
Ilustrasi ayah dan anak laki-laki. (Freepik)
JawaPos.com - Banyak orang tua ingin anak laki-lakinya tumbuh kuat. Sayangnya, definisi “kuat” sering disempitkan menjadi tidak boleh menangis, harus selalu tegar, dan dilarang menunjukkan emosi.
Tanpa disadari, pola asuh seperti ini justru membuat banyak anak laki-laki tumbuh dengan emosi terpendam dan kesulitan memahami dirinya sendiri.
Padahal, anak laki-laki sebenarnya tidak perlu “dikeraskan”, tetapi dibantu untuk terhubung dengan emosinya secara sehat.
Budaya lama yang menganggap ekspresi emosi sebagai kelemahan telah membuat banyak pria dewasa kesulitan membangun hubungan, mengenali perasaan, bahkan mencintai diri sendiri.
Kabar baiknya, memutus siklus ini bisa dimulai kapan saja. Terlepas dari usia anak, ada kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan orang tua sehingga anak laki-laki tumbuh merasa aman, dicintai, dan diterima apa adanya.
Inilah 7 pola asuh yang diam-diam membentuk laki-laki yang aman, percaya diri, dan beremosional yang sehat seperti dirangkum dari laman Your Tango.
Anak laki-laki tidak membutuhkan orang tua yang selalu ingin menang atau memaksakan aturan. Mereka butuh orang tua yang mau bertanya dan benar-benar mendengarkan.
Ketika kamu menghadapi perilaku atau pendapat anak yang berbeda, cobalah menggeser posisi dari “mengoreksi” menjadi “ingin tahu”.
Alih-alih langsung menilai, kamu bisa mengajukan pertanyaan terbuka dengan nada netral. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai, bukan diinterogasi.
Anak-anak sangat peka. Mereka tahu kapan kamu tulus ingin memahami, dan kapan kamu hanya ingin mengendalikan.
Marah adalah emosi yang pasti muncul, dan anak laki-laki sering kali hanya diajarkan cara menahannya atau meluapkannya.
Orang tua yang sehat secara emosional justru membantu anak memahami apa yang sebenarnya terjadi saat marah.
Kamu bisa mengajak anak membahas konflik lewat contoh di film, acara TV, atau kejadian sehari-hari.
Mengklasifikasikan konflik, apakah itu sekadar perbedaan pendapat atau sudah menjadi pertengkaran, membantu anak belajar refleksi. Dengan begitu, anak tidak hanya bereaksi, tapi juga belajar merespons dengan lebih sadar.
Rasa malu sering muncul dalam bentuk kalimat seperti “masa cowok nangis” atau “laki-laki harus kuat”.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
