Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 06.46 WIB

8 Perilaku Orang Tua yang Menjadi Sinyal Cinta Mereka pada Anak Belum Sepenuhnya Tanpa Syarat

Ilustrasi anak yang merasa tidak sepenuhnya diterima atau dicintai apa adanya oleh orang tuanya. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak yang merasa tidak sepenuhnya diterima atau dicintai apa adanya oleh orang tuanya. (Freepik)

JawaPos.com - Setiap orang tua tentu berharap bisa membesarkan anak-anak mereka dengan limpahan cinta dan dukungan penuh. Namun, terkadang ada pola pengasuhan tertentu yang tanpa disadari justru membuat anak merasa kasih sayang itu datang dengan banyak persyaratan.

Dalam situasi seperti ini, anak mungkin tumbuh dengan perasaan bahwa ia hanya layak dicintai jika mampu memenuhi harapan tertentu atau mencapai sesuatu yang dianggap membanggakan. Akibatnya, mereka bisa merasa bahwa nilai diri mereka sepenuhnya bergantung pada pengakuan atau validasi dari orang lain, bukan dari rasa percaya diri yang sehat.

Dilansir dari Geediting.com pada Selasa (22/4), berikut ini adalah delapan perilaku orang tua yang bisa menjadi sinyal bahwa cinta yang diberikan pada anak mungkin belum sepenuhnya tanpa syarat.

1. Memuji Anak Secara Bersyarat

Orang tua sering kali hanya memberikan pujian atau kasih sayang saat anak mencapai sesuatu atau berperilaku sesuai keinginan mereka. Hal ini membuat anak berpikir bahwa nilai diri mereka terikat erat dengan hasil yang mereka peroleh atau ekspektasi yang berhasil dipenuhi.

2. Menahan Kehangatan Emosional Saat Konflik

Saat terjadi perbedaan pendapat atau konflik kecil, orang tua menarik diri secara emosional dan menjadi dingin. Suasana ini bisa menanamkan rasa cemas pada anak setiap kali mereka menghadapi ketidaksetujuan atau mencoba menyampaikan perasaannya yang berbeda.

3. Terus Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Perilaku sering membandingkan anak dengan saudara kandung, teman, atau anak-anak lain sangat merusak kepercayaan diri mereka. Anak jadi merasa dirinya tidak pernah cukup baik apa adanya dan terus-menerus merasa kurang dibanding standar yang ditetapkan.

4. Mengontrol Berlebihan Atas Nama Perlindungan

Mengelola setiap aspek kehidupan anak dengan alasan melindungi ternyata bisa menghambat perkembangannya secara signifikan. Kontrol ketat seperti ini menumbuhkan keraguan diri dan membuat anak sulit mengembangkan kemandirian mengambil keputusan.

5. Mengabaikan Perasaan Anak yang Dianggap Drama

Orang tua kerap meremehkan atau menolak validasi emosi anak, menganggapnya berlebihan atau sekadar mencari perhatian negatif. Kebiasaan ini memaksa anak untuk menekan perasaannya sendiri karena merasa tidak aman atau tidak didengar saat menunjukkan kerentanan emosional mereka.

6. Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Pengajaran

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore