seseorang yang berusaha kembali kepada mantan / foto: Magnific/magnific
Dari luar, perilaku tersebut terkadang terlihat membingungkan.
"Kalau memang sudah putus, mengapa masih mengejar?"
"Kalau hubungan itu membuatnya terluka, mengapa ingin kembali?"
"Apakah dia masih benar-benar mencintai mantannya?"
Psikologi memberikan jawaban yang lebih kompleks. Keinginan untuk kembali kepada mantan tidak selalu hanya disebabkan oleh cinta. Ada keterikatan emosional, kebiasaan, rasa kehilangan, kenangan positif, ketakutan menghadapi masa depan, kebutuhan akan kepastian, bahkan keinginan untuk memperbaiki sesuatu yang dianggap belum selesai.
Penting juga untuk memahami bahwa setiap orang dan setiap hubungan berbeda. Tidak semua orang yang ingin kembali kepada mantan mengalami hal yang sama. Namun, ada beberapa mekanisme psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang sulit benar-benar melepaskan hubungan masa lalunya.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), terdapat tujuh alasan yang cukup umum.
1. Ikatan emosional tidak hilang seketika setelah hubungan berakhir
Salah satu alasan utama seseorang terus berusaha kembali kepada mantan adalah karena keterikatan emosional membutuhkan waktu untuk berubah.
Ketika dua orang menjalani hubungan dalam waktu tertentu, mereka tidak hanya berbagi status sebagai pasangan. Mereka juga membangun rutinitas, pengalaman, kebiasaan, kepercayaan, dan pola komunikasi.
Mantan pasangan mungkin sebelumnya menjadi orang pertama yang dihubungi ketika seseorang mendapatkan kabar baik. Ia mungkin menjadi tempat bercerita ketika sedang mengalami masalah. Bahkan hal-hal sederhana seperti mengucapkan selamat pagi, makan bersama, atau bertukar pesan sebelum tidur dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika hubungan berakhir, yang hilang bukan hanya "seorang pasangan", tetapi juga sebagian dari pola kehidupan yang sudah terbentuk.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa secara rasional memahami bahwa hubungan telah selesai, tetapi secara emosional masih merasa ingin kembali.
Otak dan emosi manusia tidak bekerja seperti tombol yang dapat langsung dimatikan.
Seseorang mungkin berkata, "Aku tahu hubungan ini sudah berakhir," tetapi pada saat yang sama masih merasakan dorongan untuk mencari mantannya.
Hal tersebut tidak otomatis berarti keputusan untuk kembali adalah keputusan yang tepat. Ini hanya menunjukkan bahwa keterikatan emosional dan keputusan rasional dapat berjalan dengan kecepatan yang berbeda.
2. Otak cenderung mengingat pengalaman positif setelah kehilangan
Ada fenomena psikologis yang sering muncul setelah seseorang kehilangan sesuatu yang penting: perhatian terhadap kenangan positif dapat menjadi semakin kuat.
Ketika hubungan masih berlangsung, seseorang mungkin sangat menyadari konflik, perbedaan karakter, kebiasaan yang mengganggu, atau masalah komunikasi. Namun setelah hubungan berakhir, perhatian tersebut bisa berubah.
Kenangan tentang liburan bersama, percakapan panjang, perhatian kecil, kejutan romantis, atau momen ketika merasa sangat dicintai dapat muncul berulang kali.
Akibatnya, seseorang bisa mulai membangun gambaran bahwa hubungan masa lalu sebenarnya jauh lebih indah daripada yang dirasakan ketika hubungan tersebut masih berlangsung.
Ini bukan berarti kenangan tersebut palsu.
Kenangan positif memang mungkin benar-benar terjadi. Masalahnya adalah manusia dapat mengingat bagian tertentu dari sebuah pengalaman tanpa secara bersamaan mengingat seluruh konteksnya.
Misalnya, seseorang mengingat:
"Dia dulu selalu menungguku pulang."
Tetapi mungkin lupa bahwa pada periode yang sama terdapat konflik yang terjadi berulang kali.
Atau seseorang mengingat:
"Kami pernah sangat bahagia."
Pernyataan tersebut mungkin benar, tetapi tidak otomatis berarti hubungan secara keseluruhan sehat atau cocok untuk dilanjutkan.
Karena itu, rasa rindu terkadang bukan hanya kerinduan terhadap seseorang, tetapi juga kerinduan terhadap versi hubungan yang paling menyenangkan.
3. Rasa kehilangan dapat membuat mantan terlihat lebih berharga
Ada sebuah paradoks dalam kehilangan: sesuatu dapat terasa lebih berharga setelah tidak lagi tersedia.
Ketika seseorang masih memiliki akses terhadap pasangannya, keberadaan pasangan tersebut bisa terasa biasa. Namun setelah hubungan berakhir, akses itu tiba-tiba hilang.
Pesan tidak lagi dibalas seperti sebelumnya.
Telepon tidak lagi menjadi hal yang normal.
Tidak ada lagi seseorang yang otomatis berada di sisi kita.
Perubahan mendadak ini dapat membuat nilai subjektif terhadap mantan meningkat.
Seseorang kemudian mulai berpikir:
"Mungkin aku tidak akan menemukan orang seperti dia lagi."
"Bagaimana kalau sebenarnya dia adalah orang yang paling cocok untukku?"
"Bagaimana kalau aku telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku?"
Pikiran seperti ini dapat membuat seseorang berusaha kembali.
Namun ada perbedaan penting antara menyadari nilai seseorang dan mengalami rasa kehilangan.
Kadang-kadang seseorang baru menyadari betapa pentingnya mantan setelah kehilangan hubungan tersebut. Tetapi dalam situasi lain, yang dirasakan sebenarnya adalah ketidaknyamanan akibat kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Dengan kata lain, "aku merindukannya" dan "kami cocok untuk kembali bersama" bukanlah dua hal yang selalu sama.
4. Hubungan yang belum selesai dapat menciptakan dorongan untuk mendapatkan penutupan
Tidak semua hubungan berakhir dengan percakapan yang jelas.
Ada hubungan yang berakhir karena pertengkaran besar. Ada yang berhenti melalui pesan singkat. Ada yang berakhir ketika salah satu pihak tiba-tiba menjauh. Ada pula hubungan yang sebenarnya sudah lama bermasalah tetapi tidak pernah benar-benar membahas akar persoalannya.
Situasi seperti ini dapat meninggalkan banyak pertanyaan.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Apakah sebenarnya dia masih mencintaiku?"
"Apakah semuanya bisa diperbaiki kalau kami bicara sekali lagi?"
"Bagaimana kalau waktu itu aku mengambil keputusan berbeda?"
Pertanyaan yang tidak terjawab dapat membuat seseorang terus memikirkan hubungan tersebut.
Dalam kondisi tertentu, keinginan untuk kembali kepada mantan bukan semata-mata karena ingin menjalani hubungan seperti dulu. Seseorang mungkin ingin mendapatkan penjelasan, meminta maaf, memperbaiki kesalahan, atau memastikan bahwa hubungan tersebut benar-benar telah berakhir.
Inilah mengapa seseorang terkadang terus mencari kontak meskipun secara logis tahu bahwa hubungan tersebut mungkin sudah tidak dapat dilanjutkan.
Ia bukan hanya mengejar mantan.
Ia mungkin sedang mengejar sebuah jawaban.
5. Ketakutan terhadap masa depan dapat membuat masa lalu terasa lebih aman
Putus cinta berarti menghadapi ketidakpastian.
Sebelum hubungan berakhir, seseorang mungkin sudah mengetahui siapa yang akan dihubungi, dengan siapa akan menghabiskan waktu, seperti apa rutinitas akhir pekan, dan bagaimana kehidupan romantisnya berjalan.
Setelah putus, semuanya menjadi tidak pasti.
Bagi sebagian orang, ketidakpastian tersebut terasa menakutkan.
Muncul pertanyaan seperti:
"Apakah aku akan menemukan pasangan lagi?"
"Bagaimana kalau aku sendirian untuk waktu yang lama?"
"Bagaimana kalau hubungan berikutnya justru lebih buruk?"
Ketika masa depan terasa tidak jelas, masa lalu dapat terlihat lebih aman karena sudah dikenal.
Mantan memiliki satu keunggulan psikologis yang tidak dimiliki orang baru: kita sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya.
Kita tahu bagaimana ia berbicara, bagaimana ia bereaksi, kebiasaannya, kelebihan dan kekurangannya.
Sementara itu, mengenal orang baru membutuhkan energi, keberanian, dan toleransi terhadap ketidakpastian.
Karena itu, sebagian orang kembali kepada mantan bukan karena hubungan lama sudah berubah menjadi ideal, tetapi karena sesuatu yang familiar terasa lebih mudah daripada sesuatu yang belum diketahui.
6. Seseorang mungkin ingin membuktikan bahwa hubungan tersebut masih bisa diselamatkan
Alasan lain berkaitan dengan investasi emosional.
Semakin banyak waktu, tenaga, pengalaman, dan harapan yang seseorang investasikan dalam hubungan, semakin sulit menerima bahwa semuanya telah berakhir.
Bayangkan seseorang telah menjalani hubungan selama bertahun-tahun.
Mereka mungkin sudah melewati berbagai masalah bersama, membuat rencana masa depan, mengenal keluarga masing-masing, membangun lingkaran pertemanan yang sama, bahkan membayangkan pernikahan.
Ketika hubungan tersebut berakhir, menerima kenyataan bahwa semua rencana itu tidak akan terjadi dapat terasa sangat berat.
Pada titik tertentu seseorang mungkin berpikir:
"Kami sudah melewati begitu banyak hal. Masa semuanya berakhir begitu saja?"
Perasaan ini dapat mendorong usaha untuk mendapatkan kesempatan kedua.
Ada pula keinginan untuk membuktikan bahwa hubungan sebenarnya masih dapat diperbaiki jika kedua pihak lebih dewasa, lebih komunikatif, atau lebih memahami satu sama lain.
Keinginan memperbaiki hubungan tidak selalu buruk. Dalam beberapa hubungan, pasangan memang dapat belajar dari masalah sebelumnya dan membangun pola yang berbeda.
Tetapi perubahan nyata membutuhkan lebih dari sekadar rasa rindu.
Jika masalah utama yang menyebabkan perpisahan tidak berubah, mengulangi hubungan dengan pola lama dapat menghasilkan masalah lama yang sama.
7. Sebagian orang masih menghubungkan mantan dengan identitas dirinya
Hubungan romantis dapat menjadi bagian besar dari cara seseorang mendefinisikan kehidupannya.
Selama bertahun-tahun, seseorang mungkin terbiasa mengatakan:
"Kami."
Bukan hanya "aku".
Ia mungkin membuat keputusan sebagai pasangan, memiliki teman bersama, menjalani rutinitas bersama, dan membayangkan masa depan bersama.
Ketika hubungan berakhir, seseorang harus kembali membangun identitas sebagai individu.
Ini tidak selalu mudah.
Pertanyaan yang muncul bukan hanya:
"Siapa yang akan menjadi pasanganku?"
Tetapi juga:
"Siapa aku sekarang?"
"Seperti apa hidupku tanpa dia?"
"Apa yang akan kulakukan setelah semua rencana kami berubah?"
Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk kembali kepada mantan dapat menjadi bagian dari keinginan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang terasa familiar.
Dengan kembali kepada mantan, seseorang mungkin berharap dapat kembali menjadi "dirinya yang dulu".
Padahal, proses setelah putus sering kali justru membutuhkan pembangunan kembali kehidupan pribadi yang tidak bergantung pada hubungan tersebut.
Jadi, apakah terus ingin kembali kepada mantan berarti masih mencintainya?
Belum tentu.
Cinta bisa menjadi salah satu alasannya, tetapi bukan satu-satunya.
Keinginan untuk kembali dapat berasal dari berbagai hal: keterikatan, kesepian, nostalgia, rasa kehilangan, kebutuhan akan kepastian, ketakutan terhadap masa depan, rasa bersalah, hubungan yang belum selesai, atau keyakinan bahwa kesalahan masa lalu masih bisa diperbaiki.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:
"Apakah aku masih mencintai mantanku?"
Tetapi juga:
"Apakah aku merindukan orangnya atau kehidupan yang dulu kami miliki?"
"Apakah masalah yang menyebabkan kami berpisah benar-benar berubah?"
"Apakah aku ingin kembali karena hubungan itu sehat untuk kami, atau karena aku tidak nyaman dengan kehilangan?"
"Jika kami kembali bersama, apa yang akan berbeda kali ini?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara kerinduan terhadap masa lalu dan keinginan yang realistis untuk membangun hubungan baru dengan orang yang sama.
Kembali bersama bukan berarti mengulang hubungan yang lama
Jika dua orang memutuskan untuk kembali bersama, hubungan tersebut pada dasarnya membutuhkan sesuatu yang berbeda.
Mereka tidak dapat hanya mengandalkan kenangan indah.
Masalah yang menyebabkan perpisahan perlu dipahami. Pola komunikasi perlu diperbaiki. Batasan perlu diperjelas. Harapan terhadap hubungan perlu dibicarakan. Dan perubahan perlu terlihat melalui perilaku, bukan hanya janji.
Hubungan kedua yang sehat bukanlah usaha untuk mengembalikan hubungan persis seperti sebelum putus.
Lebih tepatnya, kedua orang tersebut perlu bertanya:
"Apakah kami mampu membangun hubungan yang berbeda dari sebelumnya?"
Karena kembali kepada seseorang tidak otomatis menghapus alasan mengapa hubungan itu berakhir.
Penutup
Sebagian orang terus berusaha kembali kepada mantan bukan karena mereka tidak mampu berpikir rasional, dan bukan pula karena setiap hubungan lama pasti masih layak dipertahankan.
Sering kali, manusia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehilangan seseorang yang sebelumnya menjadi bagian penting dari kehidupannya.
Rasa rindu, nostalgia, kesepian, kenangan positif, ketidakpastian masa depan, kebutuhan akan penutupan, dan keinginan memperbaiki kesalahan semuanya dapat memainkan peran.
Yang penting adalah memahami bahwa merindukan seseorang tidak selalu berarti harus kembali kepadanya.
Perasaan adalah informasi tentang apa yang sedang kita alami, tetapi perasaan tidak selalu menjadi satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.
Pada akhirnya, seseorang perlu melihat bukan hanya bagaimana hubungan tersebut terasa ketika sedang dirindukan, tetapi juga bagaimana hubungan tersebut benar-benar berjalan ketika masih dijalani.
Sebab terkadang kita tidak benar-benar ingin kembali kepada hubungan yang lama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022