Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 03.58 WIB

6 Alasan Mengapa Seseorang Mungkin Selalu Merasa Beberapa Masalah Itu Karena Salahnya

seseorang yang merasa menjadi penyebab masalah / foto: Magnific/thicha2707

 

JawaPos.com - Pernahkah Anda menghadapi sebuah masalah, lalu hal pertama yang muncul dalam pikiran adalah, “Ini pasti karena saya”?

Ketika seseorang marah kepada kita, kita merasa mungkin telah melakukan sesuatu yang salah. Ketika hubungan berakhir, kita terus memikirkan kesalahan yang pernah dilakukan. Bahkan ketika sesuatu yang buruk terjadi dan sebenarnya berada di luar kendali kita, kita tetap mencari-cari bagian yang bisa disalahkan kepada diri sendiri.

Sesekali melakukan introspeksi tentu merupakan hal yang sehat. Kita memang perlu mampu mengakui kesalahan, belajar dari pengalaman, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika seseorang hampir selalu menganggap dirinya sebagai penyebab berbagai masalah. Ia mungkin meminta maaf meskipun bukan pihak yang bersalah, merasa bersalah ketika orang lain kecewa, atau terus memutar ulang kejadian masa lalu untuk mencari kesalahan dalam dirinya.

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dapat berkaitan dengan berbagai proses kognitif dan pengalaman emosional. Bukan berarti setiap orang yang sering menyalahkan diri sendiri memiliki gangguan psikologis tertentu. Sebaliknya, kebiasaan tersebut bisa terbentuk dari cara seseorang belajar memahami hubungan, konflik, tanggung jawab, dan dirinya sendiri.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), terdapat enam kemungkinan alasan mengapa seseorang mungkin selalu merasa bahwa beberapa masalah adalah kesalahannya.

1. Ia Terbiasa Mengambil Tanggung Jawab Berlebihan

Ada perbedaan antara bertanggung jawab dan merasa bertanggung jawab atas segala sesuatu.

Orang yang sehat secara psikologis dapat mengatakan, “Saya memang melakukan kesalahan dalam bagian ini, tetapi tidak semua yang terjadi merupakan tanggung jawab saya.”

Sementara itu, seseorang yang terbiasa menyalahkan diri sendiri mungkin berpikir secara berbeda.

Ketika terjadi konflik, ia tidak hanya bertanya:

“Apa yang menjadi bagian kesalahan saya?”

Melainkan:

“Apa yang saya lakukan sampai semuanya menjadi seperti ini?”

Perbedaan kecil tersebut dapat menghasilkan cara berpikir yang sangat berbeda.

Tanggung jawab yang proporsional membuat seseorang mampu memperbaiki sesuatu tanpa menghukum dirinya sendiri. Sebaliknya, tanggung jawab yang berlebihan dapat membuat seseorang mengambil beban yang sebenarnya bukan miliknya.

Misalnya, seorang teman tiba-tiba menjadi dingin. Orang tersebut mungkin langsung berpikir bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah. Padahal, temannya bisa saja sedang menghadapi persoalan pribadi, kelelahan, atau memiliki masalah lain yang sama sekali tidak berkaitan dengannya.

Mengapa hal seperti ini terjadi?

Salah satu kemungkinan adalah seseorang merasa lebih aman ketika ia menganggap dirinya memiliki kendali terhadap situasi. Jika masalah berasal dari dirinya, maka secara tidak sadar muncul keyakinan bahwa ia bisa memperbaikinya.

Ironisnya, pola tersebut justru dapat membuat seseorang terus merasa bersalah.

Ia mungkin berpikir:

“Kalau semua ini salah saya, berarti saya harus lebih berhati-hati.”

Akibatnya, ia semakin mengawasi perilakunya, semakin takut membuat kesalahan, dan semakin mudah menyalahkan dirinya sendiri.

Padahal, tidak semua kejadian dalam kehidupan memiliki satu penyebab yang jelas. Banyak masalah merupakan hasil dari interaksi antara keputusan beberapa orang, keadaan lingkungan, miskomunikasi, kesempatan, dan faktor yang berada di luar kendali siapa pun.

Belajar membedakan antara “bagian yang menjadi tanggung jawab saya” dan “hal yang berada di luar kendali saya” merupakan langkah penting untuk mengurangi kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

2. Ia Mungkin Memiliki Pola Pikir yang Sangat Kritis terhadap Diri Sendiri

Sebagian orang memiliki suara batin yang jauh lebih keras terhadap dirinya sendiri dibandingkan terhadap orang lain.

Ketika teman melakukan kesalahan, ia mungkin berkata:

“Tidak apa-apa. Semua orang bisa salah.”

Namun ketika dirinya melakukan kesalahan yang sama, pikirannya berubah:

“Bagaimana bisa saya sebodoh ini?”

Ini menunjukkan adanya self-criticism, yaitu kecenderungan mengevaluasi diri secara keras dan negatif.

Orang yang sangat kritis terhadap dirinya sendiri dapat melihat kesalahan kecil sebagai bukti adanya kekurangan yang lebih besar.

Contohnya:

“ Saya terlambat membalas pesan.”

dapat berubah menjadi:

“ Saya memang tidak bisa menjadi teman yang baik.”

Atau:

“ Saya salah mengambil keputusan.”

berubah menjadi:

“ Saya selalu membuat semuanya berantakan.”

Masalahnya bukan hanya pada kesalahan awal, tetapi pada makna yang kemudian diberikan kepada kesalahan tersebut.

Satu tindakan yang kurang tepat akhirnya dianggap sebagai bukti bahwa dirinya adalah orang yang buruk, egois, tidak kompeten, atau tidak layak dipercaya.

Pola seperti ini dapat membuat seseorang lebih mudah menemukan bukti yang mendukung keyakinan negatif tentang dirinya.

Ketika sesuatu berjalan baik, ia mungkin menganggap:

“Itu hanya kebetulan.”

Namun ketika sesuatu berjalan buruk:

“Nah, ini membuktikan bahwa saya memang bermasalah.”

Dengan demikian, pengalaman positif menjadi kurang diperhitungkan, sementara kesalahan justru mendapatkan perhatian yang sangat besar.

Dalam jangka panjang, seseorang dapat membangun gambaran diri yang didominasi oleh kekurangan.

Ia tidak lagi melihat:

“Saya melakukan kesalahan.”

Tetapi:

“Saya adalah kesalahan.”

Padahal kedua pernyataan tersebut sangat berbeda.

Melakukan kesalahan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Menjadikan kesalahan sebagai identitas diri adalah persoalan yang jauh lebih berat.

3. Pengalaman Masa Lalu Bisa Membentuk Kebiasaan Menyalahkan Diri Sendiri

Cara seseorang memandang masalah tidak muncul begitu saja. Pengalaman masa lalu dapat ikut membentuk cara seseorang menafsirkan konflik dan hubungan dengan orang lain.

Seseorang yang sejak kecil sering dibuat merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, misalnya, dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa menjaga suasana hati orang lain merupakan tugasnya.

Ketika orang lain marah:

“Apa yang saya lakukan?”

Ketika orang lain kecewa:

“Saya pasti membuatnya kecewa.”

Ketika terjadi konflik:

“Saya harus memperbaikinya.”

Pola tersebut dapat menjadi kebiasaan yang terbawa sampai dewasa.

Ini bukan berarti pengalaman masa lalu selalu menentukan perilaku seseorang. Manusia tetap memiliki kemampuan untuk belajar, berubah, dan membangun pola baru.

Namun, pengalaman interpersonal yang berulang dapat memengaruhi apa yang dianggap seseorang sebagai sesuatu yang “normal”.

Jika seseorang terlalu sering menerima pesan seperti:

“Kamu membuat Ibu marah.”
“Kalau kamu tidak melakukan itu, masalah ini tidak akan terjadi.”
“Kamu harus membuat semua orang senang.”
“Jangan sampai mengecewakan orang lain.”

ia mungkin belajar bahwa emosi dan masalah orang lain adalah tanggung jawab pribadinya.

Ketika dewasa, pola tersebut bisa muncul dalam bentuk perilaku yang tampak sangat bertanggung jawab.

Ia selalu meminta maaf.

Ia selalu berusaha memperbaiki keadaan.

Ia sulit mengatakan “tidak”.

Ia takut mengecewakan orang lain.

Dan ketika seseorang tidak bahagia, ia langsung mencari kesalahan pada dirinya sendiri.

Dari luar, orang seperti ini mungkin terlihat sangat pengertian.

Namun di dalam dirinya, bisa terdapat beban psikologis yang cukup berat karena ia merasa harus terus memastikan bahwa semua orang baik-baik saja.

Padahal, setiap orang memiliki tanggung jawab atas emosi dan perilakunya sendiri.

4. Menyalahkan Diri Sendiri Bisa Memberikan Ilusi Bahwa Situasi Masih Bisa Dikendalikan

Ini mungkin terdengar paradoks.

Bukankah menyalahkan diri sendiri justru membuat seseorang merasa lebih buruk?

Ya. Tetapi dalam beberapa situasi, menyalahkan diri sendiri dapat memberikan rasa kendali tertentu, meskipun rasa kendali tersebut tidak selalu akurat.

Bayangkan seseorang mengalami kegagalan yang penyebabnya berada di luar kendalinya.

Jika ia mengatakan:

“Saya memang tidak bisa mengendalikan hal itu.”

maka ia harus menerima kenyataan bahwa kehidupan memiliki ketidakpastian.

Bagi sebagian orang, ketidakpastian tersebut sangat tidak nyaman.

Sebaliknya, jika ia mengatakan:

“Ini terjadi karena saya kurang berusaha.”

maka muncul sebuah kesimpulan yang terasa lebih mudah ditangani:

“Kalau saya berusaha lebih keras lain kali, ini tidak akan terjadi lagi.”

Dengan kata lain, menyalahkan diri sendiri terkadang dapat membuat dunia terasa lebih terprediksi.

Jika semua masalah disebabkan oleh kesalahan pribadi, maka semuanya tampak memiliki solusi pribadi.

Masalahnya, kehidupan tidak sesederhana itu.

Ada kejadian yang memang tidak dapat kita kendalikan.

Orang lain dapat berubah pikiran.

Orang lain dapat mengambil keputusan buruk.

Hubungan dapat berakhir meskipun seseorang sudah berusaha.

Rencana dapat gagal karena keadaan yang tidak terduga.

Kesempatan dapat hilang bukan karena seseorang tidak cukup baik, tetapi karena situasinya memang tidak mendukung.

Menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu memiliki kendali bisa terasa menakutkan. Namun, kemampuan menerima ketidakpastian justru merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis.

Tidak semua masalah membutuhkan seseorang untuk disalahkan.

Kadang-kadang, sesuatu memang terjadi karena kombinasi banyak faktor.

5. Ia Mungkin Terjebak dalam Pola Berpikir “Kalau Saja…”

Salah satu bentuk pemikiran yang sering muncul setelah kejadian buruk adalah counterfactual thinking, yaitu membayangkan alternatif dari apa yang sebenarnya terjadi.

Contohnya:

“Kalau saja saya tidak pergi hari itu…”

“Kalau saja saya mengatakan hal yang berbeda…”

“Kalau saja saya lebih cepat menyadarinya…”

“Kalau saja saya mengambil keputusan lain…”

Memikirkan alternatif seperti ini sebenarnya merupakan bagian normal dari cara manusia belajar dari pengalaman.

Masalah muncul ketika seseorang terus menggunakannya untuk menghukum dirinya sendiri.

Ia tidak lagi bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?”

Tetapi terus bertanya:

“Apa yang seharusnya saya lakukan agar kejadian ini tidak pernah terjadi?”

Perbedaannya terletak pada tujuan.

Pertanyaan pertama berorientasi pada pembelajaran.

Pertanyaan kedua dapat berubah menjadi penyesalan tanpa akhir.

Seseorang kemudian melihat masa lalu dengan pengetahuan yang baru diperolehnya setelah kejadian terjadi.

Padahal, ketika mengambil keputusan di masa lalu, ia hanya memiliki informasi yang tersedia pada saat itu.

Ini penting untuk dipahami.

Kita sering menilai keputusan masa lalu menggunakan informasi yang baru kita miliki sekarang.

Misalnya, seseorang memilih pekerjaan tertentu karena pada saat itu pekerjaan tersebut tampak menjanjikan. Beberapa bulan kemudian perusahaan mengalami masalah dan ia kehilangan pekerjaan.

Ia mungkin berkata:

“Seharusnya saya tahu dari awal.”

Padahal, mungkin memang tidak ada informasi yang cukup untuk mengetahui apa yang akan terjadi.

Menyalahkan diri sendiri dengan menggunakan pengetahuan setelah kejadian dapat menciptakan ilusi bahwa kita sebenarnya bisa memprediksi masa depan.

Akibatnya, seseorang terus memutar ulang masa lalu.

Bukan untuk belajar, melainkan untuk mencari titik di mana ia merasa “seharusnya” melakukan sesuatu secara berbeda.

6. Ia Mungkin Menganggap Rasa Bersalah sebagai Bukti bahwa Dirinya Memang Bersalah

Ini adalah salah satu jebakan psikologis yang cukup penting.

Perasaan bukan selalu bukti.

Seseorang dapat merasa bersalah meskipun secara objektif kontribusinya terhadap masalah sangat kecil atau bahkan tidak ada.

Namun karena rasa bersalah tersebut terasa kuat, ia kemudian menyimpulkan:

“Kalau saya merasa bersalah, berarti saya memang bersalah.”

Padahal, emosi dapat dipengaruhi oleh banyak hal.

Rasa bersalah bisa muncul karena standar pribadi yang sangat tinggi, pengalaman masa lalu, ketakutan mengecewakan orang lain, atau kecenderungan terlalu bertanggung jawab.

Contohnya, seorang teman membatalkan rencana bertemu karena sedang lelah.

Orang yang mudah merasa bersalah mungkin berpikir:

“Mungkin saya terlalu merepotkannya.”

Ia kemudian meminta maaf.

Temannya mengatakan bahwa tidak ada masalah.

Namun rasa bersalah itu tetap ada.

Dalam kondisi seperti ini, penting untuk memisahkan dua hal:

“Saya merasa bersalah.”

dan

“Saya benar-benar melakukan sesuatu yang salah.”

Keduanya tidak selalu sama.

Perasaan perlu didengarkan, tetapi tidak selalu harus dipercaya sebagai fakta.

Ini bukan berarti kita harus mengabaikan rasa bersalah. Sebaliknya, rasa bersalah dapat menjadi sinyal untuk melakukan pemeriksaan diri:

Apa sebenarnya yang saya lakukan?

Apa dampaknya terhadap orang lain?

Apakah saya memang memiliki tanggung jawab?

Apakah ada bukti bahwa saya menyebabkan masalah tersebut?

Atau saya hanya merasa bertanggung jawab karena terbiasa mengambil beban orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang memisahkan fakta dari interpretasi.

Ketika Introspeksi Berubah Menjadi Menyalahkan Diri Sendiri

Introspeksi dan self-blame bukanlah hal yang sama.

Introspeksi mengatakan:

“Saya melakukan kesalahan. Apa yang dapat saya pelajari?”

Self-blame yang berlebihan mengatakan:

“Saya melakukan kesalahan. Berarti saya memang orang yang buruk.”

Introspeksi menghasilkan pembelajaran.

Self-blame yang berlebihan sering kali menghasilkan hukuman terhadap diri sendiri.

Introspeksi membantu seseorang melihat kontribusinya secara proporsional.

Self-blame membuat seseorang mengambil terlalu banyak tanggung jawab.

Introspeksi berfokus pada perilaku.

Self-blame sering berkembang menjadi penilaian terhadap identitas diri.

Karena itu, kemampuan untuk mengakui kesalahan tetap penting. Tujuannya bukan menghilangkan seluruh rasa bersalah atau selalu menganggap diri tidak bersalah.

Tujuannya adalah melihat tanggung jawab secara realistis.

Jika memang melakukan kesalahan, akui.

Jika perlu meminta maaf, minta maaf.

Jika ada sesuatu yang harus diperbaiki, perbaiki.

Tetapi setelah itu, tidak selalu perlu menghukum diri sendiri tanpa batas.

Bagaimana Mengetahui Apakah Kita Sedang Menyalahkan Diri Sendiri Secara Berlebihan?

Ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat digunakan ketika muncul pikiran, “Ini semua karena saya.”

1. Apa fakta yang sebenarnya?

Pisahkan fakta dari asumsi.

Misalnya:

Fakta: seseorang terlihat kecewa setelah percakapan.

Asumsi: dia kecewa karena saya adalah orang yang buruk.

Keduanya bukan hal yang sama.

2. Berapa persen tanggung jawab saya?

Masalah tidak selalu memiliki satu penyebab.

Mungkin Anda memiliki kontribusi tertentu, tetapi orang lain, keadaan, atau faktor eksternal juga memiliki peran.

3. Apakah saya akan mengatakan hal yang sama kepada teman?

Jika seorang teman mengalami situasi yang sama, apakah Anda akan berkata:

“Ini semua salahmu.”

Atau Anda akan berkata:

“Kamu memang bisa belajar dari bagian ini, tetapi tidak semuanya berada dalam kendalimu.”

Jika Anda jauh lebih baik hati kepada orang lain daripada kepada diri sendiri, mungkin standar terhadap diri sendiri perlu diperiksa.

4. Apakah saya sedang menggunakan informasi yang baru saya ketahui sekarang?

Ini penting ketika menilai keputusan masa lalu.

Jangan menghukum diri karena tidak mengetahui sesuatu yang memang belum Anda ketahui saat itu.

5. Apakah rasa bersalah saya memiliki dasar yang jelas?

Tanyakan:

“Apa tindakan konkret saya yang merugikan orang lain?”

Jika tidak ada jawaban yang jelas, mungkin yang sedang bekerja bukan tanggung jawab aktual, melainkan rasa bersalah atau kecemasan.

Belajar Mengganti “Ini Salah Saya” dengan “Apa Bagian Saya?”

Salah satu perubahan cara berpikir yang lebih sehat bukanlah mengganti:

“Ini salah saya.”

menjadi:

“Ini bukan salah saya sama sekali.”

Keduanya sama-sama bisa terlalu ekstrem.

Pertanyaan yang lebih konstruktif adalah:

“Apa bagian yang menjadi tanggung jawab saya?”

Kalimat tersebut membuka ruang untuk melihat masalah secara lebih objektif.

Mungkin Anda memang salah karena mengatakan sesuatu dengan cara yang menyakitkan.

Akui bagian tersebut.

Tetapi jika orang lain kemudian memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak sehat sebagai respons terhadap kesalahan Anda, pilihan tersebut tetap menjadi tanggung jawab orang tersebut.

Mungkin Anda berkontribusi terhadap sebuah konflik.

Tetapi itu tidak otomatis berarti seluruh konflik merupakan kesalahan Anda.

Mungkin Anda membuat keputusan yang buruk.

Tetapi keputusan buruk tidak otomatis berarti Anda adalah orang yang buruk.

Inilah perbedaan antara akuntabilitas dan penghukuman diri.

Akuntabilitas berkata:

“Saya bertanggung jawab atas tindakan saya dan akan memperbaikinya.”

Penghukuman diri berkata:

“Karena saya melakukan kesalahan, saya pantas terus merasa buruk.”

Yang pertama dapat membantu pertumbuhan.

Yang kedua justru dapat membuat seseorang terjebak.

Penutup

Seseorang yang selalu merasa bahwa masalah adalah kesalahannya belum tentu benar-benar menjadi penyebab semua masalah tersebut.

Bisa jadi ia terbiasa mengambil tanggung jawab berlebihan, memiliki pola pikir yang sangat kritis terhadap diri sendiri, membawa pola dari pengalaman masa lalu, mencari rasa kendali dalam situasi yang tidak pasti, terus memikirkan alternatif masa lalu, atau menganggap rasa bersalah sebagai bukti bahwa dirinya bersalah.

Memahami pola tersebut bukan berarti seseorang harus berhenti melakukan introspeksi.

Justru sebaliknya.

Introspeksi yang sehat membantu kita bertanya:

“Apa yang bisa saya perbaiki?”

tanpa harus berakhir pada:

“Ada yang salah dengan diri saya.”

Kita semua memiliki bagian dalam berbagai masalah yang terjadi dalam hidup. Namun, memiliki bagian bukan berarti memiliki seluruh kesalahan.

Kadang-kadang, kedewasaan psikologis bukan hanya tentang keberanian mengatakan “Saya salah.”

Tetapi juga tentang kemampuan mengatakan:

“Ini memang bagian saya untuk diperbaiki, tetapi tidak semuanya merupakan tanggung jawab saya.”

Dan bagi sebagian orang, kemampuan menerima kalimat tersebut mungkin menjadi bentuk belas kasih terhadap diri sendiri yang selama ini jarang diberikan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore