Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 September 2026 | 05.20 WIB

Jika Kamu Ingin Membangun Kedekatan dengan Anak-Anak, Lakukan 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang membangun kedekatan dengan anak-anak / foto: Magnific/The Yuri Arcurs Collection

 

JawaPos.com - Membangun kedekatan dengan anak-anak bukan hanya tentang seberapa sering kita berada di dekat mereka. Ada orang tua yang setiap hari bersama anak, tetapi anak tetap merasa sulit bercerita. Sebaliknya, ada orang dewasa yang tidak selalu punya banyak waktu, tetapi kehadirannya membuat anak merasa aman, didengar, dan diterima.

Kedekatan emosional biasanya dibangun melalui hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali.

Cara kita menyambut anak ketika mereka pulang. Cara kita mendengarkan cerita mereka. Cara kita merespons ketika mereka melakukan kesalahan. Bahkan kebiasaan sederhana seperti menyimpan ponsel ketika anak sedang berbicara bisa memberikan pesan yang sangat kuat: "Kamu penting bagiku."

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), dalam psikologi perkembangan, hubungan yang hangat dan responsif membantu anak membangun rasa aman serta menjadi dasar penting bagi perkembangan sosial dan emosional mereka.

Jadi, jika kamu ingin mulai membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak-anak, tidak selalu diperlukan perubahan besar. Kamu bisa memulainya dari tujuh kebiasaan sederhana berikut.

1. Biasakan benar-benar mendengarkan ketika anak berbicara

Salah satu bentuk kedekatan yang sering diremehkan adalah kemampuan untuk mendengarkan.

Anak mungkin bercerita tentang hal yang menurut orang dewasa terlihat sepele.

Tentang temannya yang tidak mau berbagi mainan. Tentang guru yang menegurnya. Tentang permainan yang mereka sukai. Tentang gambar yang mereka buat. Bahkan tentang sesuatu yang bagi kita tidak masuk akal.

Namun bagi anak, hal-hal tersebut bisa terasa sangat penting.

Ketika anak sedang bercerita, cobalah untuk tidak langsung memotong, mengoreksi, atau memberikan solusi.

Alih-alih berkata:

"Ah, begitu saja jangan dipikirkan."

kita bisa mengatakan:

"Kamu kelihatannya kecewa, ya."

Atau:

"Ceritakan lebih banyak. Tadi sebenarnya apa yang terjadi?"

Respons seperti ini menunjukkan bahwa perasaan dan pengalaman anak layak untuk didengarkan.

Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui apa yang dikatakan anak. Kita tetap boleh memberikan batasan atau koreksi ketika diperlukan. Namun sebelum mengajarkan sesuatu, anak sering kali membutuhkan perasaan bahwa dirinya dipahami.

Cobalah kebiasaan sederhana ini

Ketika anak berbicara, letakkan ponsel sebentar, lihat wajahnya, dan berikan beberapa menit perhatian penuh.

Tidak harus satu jam.

Lima atau sepuluh menit perhatian yang benar-benar hadir sering kali lebih bermakna daripada berjam-jam berada di ruangan yang sama tetapi pikiran kita sibuk dengan hal lain.

2. Luangkan waktu khusus untuk melakukan sesuatu yang disukai anak

Kedekatan tidak selalu dibangun melalui percakapan serius.

Kadang-kadang hubungan justru tumbuh ketika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama.

Bermain bola. Menggambar. Membaca buku. Memasak. Jalan-jalan. Bermain permainan sederhana. Menonton sesuatu bersama. Atau sekadar duduk sambil mendengarkan musik yang disukai anak.

Yang penting bukan aktivitasnya, melainkan kualitas kehadiran kita selama aktivitas tersebut.

Anak membutuhkan pengalaman bahwa bersama orang dewasa yang mereka percaya terasa aman dan menyenangkan.

Karena itu, sesekali biarkan anak memilih aktivitas.

Tanyakan:

"Hari ini kamu mau melakukan apa bersama Ayah/Ibu?"

Pertanyaan sederhana tersebut memberi anak kesempatan untuk merasa bahwa minat mereka dihargai.

Bahkan jika aktivitas pilihannya bukan sesuatu yang menjadi favorit kita, cobalah untuk ikut masuk ke dunianya.

Jika anak suka menggambar, jangan buru-buru menilai apakah gambarnya bagus.

Tanyakan:

"Ini gambar tentang apa?"

Jika anak suka bermain mobil-mobilan, ikutlah bermain dan biarkan mereka menjelaskan aturan permainannya.

Ketika orang dewasa bersedia masuk ke dunia anak, anak mendapatkan pesan emosional yang kuat:

"Hal yang penting bagiku juga penting untuk kamu kenal."

3. Jangan hanya memperhatikan perilaku anak, tetapi juga perasaannya

Anak bukan sekadar kumpulan perilaku yang harus dikoreksi.

Di balik anak yang menangis mungkin ada rasa kecewa.

Di balik anak yang marah mungkin ada rasa frustrasi.

Di balik anak yang tidak mau bekerja sama mungkin ada kelelahan atau kebutuhan yang belum mampu ia ungkapkan.

Memahami perasaan tidak berarti membiarkan semua perilaku.

Ini perbedaan yang penting.

Kita bisa mengatakan:

"Kamu boleh marah, tetapi kamu tidak boleh memukul."

Kalimat seperti ini memisahkan emosi dari perilaku.

Perasaan boleh hadir, tetapi perilaku tetap memiliki batas.

Anak yang belajar mengenali emosinya juga perlahan belajar mengelola emosi tersebut.

Karena itu, daripada hanya mengatakan:

"Jangan nangis."

kita bisa mencoba:

"Kamu sedih karena mainannya rusak, ya?"

Atau daripada:

"Jangan marah!"

kita bisa mengatakan:

"Aku tahu kamu sedang marah. Kita tenangkan diri dulu, setelah itu kita bicara."

Respons semacam ini membantu anak memahami bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditakuti atau disembunyikan.

4. Berikan apresiasi yang spesifik, bukan hanya pujian umum

Anak tentu senang dipuji.

Namun kedekatan tidak hanya dibangun dengan mengatakan "pintar" atau "hebat".

Cobalah memberikan apresiasi yang lebih spesifik.

Misalnya:

"Aku lihat kamu tetap mencoba meskipun tadi sempat kesulitan."

Atau:

"Terima kasih sudah membantu membereskan mainan."

Atau:

"Kamu tadi mau berbagi dengan adik. Itu perhatian sekali."

Mengapa ini penting?

Karena anak mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang perilaku positif yang kita hargai.

Mereka bukan sekadar mendengar bahwa dirinya "hebat", tetapi mengetahui apa yang dilakukan dengan baik.

Selain itu, jangan membuat kasih sayang terasa seperti hadiah yang hanya diberikan ketika anak berprestasi.

Anak tetap perlu mengetahui bahwa dirinya berharga bahkan ketika mendapatkan nilai buruk, kalah dalam pertandingan, melakukan kesalahan, atau sedang mengalami hari yang sulit.

Pesan yang ingin dibangun adalah:

"Aku menghargai usahamu, dan aku tetap menyayangimu ketika kamu melakukan kesalahan."

5. Biasakan meminta maaf ketika orang dewasa melakukan kesalahan

Ada anggapan bahwa orang tua harus selalu terlihat benar di depan anak.

Padahal, menunjukkan bahwa orang dewasa juga bisa melakukan kesalahan justru dapat menjadi pelajaran emosional yang berharga.

Misalnya kita terlalu keras ketika berbicara.

Setelah keadaan tenang, kita bisa mengatakan:

"Tadi cara Ayah/Ibu berbicara terlalu keras. Itu salah. Maaf, ya."

Meminta maaf tidak mengurangi wibawa orang tua.

Sebaliknya, anak belajar bahwa hubungan yang sehat tidak berarti tidak pernah terjadi kesalahan.

Hubungan yang sehat berarti ketika kesalahan terjadi, seseorang bersedia mengakuinya dan memperbaikinya.

Anak juga belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan.

Itu adalah bagian dari tanggung jawab.

Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi contoh nyata tentang bagaimana menghadapi konflik dalam hubungan.

6. Ciptakan rutinitas kecil yang hanya menjadi "milik kalian"

Anak sering mengingat ritual-ritual kecil yang dilakukan berulang kali.

Misalnya membacakan cerita sebelum tidur.

Berpelukan sebelum berangkat sekolah.

Mengobrol selama perjalanan.

Makan bersama tanpa ponsel.

Memiliki pertanyaan khusus sebelum tidur seperti:

"Apa hal paling menyenangkan hari ini?"

Atau:

"Ada sesuatu yang membuat kamu sedih hari ini?"

Rutinitas seperti ini mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa.

Namun bagi anak, pengulangan menciptakan rasa dapat diprediksi dan aman.

Tidak perlu membuat ritual yang rumit.

Bahkan lima menit sebelum tidur bisa menjadi kesempatan untuk membangun koneksi emosional.

Yang penting adalah konsistensi.

Anak perlahan belajar:

"Ada waktu tertentu ketika aku bisa mendapatkan perhatian penuh dari orang ini."

Dan dari kebiasaan kecil itulah kedekatan dapat tumbuh.

7. Hadir ketika anak membutuhkan kita, bukan hanya ketika anak berprestasi

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling penting.

Anak perlu merasakan bahwa orang dewasa yang dekat dengannya tidak hanya muncul ketika mereka mendapatkan nilai bagus, memenangkan pertandingan, atau melakukan sesuatu yang membanggakan.

Mereka juga membutuhkan kita ketika gagal.

Ketika takut.

Ketika malu.

Ketika melakukan kesalahan.

Ketika bingung.

Ketika merasa tidak cukup baik.

Ketika anak mengalami kegagalan, respons pertama kita dapat menentukan apakah ia akan merasa aman untuk bercerita lagi di masa depan.

Daripada langsung bertanya:

"Kenapa kamu bisa gagal?"

cobalah mulai dengan:

"Kamu baik-baik saja?"

Setelah anak merasa lebih tenang, barulah kita membicarakan apa yang terjadi dan apa yang bisa diperbaiki.

Anak tidak membutuhkan orang dewasa yang selalu membenarkan mereka.

Mereka membutuhkan orang dewasa yang dapat mengatakan:

"Apa pun yang terjadi, kamu tidak harus menghadapinya sendirian."

Kedekatan Tidak Dibangun dalam Satu Hari

Membangun kedekatan dengan anak bukan sebuah proyek yang hasilnya langsung terlihat.

Mungkin setelah kita mulai mendengarkan, anak belum langsung terbuka.

Mungkin setelah kita mencoba menghabiskan waktu bersama, mereka masih lebih memilih bermain sendiri.

Mungkin kita sudah berusaha berbicara dengan lembut, tetapi suatu hari kita tetap kehilangan kesabaran.

Itu manusiawi.

Yang paling penting adalah pola hubungan yang dibangun dalam jangka panjang.

Anak belajar dari pengalaman yang berulang.

Jika berkali-kali mereka mendapatkan respons yang hangat, perhatian, batasan yang jelas, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, mereka perlahan dapat belajar bahwa hubungan dengan orang dewasa tersebut adalah tempat yang aman.

Karena itu, jangan terlalu fokus pada satu percakapan besar.

Perhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang terjadi setiap hari.

Mendengarkan.

Hadir.

Bermain bersama.

Menghargai perasaan.

Meminta maaf.

Memberikan apresiasi.

Dan tetap hadir ketika anak gagal.

Semua itu mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi seorang anak, pengalaman-pengalaman kecil tersebut dapat menjadi bagian dari cara mereka memahami hubungan, kepercayaan, dan rasa aman.

Pada akhirnya, kedekatan dengan anak bukan tentang menjadi orang tua atau orang dewasa yang sempurna.

Kedekatan lebih banyak dibangun melalui kehadiran yang konsisten.

Bukan tentang selalu tahu apa yang harus dikatakan.

Melainkan tentang bersedia mendengarkan.

Bukan tentang tidak pernah melakukan kesalahan.

Melainkan tentang bersedia memperbaikinya.

Dan bukan tentang memberikan anak semua yang mereka inginkan.

Melainkan membuat mereka tahu bahwa ketika mereka membutuhkan seseorang, ada orang dewasa yang mau hadir, mendengarkan, dan berjalan bersama mereka.

Karena sering kali, yang paling diingat anak bukanlah seberapa mahal hadiah yang pernah kita berikan.

Mereka justru mengingat bagaimana rasanya ketika berada bersama kita.

Apakah mereka merasa didengar?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa diterima?

Dan apakah mereka tahu bahwa mereka tetap dicintai bahkan ketika mereka tidak sempurna?

Jika jawabannya semakin sering "ya", mungkin di situlah kedekatan sedang tumbuh—pelan-pelan, melalui kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore