
seseorang yang kesulitan menjalin persahabatan./Freepik/yana.aybazova
JawaPos.com - Persahabatan yang dalam dan bermakna adalah salah satu kebutuhan emosional manusia. Namun, tidak semua orang dewasa mampu menjalin hubungan yang hangat, terbuka, dan penuh kepercayaan.
Banyak yang merasa kesepian meskipun memiliki banyak kenalan. Dari perspektif psikologi, akar dari kesulitan ini sering kali dapat ditelusuri kembali ke pengalaman masa kecil.
Masa kanak-kanak adalah periode penting dalam pembentukan pola keterikatan (attachment), rasa aman, serta kemampuan memahami emosi diri dan orang lain.
Dilansir dari Expert Editor pada MInggu (29/3), terdapat tujuh pengalaman masa kecil yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membangun persahabatan yang mendalam di kemudian hari.
1. Kurangnya Kelekatan Emosional dengan Orang Tua
Anak yang tidak mendapatkan kehangatan, perhatian, atau respons emosional yang konsisten dari orang tua cenderung mengembangkan insecure attachment. Mereka belajar sejak dini bahwa dunia tidak selalu aman dan orang lain tidak dapat diandalkan.
Akibatnya, ketika dewasa:
Mereka sulit mempercayai orang lain
Cenderung menjaga jarak emosional
Takut membuka diri karena khawatir disakiti
Persahabatan yang mendalam membutuhkan kerentanan, sesuatu yang terasa berbahaya bagi mereka yang tidak pernah merasa aman secara emosional sejak kecil.
2. Pola Asuh yang Terlalu Kritis atau Perfeksionis
Orang tua yang terlalu sering mengkritik atau menuntut kesempurnaan dapat membuat anak tumbuh dengan rasa tidak cukup baik.
Dampaknya di masa dewasa:
Takut dihakimi dalam hubungan sosial
Cenderung overthinking dalam interaksi
Sulit merasa nyaman menjadi diri sendiri
Karena persahabatan sejati membutuhkan keaslian, individu dengan latar belakang ini sering kali kesulitan menunjukkan sisi asli dirinya.
3. Pengalaman Penolakan atau Perundungan (Bullying)
Anak yang pernah mengalami penolakan sosial atau perundungan di sekolah sering membawa luka emosional yang bertahan lama.
Efek psikologisnya:
Sensitif terhadap tanda-tanda penolakan
Mudah menarik diri dari hubungan
Menghindari kedekatan untuk melindungi diri
Mereka mungkin ingin memiliki teman dekat, tetapi rasa takut akan pengalaman buruk terulang membuat mereka menjaga jarak.
4. Lingkungan Keluarga yang Tidak Stabil
Pertumbuhan dalam keluarga yang penuh konflik, perceraian, atau ketidakpastian emosional dapat mengganggu perkembangan rasa aman anak.
Di masa dewasa:
Hubungan terasa tidak stabil dan sulit dipercaya
Cenderung cemas atau justru menghindari kedekatan
Sulit mempertahankan hubungan jangka panjang
Persahabatan yang mendalam membutuhkan konsistensi, sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka rasakan sejak kecil.
5. Kurangnya Pembelajaran Emosi (Emotional Coaching)
Tidak semua anak diajarkan untuk mengenali dan mengelola emosi. Dalam beberapa keluarga, emosi dianggap tabu atau diabaikan.
Akibatnya:
Sulit memahami perasaan sendiri
Kesulitan berempati terhadap orang lain
Komunikasi emosional menjadi terbatas
Padahal, kedalaman persahabatan sangat bergantung pada kemampuan berbagi perasaan dan memahami satu sama lain.
6. Terlalu Mandiri Sejak Dini (Parentification)
Beberapa anak dipaksa menjadi “dewasa sebelum waktunya”, misalnya harus mengurus adik atau bahkan orang tua secara emosional.
Dampaknya:
Terbiasa mengandalkan diri sendiri
Merasa tidak nyaman bergantung pada orang lain
Menganggap kebutuhan emosional sebagai kelemahan
Dalam persahabatan, mereka mungkin terlihat kuat, tetapi sulit membangun kedekatan yang setara dan saling bergantung.
7. Kurangnya Kesempatan Bersosialisasi di Masa Kecil
Anak yang jarang berinteraksi dengan teman sebaya—karena terlalu dilindungi, berpindah-pindah, atau isolasi sosial—kehilangan kesempatan belajar keterampilan sosial.
Di masa dewasa:
Canggung dalam interaksi sosial
Tidak tahu cara membangun kedekatan secara bertahap
Sulit membaca dinamika hubungan
Persahabatan bukan hanya soal niat, tetapi juga keterampilan yang dipelajari sejak dini.
Penutup: Apakah Semua Ini Tidak Bisa Diubah?
Kabar baiknya, pola-pola ini bukanlah sesuatu yang permanen. Psikologi modern menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan neuroplasticity—kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sepanjang hidup.
Beberapa langkah yang dapat membantu:
Meningkatkan kesadaran diri (self-awareness)
Mengikuti terapi atau konseling
Belajar keterampilan komunikasi emosional
Membangun hubungan secara perlahan dan konsisten
