiliki kendali atas tindakannya dan sekadar mendorongnya untuk “mandiri” atau menjauh dari orang tua. Otonomi tidak berarti harus hidup tanpa bantuan orang tua. Seseorang tetap dapat meminta bantuan sambil tetap menjadi pengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

Jadi, ketika anak dewasa meminta pendapat, berikan pendapat.

Tetapi bedakan antara:

“Menurut Mama, pilihan A punya risiko seperti ini.”

dengan:

“Kamu harus memilih A.”

Yang pertama memberikan informasi.

Yang kedua mencoba mengambil kendali.

Bahkan psikolog perkembangan Laurence Steinberg menekankan bahwa pada masa dewasa muda, otonomi merupakan isu penting dalam hubungan orang tua dan anak; ia menyarankan agar orang tua berhati-hati memberikan nasihat yang tidak diminta, kecuali dalam situasi dengan konsekuensi yang sangat serius dan sulit diperbaiki.

5. Bantu dia memecahkan masalah sedikit demi sedikit

Ketika seseorang sedang mengalami banyak masalah sekaligus, memberikan sepuluh nasihat sekaligus justru bisa membuatnya semakin kewalahan.

Bayangkan anak sedang kehilangan pekerjaan, memiliki utang, hubungan percintaan bermasalah, dan merasa kehilangan arah.

Lalu orang tua berkata:

“Kamu harus mencari pekerjaan baru, melunasi utang, olahraga, memperbaiki hubunganmu, ikut kursus, menabung, dan mulai berpikir positif.”

Secara logika semuanya mungkin benar.

Tetapi secara emosional, anak bisa mendengar:

“Aku punya sepuluh hal lagi yang harus aku perbaiki.”

Lebih baik bantu ia menemukan satu langkah berikutnya.

Tanyakan:

“Dari semua masalah ini, menurutmu apa yang paling mendesak?”

Kemudian:

“Apa satu hal kecil yang bisa kamu lakukan minggu ini?”

Bukan seluruh hidup yang harus diselesaikan hari ini.

Kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang bukan jawaban untuk lima tahun ke depan.

Ia hanya membutuhkan kejelasan tentang langkah berikutnya.

Orang tua dapat membantu dengan menjadi teman berpikir:

“Mari kita lihat satu per satu.”

Bukan menjadi komandan:

“Lakukan ini, lalu itu, lalu ini.”

Pendekatan seperti ini tetap memberi struktur sekaligus mempertahankan rasa memiliki kendali pada anak. Dukungan otonomi dapat mencakup memberikan pilihan, mengakui perspektif, menjelaskan alasan, dan melibatkan seseorang dalam proses pemecahan masalah.

6. Jadilah tempat yang aman, bukan tempat yang membuatnya takut pulang

Ketika hidup anak sedang kacau, rumah dan keluarga idealnya menjadi salah satu tempat yang membuatnya merasa aman.

Bukan tempat di mana setiap kali bertemu ia akan mendapatkan interogasi:

“Sudah dapat kerja?”

“Kapan menikah?”

“Kenapa masih belum punya rumah?”

“Berapa gajimu sekarang?”

“Kapan hidupmu mau benar?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terlihat biasa.

Tetapi jika terus menerus diberikan ketika anak sedang rapuh, ia bisa mulai menghindari percakapan dengan orang tua.

Hubungan orang tua–anak tetap menjadi sumber dukungan emosional penting sepanjang masa dewasa. Penelitian terbaru juga menggambarkan hubungan ini sebagai sumber dukungan dan rasa aman timbal balik, meskipun bentuk dukungan yang efektif perlu sesuai dengan kebutuhan kedua pihak.

Karena itu, ciptakan percakapan yang tidak selalu berisi masalah.

Tanyakan:

“Hari ini bagaimana?”

Bukan selalu:

“Bagaimana pekerjaanmu?”

Tawarkan makan bersama.

Ajak berjalan.

Kirim pesan sederhana:

“Tidak perlu membalas panjang. Mama/Papa cuma ingin bilang semoga harimu baik.”

Terkadang dukungan terbesar bukanlah percakapan besar.

Terkadang dukungan adalah kehadiran kecil yang konsisten.

Anak dewasa perlu tahu:

“Aku bisa datang kepada orang tuaku tanpa takut langsung dihakimi.”

7. Ketahui kapan harus membantu secara profesional

Ada masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan nasihat orang tua.

Jika anak mengalami kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, perubahan tidur atau makan yang signifikan, menarik diri secara ekstrem, sulit menjalankan pekerjaan sehari-hari, mengalami kecemasan berat, atau menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti dirinya sendiri, dukungan keluarga saja mungkin tidak cukup.

Dalam situasi seperti itu, dorong anak untuk berbicara dengan psikolog, psikiater, dokter, atau profesional kesehatan mental yang sesuai.

Tetapi sekali lagi, cara menyampaikannya penting.

Jangan:

“Kamu sakit jiwa. Pergi ke psikolog.”

Lebih baik:

“Mama/Papa melihat kamu sudah sangat lelah menghadapi semua ini. Mungkin akan membantu kalau kamu punya seseorang yang profesional untuk diajak bicara. Kalau kamu mau, kami bisa membantu mencari.”

Jika terdapat risiko langsung terhadap keselamatan anak, jangan hanya mengandalkan percakapan keluarga. Cari bantuan darurat atau layanan kesehatan setempat dan tetap berada di dekatnya bila aman untuk dilakukan.

Meminta bantuan profesional bukan berarti orang tua gagal.

Justru kadang bentuk kasih sayang yang paling dewasa adalah menyadari:

“Aku mencintaimu, tetapi aku tidak harus menjadi orang yang menyelesaikan semuanya.”

Yang Perlu Dihindari Orang Tua

Ketika anak dewasa sedang mengalami masa sulit, beberapa kebiasaan yang terlihat seperti bentuk perhatian justru dapat memperburuk hubungan.

Jangan mempermalukannya.

“Teman-temanmu sudah sukses semua.”

Jangan terus mengungkit kesalahan masa lalu.

“Sudah Mama bilang dari dulu.”

Jangan menggunakan uang sebagai alat kontrol.

“Kalau kamu tidak menuruti Mama, jangan minta bantuan lagi.”

Jangan membandingkan dengan saudara atau orang lain.

“Lihat kakakmu, dia bisa.”

Jangan memaksa anak menceritakan semuanya.

Berikan ruang ketika ia belum siap.

Jangan menjadikan keberhasilan anak sebagai ukuran keberhasilanmu sebagai orang tua.

Kehidupan anak adalah kehidupannya.

Tugas orang tua bukan memastikan anak tidak pernah gagal.

Tugas orang tua adalah membantu anak memiliki tempat yang cukup aman untuk belajar dari kegagalan.

Dan Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan Orang Tua

Ketika anak dewasa sedang kesulitan, orang tua juga bisa mengalami ketakutan.

Takut masa depan anak hancur.

Takut anak tidak akan berhasil.

Takut anak salah memilih pasangan.

Takut anak kekurangan uang.

Takut anak tidak bahagia.

Takut semua pengorbanan selama membesarkannya menjadi sia-sia.

Perasaan tersebut manusiawi.

Tetapi orang tua perlu belajar membedakan antara:

“Aku takut melihat anakku kesulitan.”

dan

“Karena aku takut, aku harus mengendalikan hidupnya.”

Keduanya sangat berbeda.

Kita bisa mencintai seseorang tanpa mengendalikan semua pilihannya.

Kita bisa memberikan nasihat tanpa memaksanya.

Kita bisa membantu tanpa mengambil alih.

Kita bisa mengatakan bahwa kita tidak setuju tanpa membuatnya merasa tidak dicintai.

Dan kita bisa tetap menjadi orang tua meskipun anak kita sudah dewasa.

Bahkan, hubungan orang tua–anak tidak harus berakhir ketika anak menjadi dewasa. Hubungan itu dapat berubah bentuk—dari hubungan yang sangat bergantung menjadi hubungan yang lebih timbal balik antara dua orang dewasa. Perspektif psikologi mengenai self-determination menekankan bahwa otonomi tidak sama dengan keterpisahan; seseorang tetap dapat dekat dengan orang tua dan meminta bantuan sambil tetap memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Pada Akhirnya, Anakmu Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Punya Semua Jawaban

Mungkin selama bertahun-tahun kita mengira menjadi orang tua berarti mengetahui apa yang harus dilakukan.

Ketika anak masih kecil, kita memang banyak mengambil keputusan untuknya.

Kita memilih makanan.

Memilih sekolah.

Membawanya ke dokter.

Mengajarinya berbicara.

Mengajarinya naik sepeda.

Melindunginya dari bahaya.

Tetapi ketika anak tumbuh dewasa, tugas itu perlahan berubah.

Kita tidak lagi harus menjadi orang yang selalu memegang kemudi.

Kita bisa menjadi seseorang yang duduk di sampingnya.

Ketika jalan hidupnya terasa gelap, kita bisa berkata:

“Aku tidak tahu persis bagaimana hidupmu akan berjalan. Tapi kamu tidak harus melewati semuanya sendirian.”

Ketika ia gagal:

“Kegagalanmu tidak membuatmu kehilangan tempat di keluarga ini.”

Ketika ia bingung:

“Kalau kamu ingin berpikir bersama, aku ada di sini.”

Ketika ia ingin mencoba lagi:

“Aku percaya kamu bisa belajar dari apa yang terjadi.”

Dan ketika ia memilih jalan yang berbeda dari yang kita bayangkan:

“Aku mungkin tidak selalu memahami pilihanmu, tetapi aku tetap ingin memahami dirimu.”

Itulah salah satu bentuk cinta yang semakin matang:

bukan menciptakan kehidupan yang bebas masalah untuk anak, tetapi memberikan hubungan yang cukup aman sehingga anak memiliki keberanian untuk menghadapi masalahnya sendiri.

Karena pada akhirnya, anak dewasa tidak membutuhkan orang tua yang membuat hidupnya sempurna.

Ia membutuhkan orang tua yang membuatnya tahu:

“Aku boleh jatuh. Aku boleh bingung. Aku boleh mulai lagi. Dan ketika aku membutuhkanmu, kamu tetap ada.”

Itulah dukungan.

Bukan mengambil alih.

Bukan mengendalikan.

Bukan menyelamatkan setiap saat.

Tetapi hadir, mendengarkan, menghormati, membantu ketika diminta, memberikan batas ketika diperlukan, dan tetap mencintai tanpa menjadikan cinta sebagai alat untuk mengontrol kehidupan anak.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore