
Ilutrasi sejumlah anak mengisi liburan sekolah dengan aktivitas di luar ruangan dengan menanam padi.(Istimewa).
JawaPos.com - Libur sekolah sering kali diiringi peningkatan waktu penggunaan gawai pada anak. Sejumlah studi menunjukkan bahwa ketika rutinitas sekolah berhenti, anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu secara pasif dibandingkan melakukan aktivitas fisik.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Structured Days Hypothesis, yakni kondisi ketika absennya jadwal teratur membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu tanpa bergerak. Sejumlah survei juga mencatat bahwa saat libur panjang, durasi screen time anak dapat meningkat hingga sekitar dua setengah jam per hari, sementara aktivitas fisik dan waktu tidur mereka justru menurun.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia sekolah untuk aktif bergerak setidaknya 60 menit setiap hari.
Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, mengatakan masa liburan sebaiknya dimanfaatkan untuk memberi ruang lebih luas bagi anak untuk bermain dan bereksplorasi.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat Adventurous Play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," ujar Saskhya dalam kegiatan komunitas yang membahas tumbuh kembang anak di Jakarta, dikutip Rabu (24/6).
Menurut dia, permainan yang menantang tetapi tetap aman dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, dan membangun rasa percaya diri.
Saskhya menilai orang tua juga perlu memberikan kepercayaan kepada anak tanpa menghilangkan pengawasan.
"Ketenangan ibu itu menular dan sangat krusial. Kalau kita terlalu mudah cemas atau sedikit sedikit melarang, anak justru akan menyembunyikan rasa sakit atau lelahnya karena takut disuruh berhenti bermain," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya mampu mengenali sinyal tubuhnya sendiri. Ketika sedang asyik bermain, rasa lelah maupun haus kerap tertutupi oleh antusiasme dan adrenalin.
Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Menurut Saskhya, sikap rewel, mudah marah, atau lesu dapat menjadi tanda awal bahwa tubuh anak mulai mengalami kekurangan cairan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022