
Ilustrasi child grooming. (Freepik)
JawaPos.com - Praktik Child Grooming tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial, setelah aktris Aurelie Moeremans, membagikan kisah pahitnya dalam memoar berjudul "Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah".
Memoar tersebut membuka diskusi luas tentang praktik child grooming, bentuk kekerasan seksual yang kerap terjadi pada anak dan remaja. Lantas bagaimana mencegah dan mengenali tanda-tanda child grooming.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan menilai praktek child grooming tak bisa lepas dari perilaku pelaku dalam memanipulasi korban. Oleh karena itu, penting untuk memahami tahapannya.
Menurut Grooming Mode (SGM) yang dicetuskan peneliti bernama Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic, pelaku child grooming memulai aksinya dengan memilih korban yang memiliki karakteristik tertentu.
“Pelaku akan memilih individu yang rentan dan lemah secara psikologis. Misalnya, penurut, kurang perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, dan kesepian,” ucap Yuan, Minggu (18/1).
Pelaku mulai mendapatkan akses dan menjauhkan korban dari lingkungannya lewat interaksi intens. Tahap ketiga, korban dibujuk untuk mempercayai pelaku melalui sikap dan perlakuan yang terlihat sangat baik.
Setelah pelaku merasa memegang kendali atas korban, ia mulai membiasakan korban dengan konten seksual dan kontak fisik, hingga korban merasa paparan kekerasan seksual adalah hal yang wajar dan normal.
"Tahap akhir, pelaku child grooming melakukan pemeliharaan hubungan setelah terjadinya kekerasan seksual melalui pembungkaman, baik dengan pemberian kompensasi, maupun ancaman," imbuhnya.
Dosen yang fokus meneliti tumbuh kembang dan adverse childhood experience ini menambahkan,
Tahapan-tahapan ini membuat hubungan manipulatif bertahan lama. Korban sulit lepas karena tergantung penuh, sementara pelaku sering menanamkan rasa bersalah melalui komunikasi yang manipulatif.
“Akhirnya, korban mengalami kebingungan dan merasa tidak berhak untuk mempertanyakan atau mengkritisi pengalaman buruk yang ia terima. Korban mengalami keraguan, lebih jauh merasa tidak benar, namun tidak mampu melakukan apa-apa,” beber Yuan.
Dalam kesempatan yang sama, dosen Psikologi yang meneliti tumbuh kembang dan adverse childhood experience ini membagikan beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan.
Orang tua bisa mencegahnya dengan mengajarkan anak mengenai bagian tubuh yang bersifat privat, serta membangun komunikasi yang terbuka dan penuh empati agar anak merasa aman berbagi.
“Hal yang perlu ditekankan adalah kita perlu lebih peduli dengan sekitar. Kita harus lebih bersedia untuk menelisik lebih dalam jika dirasa ada interaksi yang mencurigakan antara anak atau remaja dengan orang dewasa," tukas Yuan. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022